|
Ditulis oleh Puthut EA
|
|
Sabtu, 21 Februari 2009 14:31 |
|
S edianya, tulisan ini akan menjadi semacam pengantar pada buku kecil yang telah kelar ditulis oleh sahabat saya, Nurhady Sirimorok, yang jika tidak ada aral akan diterbitkan oleh Penerbit Insist Press di bulan ini dengan judul Laskar Pemimpi. Tetapi atas beberapa alasan, saya membatalkan pemuatan tulisan ini di buku tersebut.
Alasan saya sederhana belaka. Pertama, saya merasa bahwa tanpa tulisan ini, buku hasil karya Ady, begitu biasa saya panggil si penulis, lebih bisa hadir secara mandiri. Tulisan yang baik, menurut hemat saya, tidak perlu dikukuhkan oleh tulisan yang lain. Bahkan pada banyak hal, tulisan pengantar malah bisa menghambat dan mereduksi substansi yang ingin ditatahkan oleh si penulis.
|
|
Terakhir Diperbaharui pada Sabtu, 21 Februari 2009 14:56 |
|
Selengkapnya...
|
|
|
Mansour Fakih: A Book That Will Always Be Open |
|
Ditulis oleh Puthut EA
|
|
Sabtu, 21 Februari 2009 03:07 |
Obituary for A Friend
"It’s hard for me to accept the teaching that life always gives the best fate to each person. As far as I know, life always takes our best friends and comrades, one by one! But life always teaches me to put my faith in the fact that he will replace our best friends who have gone with new young people who have the attitude and high dedication needed to work for humanitary." (Bethesda, 8/02/2004, midday)
P ieter Elmas, a social movement activist in Southeast Maluku, had just returned home from taking his children to school. Not knowing why, he suddenly fell asleep and began to dream. In the dream, he was lying in the same room as Mansour Fakih, who was trying to convince him that he had been healed from his sickness. Piet didn’t believe it. But Mansour showed him his back and said, "Look, my back is covered in hives. That’s a sign that the sickness has already left my body." Piet saw that there were many hives on Mansour’s back. Before he had a chance to think more about it, a woman suddenly came and closed the door of their bedroom. |
|
Terakhir Diperbaharui pada Sabtu, 21 Februari 2009 14:16 |
|
Selengkapnya...
|
|
Ditulis oleh Puthut EA
|
|
Jumat, 20 Februari 2009 14:49 |
|
S ore ini, Dodo Hartoko datang ke rumah kontrakan saya. Seperti biasa, ia tidak mencopot sepatu, langsung masuk, mengeluarkan cerocosan suaranya yang kadang kala saya rindukan, tetapi juga sering membuat saya pusing. Tentu saya tidak pernah keberatan jika ia tidak mencopot sepatunya, karena lantai di rumah saya justru akan mengotori kaki siapapun yang berani bertanjang menapakinya. Juga karena saya tahu persis, Dodo senang dengan sepatu, cenderung gila sepatu. |
|
Terakhir Diperbaharui pada Sabtu, 21 Februari 2009 03:06 |
|
Selengkapnya...
|
|
Ditulis oleh Puthut EA
|
|
Selasa, 30 Desember 2008 12:11 |
|
J ika ada di antara Anda yang masih bermimpi menjadi legenda, nampaknya Anda harus memikir dan menimbang ulang. Dunia sekarang ini, sudah tidak butuh lagi, lebih tepatnya tidak memungkinkan lagi muncul sosok legenda. Jadi, daripada Anda sakit jiwa karena mimpi Anda tidak tercapai, lebih baik mulai sekarang mengganti mimpi Anda dengan mimpi yang lain, yang lebih masuk akal.
|
|
Terakhir Diperbaharui pada Kamis, 01 Januari 2009 12:18 |
|
Selengkapnya...
|
|
Ditulis oleh Puthut EA
|
|
Kamis, 25 Desember 2008 12:24 |
|
S aya belum bisa memberi kesimpulan tentang guyon-waton ini. Konon orang Yogya ramah tapi pendendam. Hal tersebut bisa dilihat dari bentuk blangkon khas Yogya yang mbendhol mburi. Alasan saya untuk tidak mempercayai itu adalah karena saya sendiri merasa bahwa saya pun pendendam, padahal saya bukan asli Yogya. Dan saya banyak mendapati beberapa teman saya yang pendendam pun bukan berasal dari Yogya. Sementara, satu dua teman saya yang dari Yogya justru termasuk bukan pendendam. |
|
Terakhir Diperbaharui pada Kamis, 12 Februari 2009 14:48 |
|
Selengkapnya...
|
|
Ditulis oleh Puthut EA
|
|
Kamis, 25 Desember 2008 12:16 |
|
U ntuk membunuh waktu, di sebuah kota yang asing, saya menonton sebuah film yang akhir-akhir ini sangat sering diperbincangkan orang: Babel. Awalnya, jelas karena saya ingin sekali menonton wajah seksi salah satu aktornya, Brad Pitt. Tapi film itu memberi lebih dari sekadar kepiawaian dan keseksian aktor tersebut. |
|
Terakhir Diperbaharui pada Selasa, 30 Desember 2008 12:11 |
|
Selengkapnya...
|
|
|
|
|
<< Mulai < Sebelumnya 1 2 3 Selanjutnya > Akhir >>
|
|
JPAGE_CURRENT_OF_TOTAL |