Dari Pagi yang Tenang, Menuju Malam yang Bergolak

Sebuah catatan perjalanan dari studio satu ke studio yang lain

Salah satu berkah bagi seseorang yang sedang mencoba menulis proses kreatif para perupa, seperti yang sedang saya lakoni, adalah bisa mendatangi studio, tempat mematerialkan gagasan menjadi kerja. Selalu ada rentang yang cukup panjang, dan tentu saja tidak gampang, dari gagasan menjadi karya. Dan studio menjadi semacam laboratorium sekaligus bengkel kerja, di mana gagasan yang abstrak, dimaterialkan. Di sana, di studio, sebuah proses yang tegang dan pernik petanda, bisa ditilik dengan baik, sekalipun kerja belum rampung, dan benda seni belum usai disentuh. 

Sebuah perjalanan, juga mempunyai kompleksitasnya sendiri. Perjalanan, bisa saja dilakukan secara fisik, tetapi juga bisa dilakukan dengan psikologis. Tamasya ke kota, merupakan contoh perjalanan fisik, dan membaca buku atau karya seni merupakan perjalanan imajinasi. Tetapi keduanya pun bisa baur. Dalam perjalanan fisik, misalnya, potensi melakukan perjalanan imajinasi pun bisa melenggang. Sehingga dua jenis ‘perjalanan’ bisa ditempuh secara bersamaan. Perjalanan fisik memandu perjalanan imajinasi, dan perjalanan imajanasi, dengan kekayaan potensinya, bisa pula membentuk narasi yang menautkan satu dan lain hal, dalam sebuah komposisi imajener.

Perjalanan yang saya lakukan kali ini adalah perjalanan fisik, mendatangi satu per satu studio para perupa yang hendak melakukan pameran bersama di Biasa Art Space, Bali.



Saya datang ke studio Yon Indra (37) tepat pukul 10.30 pagi, dipandu oleh kolega saya, Dodo Hartoko. Di depan studio Yon, sawah menghijau. Sebuah parit kecil mengalir lancar, dengan airnya yang bening. Begitu memasuki studionya yang sederhana, terihat benda-benda seni sedang diproses. Beberapa sudah hampir jadi, beberapa masih perlu proses yang agak panjang.

Selayaknya benda seni, yang pertama kali harus berhadapan dengan hal itu adalah sepasang mata saya. Sebuah tamasya visual adalah gerbang utama yang harus dilewati ketika seseorang berusaha menikmati benda seni.

Benda-benda yang sedang diproses, di mata saya, adalah sederet benda yang resik dan rapi. Sepasang mata saya dimanjakan oleh ketrampilan tangan yang ingin menghindar sejauh mungkin dari kekacauan, kekotoran dan ketidaktertiban. Yon sendiri, sebagai si perupa, tampil dengan gaya yang hampir sama dengan sentuhan tangannya atas benda-benda. Ia tampil necis, bertutur dengan gaya bahasa yang jernih. Mungkin kita bisa membuat kesimpulan yang belum tentu adekuat: lihatlah senimannya, maka kamu bisa menduga karyanya, atau lihatlah karyanya maka kamu bisa menduga seperti apa si senimannya. Sebuah karya memang bisa sangat subversif terhadap sesuatu, tetapi karya tersebut tidak mungkin bisa berlari jauh dari tangan orang yang menyentuhnya.

Yon masuk Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta pada tahun 1992. Empat tahun belakangan ini, tepatnya semenjak tahun 2004, ada yang mengganggu pikirannya. Patung, menurut pemahaman konvensional dalah karya trimatra yang terkena hukum harus bervolume dan bisa diraba. Yon ingin mencoba menggusur pemahaman konvensional seperti itu, sebab volume atau ruang, bisa dikreasikan dari permainan optik, dan perabaan atas patung bisa disingkirkan.

Pemikirannya itu kemudian mulai mendapatkan kuncinya saat ia membaca buku desain dwimatra yang hitam-putih, di mana di dalam desain itu, sebuah ruang ilusi bisa dibangun. Artinya, bentuknya memang dwimatra tetapi bisa membentuk visual trimatra. Hanya saja, Yon masih perlu mengeksplorasi lebih jauh lagi. Ia ingin, bentuknya tetap ‘seakan-akan’ dwimatra, tetapi sesungguhnya yang ada di dalam bentuk itu adalah karya trimatra. Ia mangatakan, “Jadi aku ingin bidangnya tetap datar, tetapi di dalam bidang datar itu ada ruang realitas.” Pendek kata, ia ingin ‘membungkus’ karya trimatra di dalam karya dwimatra.

Ia lalu memulai dengan proses yang cukup panjang untuk merealisasikan gagasannya. Pertama, ia mencoba mengekplorasi dan benar-benar mengenali dasar-dasar dalam desain dwimatra yang bisa menciptakan kesan optis seakan-akan di sana tercipta ruang. Gambar hitam-putih, permainan garis seperti garis patah-patah, garis teratur serta lingkaran teratur dicobanya termasuk segi tiga dan segi empat sebagai desain elementer agar kesan optis terciptanya ruang semu di dalam karya trimatra, disuntukinya sampai pada batas-batas kemungkinan terjauh. Di dalam mengeksplorasi hal itu, betapa kaya ruang semu yang dihasilkan dari permainan elemen-elemen tersebut. Bahkan, bisa tercipta sensasi seperti gerak, misalnya di dalam eksplorasinya tentang lingkaran-lingkaran, di mana sensasi optis yang bisa didapatkan dari sana seakan-akan lingkaran itu seperti dapat bergerak dari luar ke dalam, atau sebaliknya.

Setelah dirasa cukup eksplorasinya di tahap itu, Yon kemudian berusaha untuk menemukan cara agar di dalam karyanya, ruang dan trimatra bukan sekadar ilusi optis belaka, melainkan memang ada secara riil. Maka, ia kemudian membuat layer-layer atau lapis-lapis di dalam karyanya, dan antar-layer dibuat dengan jarak tertentu. Dari hal itu, terbentuklah ruang yang sesungguhnya.

Setelah cukup berkonsentrasi dengan persoalan layer, kemudian Yon mencoba mengakrabi bahan. Awalnya, ia mencoba dengan bahan kaca. Ketika bermain-main dengan kaca, saat itu karya-karyanya memang dipajang di tengah ruangan. Namun kemudian ia berpikir, sesuai dengan konsep ‘karya trimatra yang dibungkus oleh dwimatra’ sebaiknya karyanya dipajang di dinding. Yon memberikan argumen soal itu, “Aku pengen, selama ini karya trimatra kan dipajang di tengah ruangan. Tetapi aku ingin dipajang di dinding, sehingga kesannya bisa seperti lukisan. Tetapi sebetulnya ya tetap bukan lukisan, sebab itu karya trimatra yang dikemas dalam bentuk dwimatra dan ditempel di dinding. Aku menyebutnya sebagai karya seni rupa saja…” Dan akhirnya ia memutuskan, dengan berbagai pertimbangan, memakai bahan dari flexyglass dan fiberglass.

Untuk bentuk di dalam karya-karyanya yang akan dipamerkan di Biasa Art Space, Bali, Yon banyak mengeksplorasi garis. “Garis adalah dasar bagi seni rupa,” tutur Yon, “dan garis bisa diolah menjadi apapun. Garis bisa menjadi teratur atau ekspresif, tergantung keinginan kita.” lanjutnya.

Tetapi Yon lebih memilih untuk berkutat kepada garis yang teratur. Untuk kali ini, ia mempunyai alasan yang cukup menarik, “Sebab sudah banyak seniman yang menggunakan garis liar, garis emosional. Maka aku memilih garis yang teratur. Lagi pula, permainan garis yang teratur itulah yang bisa meakili konsepku, yakni dengan menciptakan ruang-ruang ilusi.”

Tampaknya, keteraturan dan kejernihan, menjadi kunci dari karya-karya Yon kali ini. Dan memang, sebagai seorang perupa, ia menyukai kehidupan yang teratur. “Dengan keteraturan, pikiran dan hati akan menjadi tenang.” ungkapnya.

Dalam kehidupan sehari-hari, Yon pun terkenal sebagai seorang perupa yang hidup dalam keteraturan. “Pada saat jam makan, walaupun aku masih sibuk bekerja, aku akan menghentikan sejenak kerjaku, lalu aku akan makan.” Kemudian ia melanjutkan, “Dan aku ingin, mereka yang menikmati karya-karyaku pun akan mendapatkan ketenangan. Sebab karya-karyaku bukan karya yang membingungkan dan liar. Tetapi ketenangan itu bukan berarti tidak ada permainan di sana. Aku harap, mereka bisa menikmati permainan sensasi optis, tetapi dengan rasa yang tenang.”

Keteraturan, tampaknya sudah menjadi laku perupa satu ini. Ia mengaku, hal itu didapatkannya dari kecil. Orangtua Yon adalah pedagang di pasar, sehingga harus bangun pagi-pagi untuk bekerja. Kalau terlambat bangun, bisa tidak bekerja dan tidak mendapatkan uang. Selain itu, kehidupan religius keluarga juga ditanamkan kepada Yon, dan Islam sebagai agamanya, memang mempunyai formulasi keteraturan, ada saat untuk salat lima kali dalam sehari, dan semua itu ada waktu khususnya. “Agamaku menggajarkan kalau segala sesuatu itu dilakukan dengan teratur akan mendapatkan hasil yang maksimal.” begitu pengakuan Yon.

Keteraturan itu pulalah yang mungkin dijejaki Yon dengan tenang, saat ia berusaha mengeksplorasi bentuk trimatra. “Dulu, aku pakai batu dan kayu. Tetapi selalu gagal. Aku mencoba mencari dan mempraktikkan beberapa media yang lain. Hingga kemudian menemukan media ini.”

Ketika ditanya, kenapa di dalam membuat sensasi ruang tidak menggunakan juga warna-warna yang berbeda, Yon menjawab dengan serius, bukti kalau semua hal yang dikerjakannya betul-betul dipertimbangkan dengan matang, “Tidak semua warna bagus di bahan flexyglass. Lagi pula, sensasi ruang yang dibuat dengan garis dan layer, sudah cukup. Kalau ditambah dengan berbagai warna, maka akan mubazir…”

Sebelum saya meninggalkan ruangan studionya, Yon kembali menegaskan konsep berkaryanya saat ini, “Semua karya trimatra bisa disebut patung. Karena hadir dalam ruang nyata. Tetapi menurutku, tidak semua karya trimata bisa disebut patung. Sebab, ya seperti dalam karya-karyaku ini, di dalam karya dwimatra terdapat karya trimatra, dan itu tidak bisa disebut patung.”

Saya akhirnya meninggalkan studio Yon, dengan terlebih dulu mendapatkan jabatan erat dan senyum yang hangat. Matahari mulai tepat di atas kepala, ketika saya menuju ke studio Gusmen Heriadi.



Studio Gusmen kosong, begitu informasi yang saya dapatkan, sebelum saya sempat masuk studio tersebut.  Dodo segera menelepon Gusmen, selesai menutup telepon, Dodo segera mengajak saya untuk menuju tempat di mana Gusmen berada. Kami berdua segera ke sana.

Tiba di sebuah rumah dengan latar yang jembar, pandangan saya langsung tertegun ke arah potongan kaki dan tangan dalam ukuran raksasa. Beberapa orang sedang mengelilingi karya-karya itu, seperti sedang berbincang serius.

Setelah berbasa-basi sejenak, Gusmen (34) lalu menerangkan, ada hal yang harus disentuh lagi, sebelum karya-karya itu siap dipajang.

“Ide karya ini sebetulnya biasa saja, ingin membuat bagian tubuh tertentu manusia dalam ukuran yang besar.” Gusmen mencoba menjelaskan perihal karya-karyanya yang akan dipamerkan. “Hanya saja,” tutur Gusmen yang juga tampil rapi dengan topi menutup kepalanya, “aku ingin menaruh karya itu di dinding, sehingga kesannya, seperti ada orang di belakang dinding itu, dan orang-orang hanya membayangkan seperti apa dan sebesar apa orang tersebut.”

Gusmen tampaknya punya obsesi terhadap bagian-bagian tubuh manusia. Saat ia ditanya mengapa bagian kaki dan tangan, ia menjawab bahwa baru kedua hal itu yang sedang dieksplorasinya. Kelak, akan ada bagian-bagian tubuh manusia lain yang ingin dieksplorasi lebih lanjut. Di dalam lukisan-lukisannya, Gusmen sering melukis bagian tubuh manusia yang tidak utuh, dan bagian yang lain disembunyikan. Misalnya ada bagian kaki di air, dan bagian tubuh yang lain ‘tersembunyi’ di dalam air.

Hanya saja, tetap menarik untuk bertanya, mengapa pilihan pertamanya ada pada kaki dan tangan? Lalu Gusmen membari jawaban yang sepertinya sudah direnungkannya sejak lama, “Kaki dan tangan adalah simbol bagi pekerjaan. Otak memang penting, tetapi pada akhirnya, yang mengeksekusi kerja adalah kaki dan tangan.”

Lalu soal konsep, ada ‘sesuatu’ atau ‘bagian tubuh’ tertentu yang disembunyikan, Gusmen menerangkan bahwa semua itu seperti misteri, mirip teka-teki. “Lagi pula, kalau ditampakkan semuanya, itu sudah biasa juga,” tutur laki-laki yang masuk ISI jurusan seni lukis pada tahun 1995 itu dengan nada tenang.

Karya trimatra dengan bentuk kaki dan tangan yang berukuran raksasa itu terbuat dari fiberglass, dengan warna putih mengkilap. Di pikiran Gusmen, akan sangat menarik jika tangan dan kaki berukuran raksasa dengan warna putih mengkilap itu, ditempel di dinding yang juga berwarna putih. “Akan sangat artistik,” katanya.

Perbincangan kemudian kami lanjutkan ke studio Gusmen. Lagi-lagi, ketika saya masuk studio tersebut, saya mendapati tempat yang resik dan rapi.

Berkarya, bagi Gusmen, pertama-tama adalah untuk kepuasan pribadi. Bukan untuk membuat sensasi, dan ia memang tidak tertarik dengan hal-hal yang sensional. Dan berkarya, baginya, tidak melulu harus didorong oleh ide-ide yang luar biasa, tetapi cukup dengan keinginan. “Kalau aku melihat ada gelas dan kemudian merasa tertarik melukis gelas, ya aku akan melukisnya.” tandas Gusmen. Hanya saja menurutnya, semua harus dikerjakan dengan tingkat keseriusan yang tinggi, “Karena aku termasuk jenis orang yang perfeksionis di dalam berkarya.”


Gusmen juga mengakui, masa lalunya, tempaan kultur Minang dan keluarganya, sangat erat kaitannya dalam menjalani laku berkarya. “Sampai sekarang, sekalipun aku banyak mengeksplorasi bagian tubuh manusia, tetapi aku tidak bisa melukis tubuh yang telanjang dengan bagian kemaluannya yang terlihat.”

Sebetulnya, Gusmen sehari-harinya lebih banyak bergelut dalam dunia lukisan, ia memang seorang pelukis. Ia mengaku, berkarya trimatra semata-mata karena ia ingin menghilangkan kemonotonan dalam proses berkarya dwimatra. Dan karya yang sedang digarapnya ini merupakan karya pertamanya dalam bentuk trimatra. Namun, Gusmen mengaku ia sama sekali tidak grogi. Sebab bagi dia, justru setiap kali ada yang pertama, pasti ada yang kedua dan seterusnya. “Ya rileks saja,” ungkapnya, “kenapa harus tegang? Ini kan baru coba-coba.”

Lalu Gusmen kembali menegaskan semacam spirit berkreasinya, yakni asal semua dikerjakan dengan serius pasti hasilnya bagus. “Itu aku yakini betul sebab menurut Nabi Muhammad, segala sesuatu harus dikerjakan dengan sungguh-sungguh dan profesional, maka rezeki itu pasti akan ada. Dan Tuhan pasti tidak akan menyia-nyiakan orang seperti itu, karena Tuhan menyukai orang-orang yang seperti itu.”

Saya merasa beruntung, di seharian itu bertemu dengan dua jenis orang perupa yang tenang dan yakin dengan kemampuan mereka. Terlebih dengan dukungan keyakinan yang didapat dari internalisasi nilai-nilai yang mereka yakini, entah dari keluarga, lingkungan sosial, maupun dari agama.

Seniman memang tidak tunggal. Masing-masing orang punya proses, pengalaman personal, dan filosofi di dalam berkarya. Justru hal semacam itu yang selalu membuat dunia seni tumbuh penuh warna.

Hari beranjak sore. Saya dan Dodo menuju ke studio Zulkarnaini, lebih tepatnya di sanggar Sakato, tempat Zulkarnaini mempersiapkan karyanya untuk pameran kali ini.



Ketika kami sampai di Sanggar Sakato, mendung mulai menutup sore. Bagian dalam sanggar tersebut nampak temaram. Zulkarnaini sedang keluar sebentar, begitu informasi yang saya dapat dari seorang pekerja yang berada di sana. Dan segera ia menyalakan lampu. Pandangan saya langsung terparkir pada kanvas-kanvas bertekstur dengan warna putih bersih. Dari Dodo, saya tahu, kanvas-kanvas berukuran besar, bertekstur dan berwarana putih itulah yang kelak akan dipamerkan oleh Zulkarnaini.

Sanggar Sakato, agak berbeda dengan dua studio yang saya kunjungi hari itu itu. Di sana-sini, tampak teronggok beberapa peralatan melukis. Cat-cat minyak terserak, dan kanvas serta spanraam yang tampaknya belum usai dikerjakan, tersandar di dinding. Suasana studio ini lebih tidak rapi di banding dua studio terdahulu.

Zulkarnaini datang, dan dengan pembawaannya yang kalem, pria berusia 39 tahun itu segera mendedahkan perihal karya-karya yang hendak dipamerkannya. Zulkarnaini telah lama dikenal sebagai perupa yang banyak melukis tentang alam dan lanskap. “Kita hidup di alam, kita semua tidak bisa lepas dari alam, hutan, air dan segala macamnya.” tutur katanya datar, ringkas, tapi menohok pada inti persoalan yang menjadi tema bagi proses kreatifnya.

Tetapi perkataan Zulkarnaini yang tenang itu, membuat perasaan saya mengalami perjalanan ‘menanjak’ setelah sebelumnya menyusuri jalanan yang ‘landai’. Mungkin hal itu disebabkan karena suasana di dalam studio yang tampak sebagaimana studio yang saya akrabi selama ini, dan juga mungkin disebabkan oleh tema lukisan yang disorongkannya.

Zulkarnaini lalu menjajarkan lukisan-lukisan yang hendak dipamerkannya. Satu lukisan berjudul Rain Forest, dan satunya lagi berjudul River Forest. Kedua lukisan itu, hanya terdiri dari bidang-bidang serupa garis, bertekstur, dengan warna putih bersih dan juga kanvas yang dicat putih bersih.

“Sebetulnya, karya ini permainan simbolik,” ucap Zulkarnaini, yang masuk ISI pada tahun 1992 dengan mengambil jurusan seni lukis itu, “karena garis itu punya kaitan dengan alam. Dan garis sendiri menurut saya, seperti sebuah perjalaan. Jika garis-garis itu kita susun sedemikian rupa, kadang bisa membentuk lanskap, kadang bisa membentuk sesuatu atau mengibaratkan sesuatu.”

Dan potongan-potongan bidang kecil bertekstur yang tertata di tubuh kanvas itu ternyata adalah potongan-potongan karpet. Menurut Zulkarnaini, mengapa ia memilih karpet, karena selain dirasa pas dengan apa yang dimaksud di dalam pikirannya, karpet punya tekstur yang menarik, karakter bahan yang cukup lentur, serta kuat jika ditempel di kanvas. Ia mengaku, sejak tahun 2005, mulai mengakrabi bahan dari karpet untuk bahan berkarya. Tetapi kemudian ia mengimbuhkan jawaban perihal karpet, “Mungkin orang tidak menyangka, karpet adalah barang yang biasa saja, barang yang diinjak kaki, tetapi ternyata bisa dimanfaatkan lebih jauh lagi.”

Kedua karya tersebut merupakan tumpahan atas rasa risaunya kepada berbagai pengrusakan alam yang sekarang ini semakin sering terjadi. Hutan hujan, sungai hutan, adalah bagian dari tubuh alam, yang kini sudah semakin tidak diperhatikan lagi. Dan malah berbuah ironi. Sungai hutan mengalir dari mata air yang ada hutan hujan. Tetapi kemudian berubah fungsi, sungai hutan dijadikan alat transportasi untuk mengangkut gelondongan-gelondongan kayu yang ditebang semena-mena. Sungai hutan, dipaksa manusia untuk mengkhianati ‘ibu alam’-nya sendiri.

Menjawab persoalan kenapa ide soal keganasan pengrusakan alam oleh manusia yang begitu karut-marut, namun menghasilkan karya yang putih bersih dan sederhana, Zulkarnaini mengemukakan lasannya, “Kita sudah menghadapi berbagai persoalan yang rumit sekarang ini. Sehingga saya ingin berkarya dengan sederhana, namun kesederhanaan karya itu tetap punya arti.”

Ia juga menyadari bahwa ‘tidak ada sesuatu yang benar-benar baru’ di muka bumi ini. Dan bagi perupa sepertinya, tantangan utamanya adalah mencari bagian-bagian atau sub-sub bagian terkecil, yang masih mungkin dikerjakan dengan cara baru. Dan menurut pria yang lama menggeluti seni kaligrafi ini, ia menyatakan, “Nah, pada hal-hal yang sederhana, yang tidak terlalu rumit, sebetulnya masih banyak yang bisa dikerjakan.”

Ia juga mengataan bahwa untuk mendapatkan ide berkarya, tidak terlalu rumit. “Ide itu sering muncul saat saya sedang jalan-jalan, atau sedang melakukan aktivitas sehari-hari. Kadang supaya tidak lupa, saya membuat sketsanya dulu.”

Di luar, mendung semakin rapat. Kami berdua berpamitan kepada Zulkarnaini, yang di penghujung percakapannya sempat mengatakan kalau sebagai seorang perupa, ia tidak mempunyai obsesi yang aneh-aneh, “Sebatas yang wajar, yang normal, yang pantas saya kerjakan, itulah yang saya kerjakan.”

Begitu keluar menuju jalan beraspal yang agak besar, saya dan Dodo mencari tempat makan. Kami memutuskan untuk makan mi Jawa. Di lidah saya, mi yang saya santap senja itu terasa enak sekali. Mungkin karena sejak pagi, perut saya baru terisi beberapa potong kecil roti.

Perjalanan masih berlanjut ke seorang perupa lagi, namanya Saftari.



Ketika kami berdua sampai di rumah Saftari, gerimis turun, dan di saat bersamaan, azan magrib berkumandang. Rumah Saftari sepi. Bahkan lampu rumahnya tidak menyala. Akhirnya Dodo memutuskan agar kami berdua menuju ke studio Saftari.

Tepat ketika kami sampai di studio Saftari, hujan turun dengan lebat. Di dalam studionya yang besar, Saftari sedang duduk-duduk santai, berbincang dengan seorang tamu yang sepertinya datang dari jauh. Dodo segera terlibat perbincangan dengan Saftari dan si tamu, sementara saya lebih banyak mengedarkan pandangan ke sudut-sudut suangan studio Saftari yang luas itu. Kanvas-kanvas besar menempel di dinding, sebagian sudah dibungkus, sebagian sedang dalam proses pengerjaan. Studio kali ini lebih ‘amburadul’ dibandingkan tiga studio sebelumnya yang saya kunjungi. Saya merasa, kali ini, di penghujung perjalanan saya, saya mulai merasakan bahwa saat ini bukan hanya sedang menuju jalan yang semakin ‘menanjak’ tetapi juga penuh ‘kelokan’.

Ketika si tamu pamitan, barulah saya punya kesempatan untuk berbicang dengan Saftari. Dibanding Yon Indra, Gusmen Heriadi dan Zulkarnaini, Saftari secara penampilan, lebih terasa sebagai ‘perupa’. Rambutnya gondrong, dan pakaiannya cukup lusuh.

Tetapi bukan itu masalahnya, ketika ia menyodorkan salah satu karyanya yang hendak dipamerkan, sebuah kompor yang dipadukan dengan mesin ketik, seketika saya tercekat. ‘Benda ajaib’ itu dengan serta merta menjejali pikiran saya. Dan dengan tidak sabar, saya bertanya tentang konsep Saftari menyangkut karyanya itu.

Ia lalu menerangkan, “Idenya berawal dari kompor itu kan alat untuk memasak makanan. Sementara itu, mesin ketik itu juga alat untuk memasak ide sehingga menjadi tulisan.”

Dan yang unik, kompor cum mesin ketik berwarna merah itu ternyata bisa dinyalakan dan keluar apinya. “Sebetulnya aku pengennya mesin ketiknya juga berfungsi, tetapi secara teknis agak susah.” papar Saftari.

Selain karya trimatra itu, Saftari juga hendak memamerkan sederet karya trimatra lain berupa potongan-potongan mesin ketik, yang tertempel di dinding. Anehnya, tuts yang ada, hanya berupa tuts yang berisi huruf-huruf dengan namanya sendiri: S-A-F-T-A-R-I.

Sebagaimana Gusmen, Saftari sebelumnya berkecimpung mendalami lukisan. Dan untuk pameran kali ini, ia untuk pertama kalinya berkarya dalam trimatra.

Saftari bukan seorang penulis, tetapi ia mengakui bahwa ia tertarik dengan bentuk mesin ketik. Ketika ia sedang jalan-jalan di loakan, kalau bertemu dengan mesin ketik bekas, ia lantas membelinya. Walaupun saat itu, belum tahu hendak diapakan mesin-mesin ketik itu.

Sementara soal kompor, menurut Saftari, ia juga punya obsesi tentang api. Di sebuah  kanvas lukisannya yang besar, berceceran di sana batang-batang korek api. Hal itu, menurutnya masih ada hubungannya dengan tema lingkungan. Soal kayu yang ditebang dan dibuat batang korek api, lalu api yang membakar hutan, juga soal BBM yang melambung tinggi, termasuk kebijakan pemerintah yang acak-adut soal minyak tanah yang diganti dengan gas.

Saftari percaya, bila ia mempunyai ketertarikan terhadap suatu benda, lambat laun pasti benda itu akan segera bertemu dengan gagasannya, dan kemudian terciptalah sebuah karya. “Biasanya awalnya bendanya dulu, obyeknya dulu, baru kemudian muncul gagasanku untuk mengerjakan sesuatu. Dan akhirnya klop antara benda dan gagasan,” ungkap pria berusia 34 tahun yang masuk ISI jurusan seni lukis pada tahun 1995 itu.

Ia juga mengungkapkan, mungkin saat orang datang di pamerannya kelak, yang dilakukan secara bersama-sama dengan Yon Indra, Gusmen Heriadi dan Zulkarnaini, bagi orang-orang yang sudah memperhatikan karya-karyanya akan terbelalak, karena selama ini Saftari dikenal dengan hasil karya berupa lukisan.

Saftari mengaku, ia melakukan aktivitas berkesenian itu sebagai, “Ingin bersenang-senang dalam kesusahan.”

Pernyataan Saftari membuat saya bertanya maksud pernyataannya itu, sebab terkesan ‘agak aneh’. Kemudian Saftari menerangkan, “Kadang memang harus susah, kalau aku tidak susah, tidak sakit, aku enggak merasa bisa berkarya. Jika berkarya dalam keadaan senang, aku seperti tidak merasa mendapatkan apa-apa.”

Ia juga mengaku sebagai orang yang cukup sensitif, sehingga kadang-kadang merasa sakit hati kalau diremehkan orang, atau tidak dihargai. “Tetapi justru karena itu, aku jadi punya spirit untuk berkarya. Dan menjadikan hal itu sebagai kekuatanku.” tandasnya.

Termasuk bahkan, ia juga sengaja memelihara rasa iri kepada perupa lain. Maksudnya, rasa iri dalam hal berkarya. Sehingga ia kemudian berpikir, kalau orang lain bisa kenapa ia tidak?

Kembali Saftari menyatakan, “Aku juga harus menjaga sifat iri itu. Sebab kalau tidak, aku tidak bisa berjalan dan berkarya.”

Kali ini, benar apa yang saya rasakan dari awal. Di perjalanan puncak ini, saya menemukan tanjakan sekaligus kelokan. Sebuah perjalanan yang menyenangkan. Dari pagi yang tenang, menuju malam yang bergolak.

Saya dan Dodo pamitan kepada Saftari karena hari telah malam. Hujan masih turun, tetapi kami berdua tidak begitu peduli dengan hujan. Di pikiran saya, selama di dalam perjalanan, jejeran benda-benda yang bersih dan rapi: kotak-kotak pembungkus karya trimatra-nya Yon Indra; bagian-bagian tubuh manusia yang besar, putih dan mengkilap karya Gusmen; kanvas-kanvas besar bertekstur dengan warna putih bersih yang disentuh oleh Zulkarnaini; juga potongan-potongan mesik ketik serta paduan antara mesin ketik dan kompor berwarna merah hasil kreasi Saftari, begitu susah dihilangkan.

Dalam hujan, saya membayangkan, bagaimana kelak jika karya-karya itu dipajang bersama? Saya mulai ingin menduga, apa yang akan dipikir oleh para pengunjung pameran itu. Tiba-tiba saya ingin sekali berada di sana, tetapi kemudian saya berpikir, saya lebih beruntung di banding mereka. Saya telah mengalami perjalanan yang menyenangkan, dengan tamasya visual yang mencengangkan, dan tentu saja, karena saya kemudian bisa bertanya ihwal seputar karya-karya yang hendak disajikan oleh empat perupa itu dalam sebuah pameran bersama.

Dan karena saya baik hati, saya bagikan pengalaman saya kepada mereka yang nanti mengunjungi pameran tersebut.

17 April 2008
(Puthut EA)
 

Comments

Post new comment

The content of this field is kept private and will not be shown publicly.