Narasi Garis: Bukan Catatan Kuratorial

Suatu saat, AT Sitompul, seorang perupa yang sejak tahun 2000 mulai menekuni dunia grafis, bertemu dengan seorang pengamat senirupa muda asal Yogyakarta, Mikke Susanto. Pada pertemuan yang seingat Tompul terjadi pada tahun 2006 itu, Mikke berpesan agar Tompul membuat sebuah kelompok yang terdiri atas para perupa yang mengeksplorasi garis sebagai elemen karya. Semenjak saat itu, Tompul ‘membuka mata lebar-lebar’, memperhatikan karya-karya yang bertebaran di berbagai ruang pameran, dan membolak-balik bertumpuk-tumpuk buku katalog pameran, untuk menemukan ‘teman sepermainan’. 

Dalam pencariannya, laki-laki kelahiran Pematang Siantar pada tahun 1977 itu, mendapatkan celah, saat salah seorang kawannya merekomendasikan sebuah nama: Askanadi. Begitu melihat karya-karya Askanadi, Tompul merasa telah menemukan seorang teman sepermainan.

Askanadi memang sudah cukup lama terobsesi akan garis. Bagi pria kelahiran Palembang 29 tahun silam tersebut, garis sudah memikatnya, bukan melulu karena persoalan estetis melainkan juga pada taraf spiritual. “Kesederhanaan garis, hitam-putih, positif-negatif, memberikan kesan spiritual secara simbolis,” begitu ungkapnya, dengan suara bariton tetapi kalimat-kalimat itu diungkapkan dengan tenang, dalam intonasi dan ritme yang terjaga.

Tompul dan Askanadi kemudian berhasil pula bertemu dengan dua perupa yang lain, yang juga terpikat akan kedalaman elemen lukis berupa garis yakni Antoni dan Valasara. Tompul mengungkapkan soal perihal dua kolega teranyar mereka saat itu, “Antoni kaya dengan garis dan warna, sedangkan Valasara kuat di warna monokrom serta berani berkarya dengan media campuran.”

Dengan jumlah empat orang, embrio sebuah kelompok itu tampaknya masih merasa kurang. “Belum ada yang di antara kami yang serius menekuni dunia tiga dimensi,” ujar Tompul, “Tapi akhirnya kami bertemu dengan Yon Indra. Karya tiga dimensi Yon Indra, pasti membuat kelompok ini kaya oleh ragam karya.”

Antoni lahir di Padang pada tahun 1980, dan Valasara lahir di Sukowati, Bali, pada tahun 1983. Sedangkan Yon Indra kelahiran Lintau, Sumatra Barat, 37 tahun yang lalu.

Dengan jumlah anggota sebanyak lima orang, kelompok yang belum punya nama itu kemudian rajin bertemu, mengudar dan saling mempertajam gagasan mereka tentang kelompok tersebut. Di antara sejumlah hal yang sering mereka bicarakan saat itu, tentu saja ada satu hal yang cukup penting untuk segera mereka temukan: nama kelompok. Lalu mereka bersepakat untuk saling memberi waktu beberapa hari, untuk kemudian bertemu lagi dan memberikan usulan nama kelompok, disertai dengan alasan di balik nama yang disodorkan.

Kelak di kemudian hari, akhirnya kelompok itu berhasil menyepakati sebuah nama yakni ‘Sentak’. Nama itu, konon diusulkan oleh Tompul. “Aku waktu itu terinspirasi dengan nama kelompok Jendela. Satu kata, sederhana, mudah diingat, tetapi bisa memberikan definisi yang jelas.” begitu Tompul menjelaskan proses penemuan nama kelompoknya. Kemudian Tompul memberikan penjelasan lebih lanjut, “Lalu saat aku buang air besar, aku tersentak oleh kata: sentak. Menurutku sentak itu kata yang sederhana, dan mewakili keinginan kami untuk menyentak publik senirupa.”

Yon Indra menegaskan kalau kelompok ini boleh dibilang ‘komplet’ dalam banyak sisi. Kelima orang ini, seperti dipaparkan di atas, punya ragam bentuk karya, baik dua dimensi maupun tiga dimensi. Selain itu, keragaman mereka juga karena masing-masing anggota kelompok berasal dari etnik yang berbeda-beda, sekaligus menggilut agama yang tidak sama. Dan masing-masing orang, pernah serta masih bergabung dengan kelompok-kelompok lain yang berbeda.

Tidak lama setelah mereka berkumpul dan kemudian menemukan nama kelompok, pada bulan Juli tahun 2007, kelompok Sentak melakukan pameran kelompok untuk kali pertama, di Museum Affandi. Untuk pameran kali itu, mereka mengambil tema yang cukup menyentak, sesuai dengan nama kelompok itu, ‘Keteraturan adalah kebebasan’.

Mengenang pameran saat itu, mereka berlima ingin menegaskan bahwa garis-garis yang teratur juga merupakan kebebasan. Sesuatu yang teratur, bukanlah hal yang mengungkung dan memenjarakan. Eksekusi karya yang rapi, terukur, teratur, punya ritme, adalah anak sah dari jejak rasa yang diolah oleh si kreator.

Emosi, bukan hanya soal keliaran dan pemberontakan, yang kemudian hanya bisa dieksekusi dengan garis-garis ekspresif. Sikap tenang, reflektif, hati-hati, juga sesuatu yang berhubungan dengan emosi, kira-kira begitulah pendapat mereka.

Tampaknya, mereka berlima sudah bukan hanya menemukan ‘teman sepermainan’ yang menggeluti dengan intens garis, tetapi seakan telah menemukan ‘teman seiman’, bersama-sama menemukan kredo kreativitas, semacam lahan di mana bunga warna-warni yang mengeksplorasi garis dan keteraturan, bisa sama-sama tumbuh penuh warna. Saling memberi, saling memperkaya, sekaligus saling membebaskan.

***

Hanya berselang kira-kira 4 bulan setelah pameran di Museum Affandi, kelompok ini menggelar pameran lagi. Kali kedua, pameran kelompok itu diselenggarakan di Galeri Mon Décor, Jakarta, pada bulan November 2007, dengan tajuk: Sentak!

Kelima anggota Sentak mengaku kalau semakin lama hubungan di antara mereka semakin menujukkan dinamika yang menarik. Pertemuan dan diskusi semakin rajin digelar. Berbagai kemungkinan penjelajahan atas garis dan keteraturan semakin matang, namun sekaligus semakin terbuka. Ketika ditanya soal apakah ada kalanya ide-ide yang ada kemudian menyerupai satu sama lain, mereka berpendapat bahwa kemungkinan itu selalu ada. Meminjam kalimat Tompul, “Kami berjalan pada jalan yang hampir sama, tidak mustahil akan bertemu di kelokan yang sama pula.”

Tetapi tetap saja, karya yang ada saatnya ‘mirip’ itu, bukan berarti seragam. Tetapi itulah yang mungkin bisa dijelaskan sebagai ‘otentisitas’. Penjelasan sederhana soal otentisitas ini, mungkin mirip dengan pengalaman orang atas kepemilikan barang tertentu, anggaplah jam tangan. Si A punya jam tangan dan Si B punya. Mungkin saja, jam tangan Si A satu merek dengan jam tangan Si B. Mungkin juga, jam tangan Si A satu seri dengan jam tangan Si B. Dan sangat mungkin, jam tangan Si A dibeli pada waktu bersamaan dengan Si B. Tetapi di balik ‘kesamaan-kesamaan’ itu, sangat tidak mungkin apa yang dirasakan Si A dan Si B ketika memiliki jam tangan tersebut juga sama. Obsesi dan imajinasi Si A dan Si B, tentu tidak seragam ketika mereka sama-sama memiliki jam tangan dengan merek yang sama.

Tetapi apa yang disebut Tompul sebagai ‘bertemu di kelokan tertentu’ pun paling-paling hanya satu-dua karya, sebab sejak awal, media yang mereka geluti berbeda, termasuk sikap atas garis pun berbeda. Menarik untuk mengikut bagaimana anggota kelompok Sentak ini di dalam mempersiapkan pameran. Mereka menyepakati tema tertentu, bersama-sama menggagas tema tersebut, tetapi kemudian saling membebaskan di dalam berkarya. Tidak ada proses monitoring antarmereka, semata-mata demi memberi ruang kebebasan.

Dan proses seperti itu menghasilkan sebuah antologi karya yang memikat. Hal itu bisa dilihat pada pameran ketiga kelompok Sentak yang digelar di Galeri Semarang pada April 2008. Pada pameran dengan tajuk ‘Meniti Jalan Lurus’ itu, mereka berlima bersepakat untuk bersama-sama mengeksplorasi lingkaran. Hasilnya, sejauh mata menjelajah, para penikmat senirupa akan mendapati suguhan karya yang beragam, penuh warna, dengan masing-masing daya pikat yang khas. ‘Sepermainan’ bahkan ‘seiman’ bukan berarti ‘seragam’. Tampaknya, para penggilut agama tertentu yang ingin menyeragamkan, bisa mendapatkan pelajaran sosial sekaligus pelajaran spiritual seandainya mereka bisa menghayati pameran kelompok Sentak ini. Iman yang menyeragamkan justru bisa menciderai proses keimanan itu sendiri. Sebuah taman akan kehilangan keindahannya jika hanya membiarkan satu jenis tanaman berbiak dan tumbuh rimbun di taman tersebut.

Setelah berhasil menggelar tiga kali pameran, kelompok ini kemudian segera bersiap lagi untuk mengelar pameran keempat, yang akan dilaksanakan di Bentara Budaya Yogyakarta, dengan tajuk yang, sekali lagi menyentak: Artmatika!

Askanadi, mengudar konsep tema yang diambil kelompok ini. Menurutnya, Artmatika, memang seperti sebuah permainan bahasa antara kata ‘art’ dan ‘matematika’. “Sebab pada karya-karya kami, segalanya punya ukuran dan perhitungan yang cermat, seperti matematika.” katanya.

Sementara itu, Yon Indra mengimbuhi, bahwa sebetulnya tingkat presisi dan akurasi yang tinggi itu sudah sejak awal menjadi metode mereka di dalam berkarya. Hanya saja, kali ini, metode itu akan dideklarasikan. Perupa yang berpenampilan rapi dan necis ini, sesuai dengan karya-karyanya, juga mengatakan bahwa untuk pameran kali ini, masing-masing anggota kelompok Sentak akan memajang dua karya. Sehingga total karya yang akan dipajang di pameran tersebut ada 10 karya. Dan publik senirupa pastilah menunggu, apakah di kali keempat itu, kelompok ini mampu menyentak lagi.

***

Memasuki studio Antoni Eka Putra, demikian nama lengkap Antoni, mata siapapun akan dimanjakan oleh mozaik warna, baik yang berasal dari kanvas-kanvas yang telah dibungkus plastik transparan, maupun yang sedang dalam taraf penyelesaian. “Sejak dulu, saya terobsesi dengan garis dan warna.” tutur Antoni dengan kalem dan santun.

Proses kreativitas, bisa bermula dari rasa takjub. Antoni mengisahkan, bagaimana pergulatannya dengan elemen garis dan warna itu. Awalnya, ia terpikat oleh warna, karena ia bersepakat bahwa pada warna-lah, fenomena visual diperas dan diambil saripatinya. Tetapi kemudian, di saat ia menggores warna demi warna, terbentuklah garis sebagai konsekuensinya.

Di antara balutan warna di studionya, Antoni memaparkan prosesnya di dalam berkarya. Menurutnya, sebelum mengeksekusi karya di atas kanvas, ia akan membuat purwakarya di dalam komputer. Hal tersebut, menurut Antoni, untuk meminimalisir kesalahan di dalam berkarya. Sekaligus mengeksplorasi berbagai kemungkinan komposisi. Apa yang dilakukan Antoni sebetulnya mirip dengan apa yang dilakukan oleh para pelukis yang lain, yang membuat sketsa sebelum berkarya di atas kanvas.

Dua karya yang akan disuguhkanAntoni adalah karya-karya yang disebutnya sebagai karya ‘refleksi’ dengan komposisi lingkaran berwarna, dan garis-garis refleksi. Tiga dari sekian banyak garis itu diberinya warna primer. Proses yang menarik di dalam karya itu adalah di saat ia memberi warna pada komposisi. “Tidak sama dengan yang ada di komputer,” ujarnya. Di saat itulah, Antoni mengerahkan segenap naluri dan kecermatannya.

Ketakjuban Antoni kepada warna, bisa dirasakan bukan hanya oleh warna-warna yang memendar dari kanvas-kanvas, baik yang sudah selesai dieksekusi maupun yang baru separuh proses. Tetapi bisa tampak dari minuman dan penganan yang disuguhkannya. Segelas jus jeruk dengan warna kuning yang memikat, serta dua jenis penganan dengan warna-warna yang juga mengundang selera untuk segera disantap.

Sementara itu, di dalam studionya, Valasara yang memiliki nama lengkap Made Gede Wiguna Palasara, sedang menyelesaikan sebuah karya dalam ukuran besar. Ia menyusun dan menempel ratusan tas kresek dengan warna loreng hitam-putih, dan tas kresek berwarna merah.

“Karya ini mempunyai pesan,” kata Valasara, “bahwa sudah saatnya kita memberi perhatian yang serius kepada alam kita.”

Valasara ingin berkata bahwa sampah telah menjadi permasalahan yang serius. Dan dari benda yang sering dianggap remeh, tas kresek yang dibuat dari plastik, barang sehari-hari yang sering digunakan oleh banyak orang, merupakan bukti nyata ancaman terhadap alam. Lalu soal garis, Valasara juga menguraikan bahwa ia pertama-tama menemukan dulu tema apa yang akan dipakainya, kemudian mencoba mencari materi yang akan dipergunakannya, baru kemudian materi itu disusun sedemikian rupa dengan memakai nalar garis.

Karya kedua yang akan dipamerkan Valasara di Bentara Budaya adalah sebuah lukisan lanskap yang kemudian ditempeli dengan risleting. Penempelan risleting itu seakan-akan hendak membungkus lanskap. “Karya itu mempunyai pesan ganda,” ujar Valasara, “pertama, sebagai respons atas kondisi alam, di mana banyak jalur hijau yang telah disalahgunakan dengan dibangun berbagai bangunan, dan yang kedua, sekaligus sebagai respons terhadap lukisan dengan bentuk lanskap yang sudah saatnya dibungkus.”

Dalam usianya yang relatif muda, tampaknya Valasara tidak terlalu takut untuk mengekplorasi berbagai materi, sekaligus mengeluarkan pernyataan kesenimanan yang berkobar. Ia tidak sependapat kalau media campuran yang sering ia gunakan, tidak laku di pasaran. “Pertama, saya tidak peduli. Dan ternyata, setelah saya ikut pameran, tidak betul kalau media campuran itu tidak disukai kolektor.”

‘Ketidakpeduliannya’ sekaligus pemberontakannya, tampaknya bisa dilihat dari suasana studionya. Kanvas-kanvasnya terpajang di bagian belakang sebuah rumah, tepat di depan WC dan kamar mandi dengan pintu yang selalu terbuka.

Bagi Yon Indra, hal yang baru di pameran kali ini adalah karena ia mulai mengambil bentuk segi lima untuk karyanya, bentuk yang belum pernah dieksekusinya. Dan di karya satunya lagi, ia akan membalut kanvasnya dengan warna biru, warna yang  belum pernah dipilihnya.

Publik senirupa di Indonesia pastilah sudah familiar dengan karya-karya Yon Indra yang berupaya membungkus karya tiga dimensi ke dalam bentuk dua dimensi. Karya-karya Yon kebanyakan memakai bahan fleksiglass berlapis, dengan guratan warna yang terukur, menciptakan efek ilusi optis. Karya itu kemudian disatukan ke dalam kanvas.

Torehan warna di masing-masing lapis, sekaligus jarak antarlapisan membuat karya Yon Indra seperti mengajak penikmat senirupa untuk melakukan tamasya visual. Para penikmat bisa berlama-lama memandang karya-karya tersebut karena terpikat oleh ilusi optik, sekaligus seperti menjelajah sebuah labirin transparan.

Yon membuat pengakuan untuk karyanya kali ini, “Bentuk segi lima itu relatif susah. Segi lima juga kan identik dengan bentuk zaman dulu, biasa dipakai untuk logo-logo di masa lalu. Tapi aku ingin mencobanya.”

Sedangkan untuk karyanya yang lain, yang memakai warna biru pada kanvas, Yon juga membuat pengakuan khusus. “Sebelumnya aku tidak pernah memakai warna biru. Dan objekku kali ini berwarna kuning. Oleh karena itu, di antara warna biru dan kuning, akan kuberi warna pengunci hitam.”

Yon, boleh dibilang perupa yang beruntung, atau bolehlah disebut sebagai perupa yang mempunyai perhatian sangat khusus bahkan cenderung berhati-hati terhadap karya-karyanya. Perupa yang sedang mempersiapkan pameran tunggalnya itu mengungkapkan, semua karyanya ‘menikmati’ peristiwa dipamerkan. Sesuatu yang cukup istimewa di saat senirupa mengalami booming yang luar biasa.

Tertib dan teratur, tampaknya menjadi laku keseharian Yon. Ia pernah mengungkapkan, seuatu yang teratur itu indah dan nyaman. Hal itu pun tampak di studionya. Memang, studionya bukan sebuah bangunan kokoh yang mengkilap, beberapa temboknya bahkan terlihat gempil. Tetapi studio itu seakan-akan telah dibagi dengan rapi, bagian belakang sebagai tempat untuk memproses dan mengerjakan karyanya. Bagian tengah, dipakainya untuk memajang beberapa karya yang hampir jadi sekaligus tempat menerima tamu. Karpet yang tergelar di ruang itu resik. Lalu ada juga sebuah kamar yang juga tertata rapi, tempat Yon menggarap sketsa karya sekaligus menyimpan beberapa peralatan.  

Perupa yang selalu necis itu, juga sadar akan tertib berbahasa. Di dalam setiap perbincangan dengan Yon, selalu jelas, mana subjek dan mana predikatnya. Sehingga bisa ditangkap dengan tepat, makna apa yang dimaksud olehnya.

Sementara itu, dua karya yang dipersiapkan oleh Askanadi masih menapaki kecenderungannya atas hal-hal yang sederhana. Kesederhanaan sebagai simbol atas kesadaran spiritual, tampaknya masih menjadi acuannya di dalam berkarya. Kedua karyanya, masih dominan dengan warna hitam-putih, dan kemudian diberi sedikit warna yang berbeda sebagai sentuhan terakhir.

“Sentuhan terakhir itulah yang kadang kala memerlukan waktu yang lama.” tutur Askanadi. Ia mengerahkan dan mengkonstrasikan imajinasinya untuk memberi sentuhan akhir, sebuah proses yang sangat penting baginya.

Garis-garis yang berulang, teratur, menurut Askanadi, memang tidak bisa dilepaskan dari ritme spiritual yang dijalaninya. Mungkin penikmat karya-karyanya bisa diingatkan dengan laku zikir. Garis-garis itu juga mempunyai skala dan perhitungan yang cermat.

Memang, dibandingkan dengan karya-karya para koleganya yang lain di dalam kelompok Sentak, ukuran karya-karya Askanadi relatif kecil. Tetapi bukan berarti proses kerja yang ditapakinya gampang. Butuh proses yang panjang untuk mengeksekusi satu demi satu garis-garis yang ditorehnya.

Menghadapi kanvas, bagi Askanadi, adalah memasuki tahap meditatif. Dan ia ingin, apa yang dirasakannya di saat berkarya, bisa dirasakan juga oleh para penikmat karyanya. Sebagaimana mungkin ia juga menginginkan, apa yang dirasakannya di saat mengolah imajinasinya di dalam studionya, dapat pula dirasakan oleh orang-orang yang memasuki studionya yang ditata dan dipoles dengan kelembutan rasa.

Sedangkan dua karya yang dipersiapkan oleh Tompul, sudah sejak lama dipraktikkan dan diujicobakan. Karya pertama, sebuah karya cukil dengan judul ‘Kemenangan adalah awal dari perjuangan’. Sepintas, tampak ada yang aneh dengan judul itu. Tetapi judul itu bukan sengaja ‘diadak-adakan’ atau sekadar tempelan belaka. Pada judul itu, tersimpan sebuah pengertian yang hendak disampaikan oleh Tompul, sekaligus memang bisa jumbuh dengan karya tersebut.

Di karya itu, Tompul ingin mengajak orang untuk berani mengkonstruksi pikirannya sendiri. Tiga kotak hitam yang terdapat di cukilan tersebut adalah sejenis landasan perspektif. Jika tiga kotak hitam itu dibayangkan sebagai bagian bawah dari sebuah struktur bangunan, maka persepsi orang akan digiring untuk melihat keseluruhan objek yang ada terletak pada keseluruhan pada bagian bawah. Demikian juga sebaliknya, jika tiga kotak itu dianggap sebagai bagian atas. Inilah yang disebut Tompul sebagai permainan multi-ilusi.

Karena itu, lagi-lagi menurut Tompul, ‘kemenangan’ adalah soal perspektif sehingga menjadi hal yang relatif. Dan yang paling bijak, segera menganggap kemenangan sebagai bagian awal dari perjuangan. Sehingga setiap orang yang merasa menang, segera bisa cepat mengkritisi kemenangannya.

Karya kedua Tompul, berupa 11 bingkai yang terbuat dari cermin. Cermin pertama, yang dianggap sebagai awal, berwarna hitam. Cermin kedua sampai kesepuluh, dibuat retak. Dan sebagai penutup, cermin terakhir, berwarna hitam lagi. Fokus retak masing-masing cermin, dimulai dari bawah, lalu perlahan ke atas, untuk kemudian kembali ke bawah lagi. Mirip perjalanan matahari dari terbit hingga tenggelam.

Tompul berujar, memaparkan maksud penciptaan karyanya, “Aku ingin mengajak orang berkaca. Sesungguhnya manusia itu lahir tanpa memiliki apa-apa, dan akan mati dalam kondisi tidak memiliki apa-apa lagi.”

Kedua karya Tompul, lepas dari pesan yang ingin disampaikannya, mempunyai proses yang tidak gampang. Untuk karya pertama, sebagaimana dengan mudah diketahui orang, butuh ketelatenan yang luar biasa. Sedangkan untuk karya kedua, setidaknya butuh pengetahuan dan eksperimen berkali-kali, agar cermin yang dipukul dengan palu itu, mempunyai efek pecah tertentu.

Seniman yang berpenampilan cukup nyentrik dan humoris itu, memang dikenal telah menghasilkan karya-karya yang membutuhkan kerja ekstra-sabar. Tompul memaparkan, dulu sekali, saat ia mengawali kerja mencukil, ia mendapat pelajaran bahwa kerja mencukil itu seperti kerja seorang penembak jitu. Ia harus berlatih menahan napas, agar cukilan-cukilannya bisa teratur. Dan setelah itu, ia belajar menyelaraskan napasnya, supaya tahan mengerjakan karya-karya cukilannya.

Tetapi ketelatenannya di dalam berkarya, tidak berarti menghilangkan sisi humorisnya. Selain hal itu selalu mengemuka jika bertemu dan berbincang dengannya, studionya pun mewartakan hal yang hampir serupa.

Pesan satir di dalam karya, juga sifat humoris di dalam diri Tompul, dengan mudah juga didapati pada tulisan-tulisan yang hampir memenuhi dinding studionya. Dinding-dinding itu pula yang ‘merekam’ perbincangan para para anggota kelompok Sentak, sebab di studio Tompul, mereka kerap bertemu, berdiskusi dan bercengkerama.

***

Belantika senirupa di Indonesia, selalu mencatat pergumulan para perupa, baik perseorangan atau kelompok. Wacana tertentu pernah mengemuka, kemudian diganti oleh wacana yang lain. Hal seperti ini, tidak perlu dianggap sebagai sebuah perbedaan, melainkan justru sebagai patut dilihat sebagai dinamika dan kakayaan khasanah senirupa.

Tetapi tampaknya, dualisme antara gagasan atau konsep karya di satu sisi, dan ketrampilan atau kerajinan tangan di sisi yang lain, telah membentangkan tali yang tegang. Para perupa meniti tali kreativitas itu. Tentu dengan bobot, kadar dan intensitas yang berbeda.

Masing-masing anggota Sentak, sekalipun mempunyai ‘mainan’ dan bahkan ‘iman’ yang sama, sekali lagi tidak membuat mereka berada dalam satu saf yang sama pula. Ada yang condong pada keterampilan, namun ada juga yang kuat di dalam konsep. Ada yang terus menyuntuki permainan sampai pada taraf kerumitan yang tinggi, namun ada juga yang mencoba meramu dengan konsepsi.

Justru di titik itulah, kita bisa sama-sama menyadari betapa menariknya sebuah seni. Bahkan dalam keteraturan dan harmoni, maaf karena harus menyebut berkali-kali: keseragaman adalah kutukan yang selalu dihindari.


11 Juni 2008
(Puthut EA)

Comments

Post new comment

The content of this field is kept private and will not be shown publicly.