Sore ini, Dodo Hartoko datang ke rumah kontrakan saya. Seperti biasa, ia tidak mencopot sepatu, langsung masuk, mengeluarkan cerocosan suaranya yang kadang kala saya rindukan, tetapi juga sering membuat saya pusing. Tentu saya tidak pernah keberatan jika ia tidak mencopot sepatunya, karena lantai di rumah saya justru akan mengotori kaki siapapun yang berani bertanjang menapakinya. Juga karena saya tahu persis, Dodo senang dengan sepatu, cenderung gila sepatu.
“Kalau kamu mau buku Ugo yang belum disampul plastik, ya ini…” kata Dodo sambil mengulungkan buku tebal. Saya seketika berbinar, padahal sudah beberapa minggu ini, binar wajah jarang mampir di wajah saya. Buku itu karya almarhum Omi Intan Naomi, tentang Ugo Untoro, dengan judul panjag sekali dalam bahasa Inggris: The Sound of Silence and The Colors of The Wind Between the Tip of A Cigarette and Fire of The Lighter. Buku itu tebal karena tiga hal: Pertama karena ditulis dalam dwibahasa yakni bahasa Inggris dan bahasa Indonesia. Kedua, menggunakan kertas mahal dan tebal. Ketiga, tanpa kertas yang mahal dan tebal itu pun, dengan jumlah halaman sebanyak 480 halaman, jelas tidak bisa dibilang buku tipis.
Sebelum buku itu saya terima, buku tersebut punya rentetan kisah tersendiri bagi saya. Desas-desus, awalnya. Entah dari mana, mungkin dari Dodo, saya pernah mendengar bahwa Omi mempunyai warisan naskah yang belum sempat diterbitkan. Dan dari Dodo pula, saya pernah membaca beberapa bagian buku ini. Saat itu, saya hanya berpikir, kalau draf tersebut terbit, Ugo Untoro adalah perupa yang paling beruntung di Indonesia, sebab dirinya ditulis oleh penulis sekaliber Omi. Kedua, maaf bukan berarti mensyukuri, Omi telah meninggal dunia. Penulis yang cerdas sekaligus ganjil itu meninggal dunia pada tahun 2006. Itu artinya, tidak ada pelukis lain yang bakal dibuatkan buku oleh Omi. Namun setelah saya sedikit mengenal Ugo (kami hanya beberapa kali pernah bertemu), dan melihat hasil karyanya (tetapi saya tidak begitu dong dengan senirupa), draf itu telah mempertautkan dua hal penting: Omi penulis yang tangkas dan punya kualitas, menulis sosok pelukis yang punya reputasi serta integritas.
Begitu Dodo pulang dari rumah kontrakan saya, tanpa menungu waktu lagi, saya langsung menuju kamar, membaca buku tebal itu. Dan kemudian segera menulis paragraf-paragraf di tulisan ini.
Himpunan Orang: Sebagian Besar Memang Bukan Sembarang Orang
Di dalam proses pembacaan itu, sejumlah orang segera menjadi perhatian utama saya. Banyak nama yang tidak saya kenal, sebagian lagi saya kenal, tentu perkenalan yang tidak selalu berhubungan dengan tatap muka. Dengan segera, saya mencatat nama-nama berikut ini: Selain Omi dan Ugo, ada juga nama seperti Dodo Hartoko, Sigit Djatmiko, Mbak Yayuk (istri ugo) dan S. Teddy. D. Selebihnya jelas ada nama-nama yang saya tahu dan kenal: Bunga Jeruk, Toni Volunteero serta Bob ‘Sick’ Yudhita.
Omi, tidak pernah saya kenal secara tatap muka, saya mengenalnya lewat tulisan-tulisannya, baik karya fiksi maupun karya nonfiksi, dan dari kisah-kisah yang saya dengar dari mulut orang-orang. Setahun setelah saya meninggalkan kampung halaman saya untuk kuliah di Yogya, saya membeli dan terkagum-kagum dengan sebuah buku hasil karya Omi: Anjing Penjaga: Pers Indonesia di Rumah Orde Baru (1996). Seingat saya, tidak semua isi di buku tersebut yang bisa saya pahami, tetapi saya memaklumi diri sendiri, belum setahun saya kuliah ketika saya membaca buku itu. Kadar intelektual saya yang pas-pasan, tentu tidak gampang mencerna keseluruhan isi buku itu. Tetapi rasa salut mulai mengipasi hati saya, karena di tahun itu, rezim Orba mulai panik dan semakin brutal. Dan buku itu mengkritisi rezim Orba. Mulai saat itu, sebagaimana halnya mahasiswa pupuk bawang yang gampang kagum, nama Omi masuk ke laci ingatan saya.
Ugo Untoro, pertama saya lihat ketika aksi-aksi politik mahasiswa 1998 mulai meruyak di Yogya. Dengan berpakaian mirip Sukarno, sosok pendiam itu sempat saya lihat, dan saya sempat dibisiki oleh seorang kawan, “Itu lho yang namanya Ugo. Dia pelukis.” Tetapi sampai bertahun-tahun kemudian, jika membaca suratkabar tentang senirupa, saya susah membedakan antara Ugo Untoro dan Yuswantoro Adi. Kemiripan empat huruf ‘t-o-r-o’, dan tentu saja karena saya tidak begitu menaruh perhatian di dunia senirupa, dua nama yang sangat berbeda itu seakan-akan sama. Setidaknya dua kali saya bertemu dengan Ugo, tetapi yang nabet di pikiran saya saat saya berkunjung ke rumahnya untuk melakukan wawancara. Orangnya pendiam, seperti sibuk dengan dirinya sendiri. Tetap sifat diamnya tidak menunjukkan keangkuhan, sekalipun saat saya menemuinya, jelas ia telah mendapatkan posisi yang terhormat di kancah senirupa Indonesia. Tetapi yang saya ingat betul, saat itu kami berbagi obat penenang. Dia kehabisan pil, kebetulan saya sedang membawa. Dan dia meminum kopi yang saya buat sendiri di rumahnya. Percaya atau tidak, justru sikap seperti itu yang membuat saya tidak kagok ketika mewawancarainya.
Dodo Hartoko, pengonsep dan pendesain buku ini telah lama saya kenal. Tapi bukan berarti dulu ia kenal saya. Namanya banyak disebut orang, dan ia adalah orang dengan tipe ada di mana-mana. Selain itu, gaya omongannya yang ceplas-ceplos tanpa tedeng aling-aling, saya hakul yakin pasti membuatnya gampang diingat orang. Juga modalnya yang lain, kelucuan yang tidak murahan. Bicara dengan Dodo, selalu membuat saya gampang bicara, sekaligus waswas. Kalau sedang mengejek orang di depan saya, jujur saja selalu membuat saya berpikir sebentar lagi bakal terjadi bakuhantam. Tetapi ternyata rasa waswas itu belum pernah menjadi kenyataan di depan saya. Perkenalan Dodo dengan banyak orang, nyaris membuat saya putus asa. Kalau saya bercerita tentang sebuah nama, ia bisa melengkapi lebih panjang tentang nama tersebut. Hingga kemudian saya memutuskan: Eksistensi Dodo dibangun dengan cara beredar di mana-mana, dan diterima di mana-mana.
Sigit Djatmiko, penyunting buku ini, baik versi bahasa Indonesia maupun versi bahasa Inggrisnya, jelas saya kenal dengan baik. Ia kakak tingkat saya di kampus Filsafat UGM. sekalipun ketika saya masuk kuliah, Sigit sudah tidak pernah beredar di sana, tetapi namanya melegenda. Saya juga sempat mengerjakan sebuah proyek dengannya. Karena saya membaca draf buku ini sebelum terbit, sekalipun tidak lengkap, saya tahu persis sentuhan si penyunting pantas diberi kredit tersendiri.
Mbak Yayuk, istri Ugo, saya pernah bertemu beberapa kali juga dengannya. Orangnya hangat, ceplas-ceplos dengan logat Jawa Timur-nya yang kental. Bahkan ketika saya berada di rumahnya, saya dipersilakan membuat kopi sendiri. Itu seperti sebuah ucapan selamat datang yang hangat.
Kalau soal Teddy, wah, pengalaman saya dengannya cukup panjang. Jadi justru di tulisan ini, dibikin pendek saja keterangan tentangnya. Toh nanti di bagian yang lain, akan selalu ada namanya.
Bunga Jeruk, adik Omi, pernah saya datangi beberapa kali di rumahnya untuk saya wawancarai. Orangnya baik, cara menjawab pertanyaan saya runtut, menunjukkan keruntutan caranya berpikir. Ia menatap dengan baik mata lawan bicaranya, perilaku yang akan disenangi oleh siapapun yang paham berkomunikasi. Saya juga melihatnya saat melukis. Dan di rumah Bunga itulah, saya melihat beberapa lemari besar berisi buku-buku peninggalan Omi. Sebagian dari pajangan buku-buku di lemari-lemari itu, pernah saya baca, sebagian lagi pernah saya lihat tetapi belum pernah saya baca. Sedangkan yang paling banyak, belum pernah saya lihat, apalagi saya baca.
Toni dan Bob, mmm… sama dengan Teddy, saya cukup punya sejarah perkenalan yang panjang, sehingga di sini tidak perlu terlalu diperjelas.
Tak Begitu Kenal Ugo, Memilih Ugo
Bab awal tulisan Omi tentang Ugo dimuali dari sebuah bab yang berjudul agak nyeleneh: Ugo Untoro Menurut Tetangga Sekecamatan. Bab ini memaparkan perihal perkenalan Omi dengan Ugo, termasuk sedikit alasan mengapa Omi mau menulis buku tentang Ugo. Lalu siapakah yang dimaksud dengan ‘tetangga sekecamatan’ di dalam judul bab itu? Jelas, maksudnya Omi, si penulis.
Di paragraf-paragraf awal bab ini, Omi berangkat dari sebuah hasil tulisan seorang kurator yang menganggap bahwa Ugo dekat dengan Omi. Memang Ugo pernah memberi banyak pernik hasil karyanya kepada Omi, tetapi Omi mengaku ia tidak bersahabat dengan Ugo. “Jagat Ugo itu personal, namun tidak semua hal ia beri tanggapan personal dalam arti dikunyah-lumat ‘di dalam’ dan disimpan di sana sampai kiamat.” (hlm 310). Bahkan menurut Omi, “Apapun jadinya, Ugo Untoro adalah pakem tersendiri; ia takkan keluar dari apa yang dirinya sendiri lalui, ada kalanya sampai ke taraf mempersetankan segala yang di luar sana.” Bahkan semenjak kenal Ugo dari tahun 1989, kurang dari 5 kali Omi bertemu dengan Ugo.”[Ugo] Bukan konco kuliah senirupa. Bukan kolega. Di periode melarat Ugo, saya tak diberinya jatah kesusahan. Waktu Ugo kaya saya juga tidak kecipratan. Berbagai pil dan minuman juga takkan pernah, karena seumur-umur tak pernah ke situ pola konsumsi saya. Ini merata ke segulu penjuru senirupa; saya hanya berada di sana, akibat genetika.” (hlm 247). Yang dimaksud dengan ‘akibat genetika’ adalah karena adik Omi, Bunga Jeruk, kuliah di ISI (Institut Seni Indonesia) Yogya. Sehingga dari sang adik itulah, Omi kenal dengan beberapa perupa, dan sempat kemudian bekerja sebagai penerjemah dan penulis di segelintir katalog.
Dan tanpa basa-basi, Omi segera melanjutkan udarannya, mengapa ia disebut dekat dengan Ugo. “Apa ada, antara Ugo dengan saya, ‘kedekatan intelektual’?” Lalu Omi melanjutkan, “Yang benar saja.” (hlm 247). Kemudian akhirnya ia membuat konklusi, kedekatannya dengan Ugo seperti kedekatan dangdut dengan seriosa. Maksudnya, jauh banget!
Namun Omi juga mengaku bahwa Ugo dekat dengannya karena kisah-kisah yang didengar Omi tentang Ugo. Entah itu dari adiknya, entah itu dari tetangganya, dan yang paling sering berasal dari Teddy, yang kebetulan memang sering main ke tempat Omi.
Suatu hari Omi sempat melihat foto-foto karya Ugo yang akan dipakai untuk katalog pameran Ugo, Omi mengaku ingin tahu seperti apa lukisan-lukisan aslinya. Judul pameran itu menurut Omi ‘ramah dan awami’: Corat-coret 91-95. Tetapi sepuluh tahun kemudian, hal itu menjadi hal yang membuat Omi memutuskan menulis buku tentang Ugo.
Suatu hari, kira-kira sepuluh tahun setelah Omi menonton pameran Ugo, Dodo mendatangi Omi, lalu menawari Omi untuk menulis. “Mau nulis tentang Teddy atau Ugo?” tanya Dodo.
Omi menjawab ringan, agak guyon, “Tentang Atau saja.”
Tetapi dari percakapan itu, kemudian Omi mengungkapkan pilihannya, mengapa ia lebih memilih menulis Ugo dibanding menulis Omi. Pertama, menurut Omi mengapa ia memilih menulis Ugo adalah karena di saat itu, ia melihat Teddy sedang memajang banyak foto-fotonya di kampus ISI lama di Gampingan. Hal yang menurut pengakuan Omi, “Ini eksibionisme yang mengerikan buat orang awam seperti saya…”
Sekalipun begitu, saat Omi bertandang ke kos Teddy, ia mengatakan soal karya-karya Teddy, “Rentangnya panjang, horisonnya jauh, jumlahnya bergudang-gudang. Saya bisa membayangkan beribu halaman tentang dia.” Tetapi tetap saja yang dipilih Omi adalah Ugo! Sehingga pantaslah kita masuk ke alasan selanjutnya mengapa Omi lebih memilih Ugo. “Soalnya buatan Teddy hanya mengusik pikiran saya, sementara yang dibikin Ugo masuk ke perasaan.”
Selebihnya, Omi memberi alasan yang adekuat mengapa menulis Ugo tidak bermasalah untuk dilakukannya. Mengapa sekarang (tentu maksudnya saat Omi menuliskan karyanya tentang Ugo), tidak menungu Ugo tua dan pensiun dari dunia senirupa atau ketika Ugo sudah meninggal dunia.
Pertama, menurut Omi, kalau ia menulis Ugo di saat Ugo sudah meninggal dunia, Omi menyatakan, “Saya pasti juga sudah raib dari peredaran.” Ini tentu pernyataan yang mengejutkan, berbau profetik, sebab Omi memang meninggal dunia dan Ugo saat ini masih segar-bugar. Kedua, karena Omi tidak suka buku biografi yang berisi kenang-kenangan, sehingga terlalu jauh untuk diuji dan dibuktikan. Omi lalu memberi perumpamaan yang berlebihan, “…[A]ndai saya tulis di tahun 4321 saya tulis bahwa Ugo selalu bergelimang perempuan, Anda takkan dapat kesempatan untuk membuktikannya, tidak seperti sekarang.”
Ketiga, Omi dengan cermat menulis bahwa, “..[K]ata siapa Ugo hanya satu kali akan dibukukan? Makin sering makin baik, itu pikir saya; dia bisa dikaji sepuluh tahun lagi, duapuluh lima tahun kemudian, dan seterusnya…”
Keempat, ini alasan Omi yang sangat sadar tentang era serbacepat dan dinamika, “Kecepatan perubahan sekarang ini sudah menakutkan di segala bidang, jadi, apa Anda bisa jamin besok pagi Ugo masih akan seperti sekarang?”
Kelima, ini tampaknya alasan Omi yang berhubungan dengan kapasitas Ugo sebagai seorang perupa. Ia memaparkan, “Ugo, di titik ini, sudah mengawaki ragam perubahan yang kurang-lebih jelas terpampang—gaya dia selama 17 tahun terakhir. Itu sudah cukup untuk dimulai.”
Secara teoritik, sekalipun tidak ditulis olehnya, saya teramat yakin Omi tahu pentingnya sebuah buku biografi sebagai materi ilmu sosial yang penting. Tetapi ada baiknya saya paparkan di sini, walau sedikit saja.
Pada dasarnya, buku biografi memberi tempat bahwa setiap orang, siapapun dia, berhak menyatakan dirinya, menceritakan riwayatnya. Sejarah personal bukan subordinat sejarah besar. Sebab di sana bisa didapat sedimentasi yang mungkin mampu membuka lapis demi lapis peristiwa, baik personal maupun sosial, yang berguna untuk dipelajari. Bahkan biografi kaum elit pun berguna, karena di sana kita bisa pelajari pemikiran dan tindakan yang diambil oleh orang tersebut dalam konteks sosial dan politik. Jadi, baik biografi Ugo maupun Suharto, sama-sama penting sebagai sebuah dokumen sosial.
Ugo Untoro: Sebuah Poros
Saya ingin menjadi yang melintas
di antara rokok dan ujung korek api.
Dalam hati kecil saya, saya ingin berbisik kepada udara Yogya,
Bahwa saya ada dan berbeda.
(Ugo Untoro, Corat-coret, 1995)
Puisi itu sederhana, indah, dan yang paling penting membuat sebuah pernyataan diri, modus eksistensi yang tajam: Bahwa saya ada dan berbeda.
Omi dengan tajam mengupas habis Ugo dalam belukar senirupa yang tidak gampang disibak. Ketika banyak perupa berkumpul, mengorbit pada perupa lain, Ugo tetap asyik masyuk dengan dirinya sendiri. Ketika kawan-kawannya sibuk membuat perkumpulan, Ugo khusyuk dengan dirinya sendiri.
Tetapi kesadaran atas atmosfer kreatif, jelas dibayar tuntas oleh Ugo. Ia membuat buku-buku sendiri, termasuk buku kumpulan cerita pendek. Ia membuat sebuah museum, hal yang nyaris tak masuk akal dilakukan oleh seorang perupa yang masih muda usia. Buku tebal karya Omi ini, bahkan dicetak dengan uang Ugo sendiri! Hal ini menunjukkan Ugo nisbi otonom, dan tidak begitu berpikir soal berapa uang yang harus dikeluarkan untuk membayar harga keinginan dan letupan kreativitasnya. Bisa saja misalnya, buku ini ditawarkan kepada galeri untuk diterbitkan. Tetapi Ugo telah lama memilih jalannya sendiri, dengan kepala tegak.
Perihal kekhusyukan dan fokus ugo, saya lebih suka menyebut sebagai sesuatu berupa ‘meditasi kreativitas’. Mau bumi gonjang-ganjing, Ugo hanya mau berurusan dengan dirinya sendiri, dengan pikirannya sendiri, mengikuti denyut kreativitasnya sendiri. Kalau Anda belajar bermeditasi, gangguan-gangguan kecillah yang kerap mengganggu, walaupun itu belum tentu benar secara faktual. Tiba-tiba tangan Anda seperti gatal karena digigit nyamuk, padahal ketika Anda melek, tidak ada nyamuk yang hingap di tangan Anda. Dan meditasi pada taraf tertentu adalah persoalan tentang: sesungguhnya tidak ada apa-apa… “Yang gaduh di luar dirinya [Ugo],” begitu tulis Omi, “bukanlah urusannya.”
Hal ini menjadi sesuatu yang dipindai dengan jeli oleh Omi. “Galau eksistensial Ugo tidak mengarah ke hal yang fundamental. Dia tidak tanya kenapa hidup; dia tanya kenapa hidup itu begini.” (hlm 309). Dengan begitu menurut Omi, Ugo lebih membumi dan sehari-hari.
Omi juga mengungkapkan, “Jagat Ugo itu personal, namun tidak semua hal ia beri tanggapan personal dalam arti dikunyah-lumat ‘di dalam’ dan disimpan di sana sampai kiamat.” (hlm 310). Bahkan menurut Omi, “Apapun jadinya, Ugo Untoro adalah pakem tersendiri; ia takkan keluar dari apa yang dirinya sendiri lalui, ada kalanya sampai ke taraf mempersetankan segala yang di luar sana.”
Omi memberi perbandingan antara Ugo, Teddy dan Bob, tiga orang yang sedang sama-sama merangkaki tangga prestasi di dunia senirupa Indonesia. “… Ugo tetap melihat ke dalam dirinya sendiri sedangkan Teddy tetap memandang keluar dan Bob tetap melihat… entah apa.”
Ugo sendiri, ketika saya wawancarai untuk sebuah tulisan namun yang jelas bukan tulisan ini, sempat menyatakan kalau dirinya adalah orang rumahan. Ia terlalu sengkut dengan keasyikannya sendiri, menyuntuki hal-hal yang dipilihnya sendiri. Ia bukan tipe yang beredar di mana-mana. Namun pada satu titik, dalam keheningan kreativitas meditatifnya, ia menjelma matahari yang menarik puluhan perupa-perupa lain sebagai planet-planet yang mengitarinya.
Sinisme dan Bahasa yang Hidup
Menurut Dodo Hartoko, almarhum Omi itu orang yang sinis. Tetapi saya, mungkin juga Anda, menempatkan sifat sinis tidak perlu selalu di dalam himpunan sifat-sifat negatif. Ketika saya membaca karya Omi tentang Ugo, nada sinis menyebar di mana-mana. Tetapi sinisme itu terbit bukan berhulu dari rasa dengki dan sakit hati. Sinisme Omi, bisa jadi karena dia paham benar tentang sebuah tema, mengetahui praktik yang ada. Sebuah sinisme yang muncul dengan bobot intelektual.
Di tulisan tersebut, Omi juga kritis terhadap banyak hal, terutama analisa-analisa yang kabur perihal karya-karya Ugo, baik yang berlebihan maupun yang berkekurangan. Dan begitulan Omi, asal alasan para analis (biasa disebut juga kurator) terlihat kurang argumentatif, tidak kokoh, terlalu klise, ditabrak dan dilabraknya.
Pada lembar-lembar itu pula, kita akan mendapati rentetan kisah-kisah yang ‘ter(di)sembunyikan’ di dalam dunia senirupa. Begitu banyak, sehingga buku ini bukan melulu bicara soal Ugo tetapi juga banyak hal seputar senirupa.
Sebagai seorang penulis yang gamben dan punya jam terbang tinggi, hampir semua tulisan Omi lancar dan kaya. Ada begitu banyak nama disebut (tanpa bermaksud mengurui), ada begitu banyak hal diraup (dari mulai film, buku, wayang, lagu, dll), yang menunjukkan keluasan serta kemendalaman pengetahuan penulisnya. Tetapi aoa yang disebut dan diraup Omi, tidak seperti kebanyakan penulis-penulis senirupa mutakhir di Indonesia, yang kadang kala nyaris tidak ada hubungannya dengan tema tulisan mereka, sehingga bagi mereka yang paham akan nama-nama, akan dipaksa menggaruk-garuk sekaligus menggeleng-gelengkan kepala.
Namun ada kelebihan Omi yang lain, bahasa yang digunakan oleh Omi adalah bahasa yang hidup. Menurut saya hidup-nya bahasa yang digunakan Omi berdiri dengan dua kaki. Kaki pertama, bahasa yang digunakan benar-benar lancar, tak terbelenggu dengan batasan-batasan dan pagar-pagar yang kerap menjadi hambatan bagi banyak penulis. Ia, Omi, menulis dengan kadar kepercayaan diri yang kuat. Dan tidak sembarang mengaitkan sesuatu kepada hal yang lain. ia jauh dari rasa pamer wacana dan pengetahuan. Kaki yang lain, menopang hidupnya bahasa karena Omi menggunakan istilah-istilah yang tidak konvensional. Bahasa yang baik menurut saya adalah bahasa yang hidup, tumbuh, ada kemampuan menyerap dan berkembang. Dan sumbangan atas bahasa yang hidup itu sah dilakukan siapa saja, tidak harus dilakukan oleh penjaga formal bahasa Indonesia.
Omi kini telah meninggal dunia, tetapi sebagaimana berkah bagi mereka yang berani berdiri di barisan para pencipta, torehan kata-katanya, membuatnya layak untuk kekal di dunia.
Ugo memang beruntung, tetapi Omi tidak salah memilih Ugo.
Yogya, 21 oktober 2008
Comments
Post new comment