Prolog: Menulis, Pistol, Dunia Seolah-olah

Jika ada orang berpendapat bahwa menulis itu gampang, saya sering tercenung dan bertanya-tanya kepada diri saya sendiri, benarkah demikian? Merunut pada pengalaman saya, yang  tentu masih baru menguasai sejurus dua jurus menulis, saya merasa bahwa menulis itu bukan hal yang gampang. Mungkin karena memang baru pada taraf ‘pemula’, sehingga kegampangan dalam dunia menulis belum bisa saya rasakan dan saya rayakan. Saya andaikan saja bahwa para penulis yang mengatakan menulis itu gampang adalah para pendekar silat yang telah punya pengalaman berlalu-lalang di rimba persilatan, sedangkan saya baru belajar berlari-lari, pemanasan, berbulan-bulan hanya diajari memukul dan menendang, tidak juga diajari jurus-jurus silat, dan ketika tiba saat belajar jurus-jurus itu betapa melelahkannya, membosankannya, dan lalu saya beranggapan bahwa semua itu tidak gampang.

Lalu karena kesukaran itu pula, saya mengambil sebuah jalan pintas. Masih dengan pengandaian dalam dunia silat, kalau memang tujuan silat salah satunya adalah untuk menjaga diri, maka kemudian saya pergi ke sebuah toko penjual senjata, dan saya membeli pistol. Kepercayaan diri saya tumbuh, bukan karena saya telah banyak belajar tentang jurus-jurus pencak silat melainkan karena saya telah memiliki sepucuk pistol, yang biar kecil tapi keren. Anehnya, dengan sepucuk pistol itu, saya merasa menemukan hal-hal lain yang cukup menyenangkan, bak kesenangan seorang pendekar silat.

Sialnya, saya adalah orang yang suka berbagi kesenangan, juga dalam hal menulis. Jalan pintas yang pernah saya tempuh, seburuk apapun itu asalkan mendatangkan kesenangan pada diri saya, ingin saya bagikan kepada teman-teman saya, yang kebetulan sedang bosan belajar menjadi penulis yang andal dengan cara menempuh lika-liku penuh luka.

Saya kira, saya belum menjadi penulis yang andal itu, tapi pertanyaan pentingnya adalah apakah memang perlu menjadi penulis yang andal? Jika memang perlu, pertanyaannya masih akan berlanjut yakni apakah jalan yang harus diitempuh agar menjadi penulis yang andal itu harus melewati kerja keras yang kadang kala membosankan? Bukankah di zaman seperti sekarang ini ‘bekerja keras’ adalah kata-kata yang sudah usang? Bukankah ‘bekerja cerdas’ lebih terkesan menjanjikan dan menyenangkan?

Saya tahu, Anda tentu akan segera menyerang saya dengan pertanyaan, “Lho, bukankah sudah banyak buku trik dan tips menjadi penulis yang keren?”

Saya menjawab dengan nada rendah: Benar.

Anda tenttu akan meneruskan serangan itu dengan, “Lalu apa bedanya dengan omong kosongmu kali ini?”

Saya masih menjawab dengan nada rendah juga: Bedanya adalah Anda tidak benar-benar pergi ke toko senjata dan memiliki sebuah pistol.

“Omong kosong jenis apalagi ini?!” begitulah bayangan saya tentang Anda setelah membaca paragraf-paragraf di atas.

Sabar, teman… Di dunia ini sudah terlalu banyak orang yang tergesa-gesa dan cenderung menyelesaikan sesuatu dengan nada marah.

Saya akan coba deskripsikan ulang tentang semua ini. Anda ingin menjadi seorang penulis yang andal. Lalu Anda menempuh semacam laku menjadi penulis andal itu dengan melewati jalan yang keras dan berliku. Lalu Anda bosan. Kemudian Anda memutuskan untuk melakukan laku yang lebih singkat dengan membeli buku-buku trik dan tips menulis. Itu artinya Anda telah melangkah ke sebuah toko senjata dan memiliki pistol, bahlan mungkin lebih dari satu. Tapi yang saya maksudkan ternyata bukan itu. Yang saya maksudkan dengan ajakan saya ini: Anda hanya sedang merasa melangkah ke toko senjata dan memiliki berjenis-jenis pistol. Sekali lagi, Anda ‘hanya merasa’ tapi tidak melakukannya. Anda hanya ‘seolah-olah’, Anda hanya ‘seakan-akan’ melakukannya. Itulah bedanya.

Ruang ini bukan berisi tentang kiat dan siasat. Bukan, dan selamanya akan tetap bukan itu. Ruang ini hanya merupakan bagaimana ‘seakan-akan’ Anda telah melakukan hal tersebut. Sehingga, di lembaran-lembaran situsweb ini Anda tidak akan mendapatkan trik dan tips yang menjanjikan itu.

“Lalu apa gunanya?” sergah Anda.

Saya masih akan menjawab dengan tenang: Gunanya adalah Anda tidak perlu berlatih keras, tidak perlu pergi ke toko senjata dan memiliki pistol, tapi Anda akan mempunyai perasaan yang hebat selayaknya penulis andal.

“Lalu apa gunanya perasaan semacam itu? Bukankah itu justru merasa menjadi pesilat tangguh tapi tidak menguasai jurus-jurus, yang itu artinya hanya akan kalah bertarung, yang itu artinya adalah pendekar palsu?  Bukankah itu artinya hanya akan mencelakakan diri sendiri, sebab begitu kawanan musuh datang dan melabrak ternyata saya tidak menggenggam sepucuk pistol pun?”

Wah, gencar betul pertanyaan Anda. Dan Anda menuduh bahwa saya hanya akan mencelakakan diri Anda dengan tulisan-tulisan di ruang ini.

Eh, benar juga, ya? Saya pikir-pikir ternyata Anda benar dengan gugatan Anda itu. Eh, tapi sebentar… Bagaimana kalau ternyata tidak ada pertarungan itu, dan bagaimana kalau ternyata tidak ada sekawanan musuh itu? Itu baru satu.

Lalu bagaimana jika ternyata para pendekar itu dan orang-orang yang memiliki pistol itu ternyata hanyalah orang-orang yang juga ‘seolah-olah’? Pernahkan Anda berpikir bahwa pada dasarnya mereka tidak ada, dan pada dasarnya Anda hanya masuk dalam rangkaian ‘seolah-olah’ yang telah dibuat oleh mereka sendiri? Ternyata mereka tidak pernah juga bekerja keras, dan ternyata juga mereka tidak pernah pergi ke toko senjata untuk membeli sebuah pistol?

Anda akan tersenyum sinis, dan sambil hendak meninggalkan saya, Anda berkata, “Bedanya jelas, mereka telah menulis dan ada bukti tulisannya!”

Wow! Kalau itu yang Anda maksud, percayalah, setelah Anda berada cukup lama di ruangan ini, Anda juga akan mempunyai tulisan-tulisan yang memukau.

Anda kembali berbalik. Lalu berkata, “Omong kosong!” Kemudian juga Anda akan berkata, Paling-paling di dalam ruangan ini telah kamu siapkan sejumlah perintah untuk menulis!”

Tidak, teman… Percayalah… Di dalam ruang ini Anda tidak akan ditempa untuk menjadi pemain sepakbola. Anda tidak dipaksa untuk tahu hukum-hukum dan peraturan permainan sepakbola. Anda tidak disarankan untuk menggunakan doping agar tiba-tiba napas dan gerakan Anda meningkat luar biasa. Anda hanya akan diajak untuk menikmati sore, diajak untuk menikmati tubuh Anda, menikmati bayangan-bayangan Anda, diajak menikmati siaran langsung di televisi, diajak sebelum tidur untuk membayangkan betapa hebatnya Totti, bagaimana enaknya menjadi Kaka, betapa asyiknya jika Anda menjadi Mourihno. Anda juga diajak untuk melihat di dalam saku wasit sepakbola untuk melihat isinya. Benarkah hanya ada kartu merah dan kartu kuning? Anda akan diajak untuk melihat telapak tangan hakim garis, apakah tangan itu memerah atau tidak ketika memegang bermenit-menit bendera kecil itu.

Anda hanya akan diajak pada sebuah tamasya kecil, yang mungkin akan menyegarkan pikiran Anda, dan lalu hasilnya tiba-tiba Anda berkata bahwa Anda dilahirkan untuk menjadi penulis andal.

“Tapi kan kamu bukan penulis andal?” begitu Anda menggugat saya.

O, ya, saya memang bukan penulis andal. Tapi apakah teman kecil Anda yang mengajak  pergi ke sungai adalah seorang perenang yang lebih tangguh dari Anda? Apakah teman Anda yang mengajak ikut audisi pada acara tertentu menjadi jaminan bahwa ia pasti terpilih? Padahal ternyata Anda yang  iseng diajak ke sana justru yang dilirik oleh para pemandu bakat itu?

Tapi…..

Ah, sudahlah, saya tahu Anda mulai tertarik dengan apa yang telah saya katakan. Mengapa Anda tidak mencoba saja berada dan mengikuti apa yang sedang dan akan bergerak di ruangan ini? Anda tidak perlu malu. Selamat menikmati, dan awas kalau jadi penulis andal!


Tabik,

Puthut EA

Comments

Post new comment

The content of this field is kept private and will not be shown publicly.