Kali Kedua

Situsweb saya ini telah berumur cukup panjang, untuk ukuran saya. Namun ia juga telah beristirahat cukup panjang pula, untuk ukuran saya. Istirahat itu bermula dari sesuatu yang klise: waktu. Saya merasa tidak punya cukup waktu untuk sehingga sekalipun situsweb ini sering terpacak, namun sangat lambat di dalam memutakhirkan isinya. Bahkan untuk sekadar memajang buku-buku terbaru saya.

Tentu ada saja yang bertanya soal itu, dan saya tidak bisa menjawab apa-apa selain jawaban yang juga klise: nanti kalau ada waktu pastilah akan saya urus.

Hanya saja pada kenyataannya, bukan pemutakhiran isi yang terjadi, malah penutupan untuk sementara situsweb ini. Karena saking tidak enaknya mendapatkan pertanyaan yang hampir sama, supaya tidak muncul pertanyaan serupa, saya tutup saja, sementara.

Sejak dulu, saya paling tidak suka dengan kesibukan. Selalu saya sisihkan waktu untuk memanjakan diri dengan banyak hal yang biasa dinikmati oleh kebanyakan orang lain seperti membaca buku, ngopi, bercengkerama dengan para sahabat, melakukan perjalanan-perjalanan iseng—bukan dalam konteks sedang bekerja. Tetapi semua itu di dalam dua tahun lebih ini, itu semua menjadi kegiatan-kegiatan yang terasa sangat mahal.

Saya terjebak dalam suatu rutinitas yang tidak begitu menyenangkan. Mengurus ini dan itu, berpergian ke sana dan ke sini, jadwal terasa padat, pikiran begitu penat. Ada banyak hal yang saya pikir bisa mendamaikan, mempertemukan, titik kompromi, tentang apa yang saya kerjakan dengan apa yang saya senangi. Tetapi ternyata hal itu tidak mudah.

Hari-hari terkini saya, ternyata serupa dengan sindiran-sindiran yang pernah saya lakukan kepada orang-orang yang sibuk. Saya punya cukup uang untuk membeli buku, tetapi saya tidak punya cukup waktu untuk membaca; saya mendapatkan banyak hal yang ingin saya tulis, tetapi saya kekurangan kreativitas untuk mengerjakannya. Saya, pada akhirnya, tetaplah sebagai seorang manusia yang tidak bisa mempertemukan titik-titik kegiatan itu sehingga semua bisa lancar.

Memang, saya belajar banyak untuk hal-hal yang baru. Saya menjadi lebih tahu hal-hal yang semula sama sekali saya tidak tahu. Tetapi toh balik lagi, saya kehilangan banyak energi, waktu dan kreativitas. Tiga hal yang saya sadari, dari sana saya bisa menjadi seseorang yang menjadi imajinasi saya tentang diri saya sendiri.

Hal yang sedikit menghibur, atau bisa saja saya sebut dengan jujur sebagai pembelaan, setidaknya saya mengerjakan itu semua bukan semata untuk urusan saya pribadi, melainkan—semoga—untuk hal yang lebih berharga dari sekadar kepentingan-kepentingan egois diri sendiri.

Hingga tiba momentum ini, bulan ramadan. Bukan, saya tak hendak untuk bersembunyi ke sebuah bulan yang dianggap suci, bulan yang tepat untuk melakukan refleksi dan evaluasi. Bukan itu. Tetapi di momentum ini, saya diberi sedikit waktu luang oleh rekan-rekan saya untuk setidaknya menilik lagi ‘dunia lama’ yang sempat saya tinggalkan.

Mereka tahu, nun jauh di kedalaman diri saya, ada sesuatu yang menagih untuk diberi kesempatan hadir lagi. Saya sungguh sangat beruntung mempunyai rekanan kerja, sahabat, dan para penyuka tulisan saya, untuk terus memberi sinyal bahkan kesempatan itu. Dan saya mencoba melakukannya sebaik yang saya bisa.

Ditambah lagi dengan dua sahabat saya—yang menurut pengakuan mereka berdua—menyukai karya-karya saya. Adalah Arys Aditya dan Mohamad Irsyad Zaki, yang kemudian menjadi jalan nyata saya untuk belajar kembali mengenali dunia yang sementara saya tingalkan.

Maka saya mencari hal pertama yang mungkin saya lakukan untuk menjembatani dunia yang pikuk di sini, dengan dunia yang tentram di sana. Situsweb ini jawabannya. Kedua sahabat muda saya itulah yang merelakan diri untuk membantu saya menggarap lagi situsweb yang sempat mengalami fase ‘hibernasi’.

Kepada semua pihak yang menyemangati, memberi kesempatan, bahkan bantuan teknis langsung, saya harus mengucapkan terimakasih.

Mungkin dengan jalan ini, ada sebuah rintisan kompromis yang bisa saya tempuh. Tetapi jika kelak kemudian tetap tidak, saya telah berusaha.

Pada akhirnya, ini adalah sebuah awal di tahap kedua, di kali kedua saya mencoba. Dan alangkah baiknya, saya tidak perlu terlalu bersemangat. Saya ingin ada gairah, tetapi tidak perlu melebih-lebihkannya.

Semua sekadarnya. Seperlunya. Siapa tahu dengan penyikapan seperti itu, saya bisa terus berada di sini. Dan ketika kemudian saya harus berada di sana, tetap ada bagian dari diri saya yang berada di sini.

Salam hangat,

Puthut EA

Yogya, 14 Agustus 2011.