Watu Regul

Tiga malam lalu, Zeri, salah satu pemuda yang pernah aktif di lembaga Kampung Halaman, bersama temannya, bermain ke kantor Mojok. Kami lalu ngobrol gayeng. Terlebih pas ada Seno dan Fawaz di kantor.

Lalu saya iseng bilang ke Zeri, saya pengen nyewa kolam ikan di sekitar Kampung Halaman, untuk jadi semacam tempat bersenang-senang bagi komunitas KBEA. Yang lagi suntuk dengan kerjaannya, atau butuh penyegaran, bisa menginap di sana, mancing, menikmati gemercik air, bakar ikan, dll. Maklum komunitas kecil, belum sanggup ngirim anggota yang lagi suntuk untuk plesir ke Raja Ampat. Jadi saya kira itu solusi simpel dan masuk akal. Continue reading “Watu Regul”

Persil

Ketika pulang kampung kemarin, saya merasakan kegembiraan yang tidak mudah diungkap. Musim penghujan baru tiba. Lahan persil sudah mulai panen jagung, latoh (sejenis rumput laut) mulai panen, dan di hutan serta di ladang, sejenis rimpang yang dinamakan boros atau kunci, tumbuh begitu lebat.

Di musim seperti ini, laut memberikan banyak berkah. Juga hutan. Di saat saya kecil, tidak usah ngomong soal gizi, tapi ada makanan yang unik dan lezat terpacak di meja hampir semua warga: nasi jagung, sayur lodeh boros, dan bakwan jagung. Kadang semua serba-jagung: sayurnya juga dari jagung muda. Continue reading “Persil”

Soal Angka

Soal angka, saya mau menyingkirkannya jauh. Ada yang bilang 7 juta. Ada yang bilang 2 juta. Ada yang bilang ratusan ribu orang saja.

Soal waktu, ini saatnya merenungkan, karena sudah cukup ada jeda. Dan sebagai pembuka, saya akan memulai dengan pertanyaan:

Apakah benar, sejuta lebih orang datang menyemut ke Jakarta, berpakaian putih-putih, sebagian besar di antaranya urunan, menyewa bis. Ibu-ibu. Anak-anak digandeng. Bapak-bapak. Semua tenggelam dalam lautan, yang mestinya jika sebuah gerakan politik formal, sebuah rezim bakal tumbang.

Tapi tidak. Ada yang merayap di balik kulit bangsa ini yang belum terungkap.

Kalau semata soal nista agama, saya agak tidak percaya. Pertama, karena pasti kemarahan yang timbul besar sekali. Kedua, apa yang kelak disebut sebagai penistaan agama itu sebetulnya sudah tersebar jauh hari di dalam buku dan kanal Youtube.

Saya melihatnya tidak begitu. Ada yang sedang bergerak dan ini bukan semata persoalan agama. Kalau kita tidak mempelajari fenomena sosial ini, kita tidak dapat menangkap apa yang kelak menjalar dan terjadi.

Ilmu dalam tradisi Islam, tidak bisa dipisahkan dari amal dan dari akhlak. Bukan ilmu kalau tidak diamalkan, dan bukan ilmu kalau tidak untuk memperbaiki akhlak.

Agak mirip dengan tradisi keilmuan Jawa (atau sesungguhnya berpaut?); bukan ilmu kalau tidak dengan laku. Tidak bisa dipraktekkan, tidak bisa dikerjakan. Bahkan menuntut ilmu sendiri itu sudah laku. Mlaku. Lumaku.

Lalu apa yang merayap di sana? Di balik kulit tipis kebangsaan kita?

Mungkin kita harus membaca lagi Diponegoro dengan lebih hati-hati. Sebab ini bukan fenomena yang benar-benar baru. Ibarat aliran air, ada ceruk di belakang kita yang memberi kontribusi aliran.

Terlalu jauh membaca Diponegoro? Saya kira tidak. Hanya mungkin kita belum jujur membacanya. Belum mau mengakuinya bahwa pada pergolakan besar itu, terpumpun lebih dulu hasrat kolektif yang merayap lembut.

Jadi apa yang berkumpul dan menyemut di sana, tak lebih dari hasrat kolektif, yang mungkin belum menemukan kanal ekspresinya secara tepat, sehingga yang menjadi mula dari ekspresi itu adalah apa yang kemudian terlihat bergolak di permukaan: penistaan agama.

Tapi yang menyemut itu, ibu-ibu dari Tapal Kuda Jawa Timur, ibu-ibu dari lorong-lorong kota Jakarta, dari Sunda, dan banyak lagi yang lain. Bapak-bapak sederhana yang tidak mau ikut menghardik dan terbakar. Tetap teduh dan tenang dalam barisan.

Pada muka-muka mereka yang tak mudah diletuskan, ada hasrat yang memancar. Ada emosi kemerahan. Bukan rasa marah.

Lalu apa hasrat itu?

Itu tugas kaum intelektual kita yang masih lembut batinnya, masih tajam pikirannya, masih adil hatinya.

Bukankah pada Perang Jawa itu, bukan semata perang biasa? Tapi ini bukan perang…

Ya, ini bukan perang. Ini prosa pendek untuk kisah yang bakal panjang. Semua bisa punya potensi keliru membaca, jika tidak berhati-hati mengkajinya. Sebab ternyata bukan soal agama. Bukan soal penista.

Sangat bisa jadi, yang berdiri dua kutub dan saling berbenturan itu, keliru memindai batin massa.

Dan mereka terus bergerak. Merayap. Lembut. Mengalir…

Berbagi

Ada banyak mitos dalam medsos. Kadang sebetulnya bukan mitos, tapi dinamika perkembangan medsos itu kerap diabaikan atau mungkin tidak diketahui.

Pokok bahasan saya kali ini dalam konteks medsos sebagai media untuk kepentingan bisnis dan penyebarannya.

Anda tentu ingat 8 atau 9 tahun lalu, banyak orang meninggalkan Facebook untuk hijrah ke Twitter. Hijrah yang luarbiasa. Tapi ketika Facebook memperbaiki diri, 3 tahunan yang lalu, mereka yang hijrah kembali lagi ke Facebook. Tapi bukan berarti Twitter berdiam diri. Kini medsos itu cukup stabil dan terus melakukan inovasi.

Beberapa hari ini saya beruntung karena bertemu dengan para pakar medsos dan pengguna medsos sebagai sarana bisnis. Jadi poin-poin yang saya paparkan ini sebetulnya saya rangkum dari orang-orang yang saya anggap pakar, dan praktek yang saya amati bersama para praktisi.

Dulu ketika Twitter berkuasa ada asumsi yang diuji mesin, bahwa sebanyak 10 persen dari follower kita, akan punya impresi terhadap konten kita. Kalau kita jualan, 10 persen follower itu adalah ceruk paling potensial.

Anggapan tersebut sekarang ini mengarah ke Instagram (IG). Benarkah demikian?

Sebelum lanjut ke sana, sebagai informasi awal, sekarang ini banyak pebisnis bahkan pebisnis media yang mengurangi alokasi anggaran mereka untuk beriklan di Facebook. Alasannya ada dua. Pertama karena Facebook terbukti nakal dengan cara mengotak-atik algoritmanya, sehingga membuat mau tidak mau pengiklan harus memasang iklan lebih banyak dan lebih banyak lagi. impresinya dibuat sedemikian rupa makin mengecil. Termasuk termutakhir algoritma jumlah tayangan yang terlihat dalam dalam fitur video Facebook.

Kedua, generasi milenial dan perempuan melakukan hijrah besar-besaran ke Line dan IG.

Dalam proses hijrah ini, maka wajar terjadi rumusan baru sebagaimana hal yang terjadi pada Twitter dulu. Banyak orang atau pebisnis, mungkin dari pengalaman mereka, merumuskan bahwa 10 persen dari jumlah follower akan jadi pembeli.

Jadi misalnya, follower IG Anda ada 1000 orang, maka akan ada 100 orang yang membeli produk Anda. Rumusan ini sangat gegabah.

Sebetulnya yang lebih tepat seperti ini. Jika Anda punya 1000 follower di akun IG Anda, maka 10 persen dari follower Anda akan memberikan impresi. Impresi ini dalam makna yang paling rendah akan menyimak, di level medium akan diekspresikan dengan memberi tanda love, di level yang lebih tinggi lagi akan berkomentar dan meneruskan, dan di level tertinggi: membeli.

Soal berapa banyak dari 10 persen itu yang akhirnya membeli sebagai reaksi tertinggi atas jualan Anda, sampai status ini dibuat, tidak ada yang berani memberikan konklusi.

Tapi pada dasarnya, medsos punya hukum yang mirip satu sama lain. Sekaligus punya karakter yang berbeda. Hal umum yang serupa misalnya apakah akun tersebut dianggap kreatif dan punya karakter atau tidak. Lalu bisa dipercaya atau tidak. Kemudian cepat tanggap terhadap respons atau tidak. Gimiknya bagus, kreatif, berkatakter, tapi kalau dikontak gak segera membalas ya sama saja. Kepercayaan akan luntur. Barangnya bagus, harganya bagus, tapi gimiknya buruk, siapa yang tertarik melihatnya?
Jadi semua elemen itu penting untuk digarap. Barang dagangan bagus, iklannya dikerjakan dengan kreatif, didiseminasikan dengan efektif dan efisien, CS-nya responsif, itu sudah.

Dan dalam mengkaji medsos, singkirkan soal suka atau tidak suka. Saya tidak punya akun Line. Juga saya tidak suka dengan karakter medsos Line. Tapi data menunjukkan terdapat migrasi yang sangat besar ke medsos tersebut. Efektif untuk mendiseminasikan isu, dan bagus untuk jualan. Ya saya harus katakan bahwa jika Anda mau berbisnis dan mempertimbangkan opinion leader, masuklah ke Line. Sekalipun saya tidak menggunakannya.

Sebagaimana saya suka karakter Facebook, tapi  saya memang harus mengatakan bahwa untuk bisnis, akun ini sudah tidak ramah. Karena mempermainkan algoritma untuk mengeruk uang.

Sekali lagi ini dalam konteks bisnis ya. Bukan dalam konteks akun-akun personal. Kalau yang personal sih, santai saja. Sepanjang ada gunanya, silakan…

Status ini sekaligus untuk panduan bagi para timses Pilkada. Jangan sampai salah beli barang ke konsultan medsos dan digital.

Politik Baper

Wabah politik baper terlalu cepat menyerang negeri ini. Sebetulnya ini mirip dengan sikap baper kita di kehidupan sehari-hari.

Anggap saja ada teman atau rekan sekantor Anda melakukan kekeliruan, atau hal yang tidak Anda setujui, lalu semua hal yang dilakukannya akan salah di mata kita. Misalnya dia terlambat ngantor, tapi suatu saat si teman mempresentasikan gagasannya yang keren, maka yang terbayang pertama kali bukan proposal gagasannya melainkan keterlambatan dia. Itu baper.

Dalam politik juga kerap demikian. Misal Presiden atau Gubernur atau Bupati punya kebijakan yang kita tentang, lalu di sisi lain mereka membuat kebijakan yang bagus, hal yang paling utama terlihat adalah kekeliruannya.

Dalam konteks perjuangan masyarakat sipil di era demokrasi liberal, adalah era mendorong, mendukung, memperluas semua agenda pemerintah (di level manapun) yang pro-keadilan dan kessjahteraan. Serta mengkritik secara konsisten kebijakan yang tidak menyalahi atau melenceng.

Artinya apa? Ada kesadaran bahwa tidak mungkin memenangkan semua. Berpolitik yang rasional adalah menjauhi kemerosotan mental prinsip: modal cekak mau menang banyak. Jelas itu tidak mungkin.

Maka kalau pemerintah di level manapun membuat kebijakan A yang berguna bagi masyarakat, sementara kebijakan B melenceng dari itu, logikanya: Dukung A tolak B.

Belakangan ini yang sering terjadi: kebijakan A tetap salah karena pemerintah membuat kebijakan B.

Saya kasih contoh. Pemerintah katakanlah keliru dengan kebijakan reklamasi. Tapi tepat untuk kebijakan dana desa. Maka logika politiknya: Dukung dana desa, kritik reklamasi. Bukan: dana desa salah karena kebijakan itu berasal dari pemerintahan yang sama yang membuat kebijakan reklamasi.

Masyarakat sipil tahu kapan dia mengkritik dan tahu kapan memberikan apresiasi. Terlebih di sebuah negeri yang kebanyakan organisasi pergerakannya beranggota  tak lebih besar dari jumlah murid sekolah SD kelas 1 di sebuah kecamatan di kabupaten Tuban.

Selamat merayakan Natal.

Pancasila

Sekalipun saya kuliah di sebuah fakultas yang paling banyak mengajarkan tentang Pancasila, tapi saya sampai sekarang tidak pernah bisa mengerti untuk apa dan bagaimana Pancasila beroperasi di negeri ini.

Di hampir semua sila, justru terkesan kita menghina mereka. Mencampakkan mereka. Dibaca dan dipelajari tapi tidak dikerjakan. Diseminarkan dan didengungkan tapi tidak menjadi acuan.

Itu jika kita berani jujur. Bukan memoles-moles nilai-nilai di Pancasila.

Ketuhanan yang selalu menjadi ajang perselisihan. Kemanusiaan tak jelas apa ukurannya, penggusuran dan kekerasan terjadi di berbagai tempat dan sektor. Adil apanya? Beradab dari mana? Persatuan yang juga tidak jelas, lha kita bertikai setiap saat. Kerakyatan? Yang ada bukankah keelitan? Berhikmat atas apa kita? Berbijak dari sudut mana? Keadilan sosial? Yakin? Apalagi bagi seluruh rakyat Indonesia. Jelas kita tidak sedang mengarah ke sana.

Sekarang ini kita seperti benar-benar sedang menghina Pancasila sehina-hinanya. Sebab menghina yang paling mursal adalah berpura-pura menyukai, memuliakan, menghayati, tapi sesungguhnya yang kita lakukan adalah mencampakkannya, menguburnya, menendangnya jauh-jauh.

Kita semua tahu bahwa Pancasila tidak menjadi acuan apapun, tidak dijadikan landasan apapun, tidak menjadi pertimbangan apapun.

Lalu buat apa Pancasila? Buat kita hina sebegitu rupa?

Sambal dan Drama

Di meja gelap kecoklatan itu, Komang meletakkan 5 buah cawan. Dua berisi sambal. Tiga berisi cairan kemerahan. Rahung menatap kelima cawan itu dengan muka bingung.

“Dua cawan itu sambal sederhana. Bahan kedua sambal itu sama persis. Hanya cabe merah diulek dengan bawang putih. Warnanya tampak sama. Rasanya juga hampir mirip. Hampir.” Komang menatap Rahung dengan tatapan mata tajam, memberi penekanan pada kata ‘hampir’.

“Sambal yang satu diolah dengan cara berbeda. Salah satu sambal itu dibuat dengan cara mengulek bawang putih dan cabai, lalu diguyur minyak jelantah panas. Sedangkan satunya lagi, bawang putih dan cabe merah digangsa dulu di bersama minyak, baru diulek.”

Muka Rahung mulai pucat. Tidak salah lagi. Jam terbang dan ketrampilan memasaknya sedang diuji oleh salah satu maestro bumbu dari daerah Buleleng Bali.

“Cicipilah…” Komang menyandarkan punggungnya ke kursi. Mengambil sebatang rokok. Menyalakan. Mengisap dalam-dalam sambil tetap memandang tesmak ke arah Rahung.

Pelan, pemuda berusia hampir 27 tahun itu mendulitkan ujung telunjuk kanannya ke cawan. Lalu meletakkan ke lidahnya. Dia memejamkan mata. Mencoba menajamkan indera pengecapannya. Pelan dia memejamkan mata. Lalu telunjuk kirinya mendulit cawan satunya lagi. Meletakkannya di lidah. Dipejamkan matanya.

“Bisa membedakan?”

Rahung hampir mengangguk. Tapi mendadak dia ragu.

“Keraguan menunjukkan ketidakmatangan ketrampilan seseorang…”

Rahung tersentak. Dengan muka pasrah, dia menggelengkan kepala.

Komang mengambil dua cawan berisi sambal. Disisihkan ke arah samping meja, mendekati cangkir kopinya yang masih menguarkan wangi tubruk.

“Tiga cangkir berisi cairan sama-sama air cabe. Air cabe yang satu, dibuat dari cabe yang diiris-iris. Lalu direndam air. Lalu disaring. Satu lagi, cabe digeprek, lalu dikum dengan air. Sedangkan satunya lagi, cabe diulek, diberi air. Sama-sama air cabe. Cicipilah…”

Rahung menarik napas panjang. Bau bunga cengkeh dari kebun yang terletak di belakangnya tercium kuat. Sore masih awet. Suara ayam di pekarangan terdegar kuat.

Dia mencelupkan telunjuknya ke dalam salah satu cawan. Lalu mengulum telunjuknya. Demikian bergantian ke cawan kedua dan ketiga.

Dua ekor anjing melintas di dekat kaki Rahung. Komang memberi isyarak kepada kedua anjing itu untuk pergi. Lalu sepasang mata laki-laki paruh baya itu kembali menatap Rahung. “Bisa membedakan?”

Wajah Rahung memerah. Dia menggelengkan kepala.

“Wijayanto menginap di mana?”

“Di Sanur, Bli.”

“Kamu langsung balik atau mau menginap di sini dulu?”

“Langsung ke Denpasar, Bli.”

“Langsung menemui Wijayanto?”

Rahung mengangguk.

“Sudah tahu apa yang mesti kamu sampaikan kepada gurumu itu?”

Lagi-lagi Rahung mengangguk.

“Apa yang akan kamu sampaikan kepadanya?”

“Saya masih belum bisa memasak.”

Komang mengangguk.

Rahung memanggil sopir yang mengantarnya. Dia berpamitan dengan wajah agak murung.

Sepanjang perjalanan, dia merutuki nasibnya. Dia tidak bisa membayangkan betapa marah gurunya. Dia adalah murid ketiga Wijayanto yang dikirim sepanjang 5 tahun untuk diuji oleh Komang. Gurunya adalah juru masak istana. Punya pengalaman melanglang buana ke berbagai wilayah di luar negeri untuk mempelajari masakan.

Tapi gurunya tak pernah bisa mengalahkan Komang. Laki-laki tukang masak kelas kampung di pelosok Bali itu, sudah tiga kali membanting murid-murid Wijayanto dengan ujian sepele.

Tepat di sebuah kelokan tajam di sekitar danau Tamblingan, kabut tebal menerjang dan mengemuli mobil yang dinaiki Rahung. Sopir memperlambat laju mobil. Tiba-tiba sesuatu melintas di kepala Rahung. Lintasan cepat di pikirannya itu, membuka lembar awal dari kisah panjang ini…

Tentang Kematian

Sehabis ibadah pagi, seorang guru meminta lima murid kinasihnya mendekat. Lalu dia bertanya kepada mereka satu persatu. “Jika kalian kelak meninggal dunia, dalam kondisi seperti apakah yang kalian inginkan?”

Murid pertama menjawab. “Saya ingin sebelum meninggal dunia, menderita sakit yang lama terlebih dahulu. Saya ingin Tuhan membersihkan dosa saya lewat sakit itu terlebih dahulu sebelum saya menghadap kepada-Nya.”

“Kalau saya ingin meninggal dunia di tengah hutan. Tidak ada yang tahu. Tidak membuat banyak orang bersedih.” ujar murid kedua.

Lalu murid ketiga menyambung. “Saya ingin sebelum meninggal dunia berkumpul dengan semua keluarga dan para sahabat. Saya ingin, kematian saya menjadi pelajaran buat semua orang terdekat saya.”

Murid keempat berkata dengan tenang. “Saya ingin jika kelak meninggal dunia dalam kondisi sedang beribadah.”

Giliran semua orang menunggu jawaban murid kelima yang terkenal agak nyentrik. Akhirnya murid kelima bersuara. “Guru, kalau Anda mau meninggal dunia, kini saatnya. Ditunggui oleh murid-murid kinasih Anda.”

Sang Guru tersenyum. Dia lalu memejamkan mata. Meninggal dunia.