Kategori: 'Jejak'

Hikayat Negeri Tembakau

Pada 2013-03-05 23:39:50, dalam Jejak

Tembakau srintil menjadi masyhur karena saat panen tidak semua petani “dianugerahi” tembakau ini, meski dari kebun yang sama. Dengan harga srintil yang berkisar antara Rp400.000 sampai 800.000, bahkan beberapa kali tembus di atas Rp1.000.000 per kilogram, pasti banyak orang yang mengincar lahan di daerah tersebut. Kepala desa yang saya tanya hal tersebut tergelak, “Mas, kalau ada orang mau membeli tanah di Lamuk, orang Lamuk akan bertanya balik: Anda punya tanah berapa, biar saya beli.”
 
Memang benar. Dari hasil tembakau tersebut, banyak orang dari Lamuk yang membeli tanah ke desa lain bahkan kecamatan lain. Dengan suara bariton dan sorot matanya yang tajam, Subakir bahkan mengatakan, “Beberapa tahun lalu tersiar berita menggegerkan karena ada petani-petani yang sempat mencari informasi bagaimana cara membeli helikopter. Petani-petani itu berasal dari Lamuk.”
Lanjut Baca...

Mengenal Cerutu Indonesia

Pada 2012-11-29 12:49:18, dalam Jejak

Mungkin para pengisap cerutu di negeri ini yang makin lama makin bertambah banyak, mulai menyadari bahwa mereka tidak perlu membeli cerutu buatan luar negeri toh bahannya juga dari Jember. Lebih baik mereka mengisap cerutu-cerutu buatan pabrikan Indonesia. Atau kalau punya waktu luang, langsung saja berburu cerutu ke Jember, selain harganya pasti lebih murah, mereka bisa menikmati proses pembuatannya. Bahkan jika datang di saat yang tepat bisa menyaksikan daun-daun tembakau yang bergerak indah jika diterpa angin atau pemandangan eksotis penjemuran daun tembakau.

Lanjut Baca...

Tepuktangan dari Jauh

Pada 2009-04-12 09:53:51, dalam Jejak

Saya bukan penulis puisi dan bukan kritikus puisi. Pengetahuan saya atas puisi, boleh dibilang tidak ada. Hubungan saya dengan puisi hanya pada dua hal. Pertama, saya pernah menulis puisi, dulu. Dulu sekali (tapi siapa sih yang tidak pernah menulis puisi?) Kedua, saya masih suka menikmati puisi-puisi yang ditulis oleh orang lain, sampai saat ini. Siapapun tentu bisa paham, dengan berbekal dua hal itu, seseorang tidak cukup pantas untuk mengkritisi sebiji puisi pun. Kalau kemudian tulisan saya ikut nebeng di kitab ini, urusannya sungguh sepele saja. Para penyair yang karya mereka berada di dalam kumpulan kitab ini kebetulan berada di sebuah lembaga di mana saya pernah ikut terlibat di dalamnya.

Lanjut Baca...

Mengantar dari Luar

Pada 2009-02-21 14:31:04, dalam Jejak

Sedianya, tulisan ini akan menjadi semacam pengantar pada buku kecil yang telah kelar ditulis oleh sahabat saya, Nurhady Sirimorok, yang jika tidak ada aral akan diterbitkan oleh Penerbit Insist Press di bulan ini dengan judul Laskar Pemimpi. Tetapi atas beberapa alasan, saya membatalkan pemuatan tulisan ini di buku tersebut.

Lanjut Baca...

Mansour Fakih: A Book That Will Always Be Open

Pada 2009-02-21 03:07:01, dalam Jejak

Pieter Elmas, a social movement activist in Southeast Maluku, had just returned home from taking his children to school. Not knowing why, he suddenly fell asleep and began to dream. In the dream, he was lying in the same room as Mansour Fakih, who was trying to convince him that he had been healed from his sickness. Piet didn't believe it. But Mansour showed him his back and said, "Look, my back is covered in hives. That's a sign that the sickness has already left my body." Piet saw that there were many hives on Mansour's back. Before he had a chance to think more about it, a woman suddenly came and closed the door of their bedroom. Quickly, Pieter chased the woman out with a broom. But the woman fought back, wanting to stay. Piet woke up from the disturbing dream, and quickly contacted a friend in Ambon: "I don't want to hear anything, I need to go right now to Jogja to visit Mansour!"

Lanjut Baca...