Watu Regul

Tiga malam lalu, Zeri, salah satu pemuda yang pernah aktif di lembaga Kampung Halaman, bersama temannya, bermain ke kantor Mojok. Kami lalu ngobrol gayeng. Terlebih pas ada Seno dan Fawaz di kantor.

Lalu saya iseng bilang ke Zeri, saya pengen nyewa kolam ikan di sekitar Kampung Halaman, untuk jadi semacam tempat bersenang-senang bagi komunitas KBEA. Yang lagi suntuk dengan kerjaannya, atau butuh penyegaran, bisa menginap di sana, mancing, menikmati gemercik air, bakar ikan, dll. Maklum komunitas kecil, belum sanggup ngirim anggota yang lagi suntuk untuk plesir ke Raja Ampat. Jadi saya kira itu solusi simpel dan masuk akal.

Zeri langsung menyahut. “Banyak, Mas. Beres. Aku aja pernah nyewa kolam di sana.”

Menarik ini. Lalu saya tanya hal apa saja yang perlu sejak awal saya ketahui.

Lalu Zeri berkisah tentang regul. Saat dia menyewa kolam di sana, dalam beberapa minggu dia dibikin penasaran: banyak ikan yang lenyap. Padahal daerah tersebut termasuk aman dari maling. Terutama maling ikan. Akhirnya Zeri bertanya ke warga sekitar, dan dijawab bahwa pencuri ikan itu namanya “regul”.

Zeri terhenyak. Regul? Wah ini seru. Dia lalu mengontak kedua temannya untuk ikut berjaga menunggu regul. “Kita bisa melakukan pertempuran melawan regul. Asyik kan?”

Datang malam yang ditunggu. Tiga anak muda. Gagah-gagah khas anak Mapala. Mereka menyiapkan semua ubarampe untuk berjaga di kolam: makan, kletikan, udud, kopi, dan tiga pipa besi untuk bertarung melawan kawanan regul.

Benar. Mendekati tengah malam, terdengar suara cericitan dan kecipak air. Rombongan regul sedang menyerbu kolam ikan.

Mereka bertiga mengamati. Kira-kira ada belasan regul yang masuk ke kolam. Cara kerja mereka menarik. Ada yang masuk dan memburu kolam, lalu ada yang melempar ke tanah yang agak jauh. Dan di sana, menunggu seekor regul. Itulah yang disebut: ratu regul.

Binatang semiakuatik itu memang punya jiwa keregulan yang luarbiasa. Mereka mengenal pembagian tugas. Lalu saat ikan-ikan sudah terkumpul, mereka akan makan bersama. Jadi tidak ada yang makan duluan.

Zeri kemudian memberi kode ke teman-temannya, lalu tiga anak muda gagah dengan masing-masing membawa pipa besi dan sajam, menyerbu ke arah para regul yang berada di pinggir kolam.

Mereka bertiga menghajar dan memukul para regul itu. Suasana panik. Para regul mundur. Tapi tak lama kemudian, regul-regul yang ada di dalam kolam, yang sedang memburu ikan, menyaksikan kawan-kawan mereka diserbu oleh tiga manusia, segera mentas. Ternyata jumlah mereka bukan belasan, melainkan puluhan. Puluhan regul itu lalu menyerbu tiga manusia.

Keadaan berbalik. Zeri dan kedua temannya terkesiap. Tidak siap menghadapi kenyataan bahwa para regul itu melawan balik. Tiga manusia melawan sekira 30an regul. Satu orang menghadapi 10 regul.

Zeri dan kawan-kawannya keteteran. Akhirnya laki-laki dari Piyungan itu memberi instruksi, “Mlayu wae, Daaab!” Dia lalu melempar senjatanya ke tanah, dan berlari kencang ke arah jalan aspal. Kedua temannya pun menyusul di belakangnya. Regul menang. Manusia kalah.

Keesokan harinya, Zeri mencari informasi bagaimana cara mengalahkan regul. Datanglah dia ke seorang pemburu. Si pemburu itu bilang, salah satu cara mengalahkan regul adalah menembak ratu regul.

Jadi begini versi si pemburu. Ternyata ratu regul itu bergantian. Jadi semua regul punya potensi jadi ratu. Cara menjadi ratu adalah dengan memungut batu yang ada di dalam perut regul. Di dalam perut ratu regul ada sebuah batu, biasanya disebut “watu regul”. Batu itu akan dimuntahkan oleh ratu regul ketika dia ngising. Maka di saat itulah, para regul memburu tai sang ratu. Bagi regul yang mendapatkan watu regul, maka dia menelannya. Di saat itulah dia akan jadi watu regul dalam beberapa hari. Jika dia ngising, maka watu regul yang keluar dari silitnya, akan dijadikan rebutan. Dan dia kembali jadi rakyat regul.

Ringkas cerita, salah satu cara mengalahkan regul adalah membunuh sang ratu. “Saya yang akan menembaknya, Mas.” kata si pemburu itu.

Zeri sumringah. Keesokan malamnya, dia ikut mengantar si pemburu. Dan hanya butuh waktu ringkas, tubuh ratu regul roboh. Rombongan regul panik. Lalu buyar. Manusia menang. Regul kalah.

Si pemburu itu lalu mengambil ratu regul yang sudah mati. Membedah perut binatang itu. Lalu menunjukkan kepada Zeri: “Ini batunya, Mas. Indah kan? Harganya mahal…”

Zeri ndelongop. “Untuk apa batu itu, Mas?”

“Kata orang-orang, khasiatnya untuk pengasihan, Mas.”

Batu itu lalu dibawa pulang si pemburu. Semenjak saat itu, tidak ada regul menyerbu kolam Zeri.

Seminggu sebelum panen ikan, Zeri tercenung di pinggir kolam. Ikan-ikannya banyaj yang lenyap. Malamnya, dia mengintai dari jauh. Sepasukan regul kembali menyerbu kolamnya.

Wah, mereka sudah punya ratu baru. Batin Zeri. Dan dia mempercepat proses panen ikannya.

Persil

Ketika pulang kampung kemarin, saya merasakan kegembiraan yang tidak mudah diungkap. Musim penghujan baru tiba. Lahan persil sudah mulai panen jagung, latoh (sejenis rumput laut) mulai panen, dan di hutan serta di ladang, sejenis rimpang yang dinamakan boros atau kunci, tumbuh begitu lebat.

Di musim seperti ini, laut memberikan banyak berkah. Juga hutan. Di saat saya kecil, tidak usah ngomong soal gizi, tapi ada makanan yang unik dan lezat terpacak di meja hampir semua warga: nasi jagung, sayur lodeh boros, dan bakwan jagung. Kadang semua serba-jagung: sayurnya juga dari jagung muda.

Ketika saya balik ke Yogya, lewat Jatirogo, Blora, Purwodadi… Saya makin merasa bahagia. Saya bisa merasakan itu lewat wajah-wajah sumringah orang-orang yang sedang bekerja, berlalu-lalang, mengumbar tawa di lahan mereka. Ladang-ladang jagung siap panen. Rimpang boros sejauh mata memandang ke hutan yang saya lewati, tumbuh dengan subur. Sawah tadah hujan membentang begitu luas dan menghijau. Beberapa terlihat sudah mrucuti. Kalau tidak ada aral, tunai sudah kegembiraan wargatani. Mungkin dua bulan lagi mereka akan panen raya.

Begitu saya tiba di Yogya, saya membaca berita yang nyaris tak masuk akal: beras impor akan tiba.

Nanti pasti kelas menengah akan gegeran lagi. Yang satu membenarkan impor, yang satu tentu saja menolak. Bahkan untuk berbahagia pun, kelas menengah kita masih perlu disubsidi oleh airmata petani kita.

Naudzubillah…

Soal Angka

Soal angka, saya mau menyingkirkannya jauh. Ada yang bilang 7 juta. Ada yang bilang 2 juta. Ada yang bilang ratusan ribu orang saja.

Soal waktu, ini saatnya merenungkan, karena sudah cukup ada jeda. Dan sebagai pembuka, saya akan memulai dengan pertanyaan:

Apakah benar, sejuta lebih orang datang menyemut ke Jakarta, berpakaian putih-putih, sebagian besar di antaranya urunan, menyewa bis. Ibu-ibu. Anak-anak digandeng. Bapak-bapak. Semua tenggelam dalam lautan, yang mestinya jika sebuah gerakan politik formal, sebuah rezim bakal tumbang.

Tapi tidak. Ada yang merayap di balik kulit bangsa ini yang belum terungkap.

Kalau semata soal nista agama, saya agak tidak percaya. Pertama, karena pasti kemarahan yang timbul besar sekali. Kedua, apa yang kelak disebut sebagai penistaan agama itu sebetulnya sudah tersebar jauh hari di dalam buku dan kanal Youtube.

Saya melihatnya tidak begitu. Ada yang sedang bergerak dan ini bukan semata persoalan agama. Kalau kita tidak mempelajari fenomena sosial ini, kita tidak dapat menangkap apa yang kelak menjalar dan terjadi.

Ilmu dalam tradisi Islam, tidak bisa dipisahkan dari amal dan dari akhlak. Bukan ilmu kalau tidak diamalkan, dan bukan ilmu kalau tidak untuk memperbaiki akhlak.

Agak mirip dengan tradisi keilmuan Jawa (atau sesungguhnya berpaut?); bukan ilmu kalau tidak dengan laku. Tidak bisa dipraktekkan, tidak bisa dikerjakan. Bahkan menuntut ilmu sendiri itu sudah laku. Mlaku. Lumaku.

Lalu apa yang merayap di sana? Di balik kulit tipis kebangsaan kita?

Mungkin kita harus membaca lagi Diponegoro dengan lebih hati-hati. Sebab ini bukan fenomena yang benar-benar baru. Ibarat aliran air, ada ceruk di belakang kita yang memberi kontribusi aliran.

Terlalu jauh membaca Diponegoro? Saya kira tidak. Hanya mungkin kita belum jujur membacanya. Belum mau mengakuinya bahwa pada pergolakan besar itu, terpumpun lebih dulu hasrat kolektif yang merayap lembut.

Jadi apa yang berkumpul dan menyemut di sana, tak lebih dari hasrat kolektif, yang mungkin belum menemukan kanal ekspresinya secara tepat, sehingga yang menjadi mula dari ekspresi itu adalah apa yang kemudian terlihat bergolak di permukaan: penistaan agama.

Tapi yang menyemut itu, ibu-ibu dari Tapal Kuda Jawa Timur, ibu-ibu dari lorong-lorong kota Jakarta, dari Sunda, dan banyak lagi yang lain. Bapak-bapak sederhana yang tidak mau ikut menghardik dan terbakar. Tetap teduh dan tenang dalam barisan.

Pada muka-muka mereka yang tak mudah diletuskan, ada hasrat yang memancar. Ada emosi kemerahan. Bukan rasa marah.

Lalu apa hasrat itu?

Itu tugas kaum intelektual kita yang masih lembut batinnya, masih tajam pikirannya, masih adil hatinya.

Bukankah pada Perang Jawa itu, bukan semata perang biasa? Tapi ini bukan perang…

Ya, ini bukan perang. Ini prosa pendek untuk kisah yang bakal panjang. Semua bisa punya potensi keliru membaca, jika tidak berhati-hati mengkajinya. Sebab ternyata bukan soal agama. Bukan soal penista.

Sangat bisa jadi, yang berdiri dua kutub dan saling berbenturan itu, keliru memindai batin massa.

Dan mereka terus bergerak. Merayap. Lembut. Mengalir…

Berbagi

Ada banyak mitos dalam medsos. Kadang sebetulnya bukan mitos, tapi dinamika perkembangan medsos itu kerap diabaikan atau mungkin tidak diketahui.

Pokok bahasan saya kali ini dalam konteks medsos sebagai media untuk kepentingan bisnis dan penyebarannya.

Anda tentu ingat 8 atau 9 tahun lalu, banyak orang meninggalkan Facebook untuk hijrah ke Twitter. Hijrah yang luarbiasa. Tapi ketika Facebook memperbaiki diri, 3 tahunan yang lalu, mereka yang hijrah kembali lagi ke Facebook. Tapi bukan berarti Twitter berdiam diri. Kini medsos itu cukup stabil dan terus melakukan inovasi.

Beberapa hari ini saya beruntung karena bertemu dengan para pakar medsos dan pengguna medsos sebagai sarana bisnis. Jadi poin-poin yang saya paparkan ini sebetulnya saya rangkum dari orang-orang yang saya anggap pakar, dan praktek yang saya amati bersama para praktisi.

Dulu ketika Twitter berkuasa ada asumsi yang diuji mesin, bahwa sebanyak 10 persen dari follower kita, akan punya impresi terhadap konten kita. Kalau kita jualan, 10 persen follower itu adalah ceruk paling potensial.

Anggapan tersebut sekarang ini mengarah ke Instagram (IG). Benarkah demikian?

Sebelum lanjut ke sana, sebagai informasi awal, sekarang ini banyak pebisnis bahkan pebisnis media yang mengurangi alokasi anggaran mereka untuk beriklan di Facebook. Alasannya ada dua. Pertama karena Facebook terbukti nakal dengan cara mengotak-atik algoritmanya, sehingga membuat mau tidak mau pengiklan harus memasang iklan lebih banyak dan lebih banyak lagi. impresinya dibuat sedemikian rupa makin mengecil. Termasuk termutakhir algoritma jumlah tayangan yang terlihat dalam dalam fitur video Facebook.

Kedua, generasi milenial dan perempuan melakukan hijrah besar-besaran ke Line dan IG.

Dalam proses hijrah ini, maka wajar terjadi rumusan baru sebagaimana hal yang terjadi pada Twitter dulu. Banyak orang atau pebisnis, mungkin dari pengalaman mereka, merumuskan bahwa 10 persen dari jumlah follower akan jadi pembeli.

Jadi misalnya, follower IG Anda ada 1000 orang, maka akan ada 100 orang yang membeli produk Anda. Rumusan ini sangat gegabah.

Sebetulnya yang lebih tepat seperti ini. Jika Anda punya 1000 follower di akun IG Anda, maka 10 persen dari follower Anda akan memberikan impresi. Impresi ini dalam makna yang paling rendah akan menyimak, di level medium akan diekspresikan dengan memberi tanda love, di level yang lebih tinggi lagi akan berkomentar dan meneruskan, dan di level tertinggi: membeli.

Soal berapa banyak dari 10 persen itu yang akhirnya membeli sebagai reaksi tertinggi atas jualan Anda, sampai status ini dibuat, tidak ada yang berani memberikan konklusi.

Tapi pada dasarnya, medsos punya hukum yang mirip satu sama lain. Sekaligus punya karakter yang berbeda. Hal umum yang serupa misalnya apakah akun tersebut dianggap kreatif dan punya karakter atau tidak. Lalu bisa dipercaya atau tidak. Kemudian cepat tanggap terhadap respons atau tidak. Gimiknya bagus, kreatif, berkatakter, tapi kalau dikontak gak segera membalas ya sama saja. Kepercayaan akan luntur. Barangnya bagus, harganya bagus, tapi gimiknya buruk, siapa yang tertarik melihatnya?
Jadi semua elemen itu penting untuk digarap. Barang dagangan bagus, iklannya dikerjakan dengan kreatif, didiseminasikan dengan efektif dan efisien, CS-nya responsif, itu sudah.

Dan dalam mengkaji medsos, singkirkan soal suka atau tidak suka. Saya tidak punya akun Line. Juga saya tidak suka dengan karakter medsos Line. Tapi data menunjukkan terdapat migrasi yang sangat besar ke medsos tersebut. Efektif untuk mendiseminasikan isu, dan bagus untuk jualan. Ya saya harus katakan bahwa jika Anda mau berbisnis dan mempertimbangkan opinion leader, masuklah ke Line. Sekalipun saya tidak menggunakannya.

Sebagaimana saya suka karakter Facebook, tapi  saya memang harus mengatakan bahwa untuk bisnis, akun ini sudah tidak ramah. Karena mempermainkan algoritma untuk mengeruk uang.

Sekali lagi ini dalam konteks bisnis ya. Bukan dalam konteks akun-akun personal. Kalau yang personal sih, santai saja. Sepanjang ada gunanya, silakan…

Status ini sekaligus untuk panduan bagi para timses Pilkada. Jangan sampai salah beli barang ke konsultan medsos dan digital.


Politik Baper

Wabah politik baper terlalu cepat menyerang negeri ini. Sebetulnya ini mirip dengan sikap baper kita di kehidupan sehari-hari.

Anggap saja ada teman atau rekan sekantor Anda melakukan kekeliruan, atau hal yang tidak Anda setujui, lalu semua hal yang dilakukannya akan salah di mata kita. Misalnya dia terlambat ngantor, tapi suatu saat si teman mempresentasikan gagasannya yang keren, maka yang terbayang pertama kali bukan proposal gagasannya melainkan keterlambatan dia. Itu baper.

Dalam politik juga kerap demikian. Misal Presiden atau Gubernur atau Bupati punya kebijakan yang kita tentang, lalu di sisi lain mereka membuat kebijakan yang bagus, hal yang paling utama terlihat adalah kekeliruannya.

Dalam konteks perjuangan masyarakat sipil di era demokrasi liberal, adalah era mendorong, mendukung, memperluas semua agenda pemerintah (di level manapun) yang pro-keadilan dan kessjahteraan. Serta mengkritik secara konsisten kebijakan yang tidak menyalahi atau melenceng.

Artinya apa? Ada kesadaran bahwa tidak mungkin memenangkan semua. Berpolitik yang rasional adalah menjauhi kemerosotan mental prinsip: modal cekak mau menang banyak. Jelas itu tidak mungkin.

Maka kalau pemerintah di level manapun membuat kebijakan A yang berguna bagi masyarakat, sementara kebijakan B melenceng dari itu, logikanya: Dukung A tolak B.

Belakangan ini yang sering terjadi: kebijakan A tetap salah karena pemerintah membuat kebijakan B.

Saya kasih contoh. Pemerintah katakanlah keliru dengan kebijakan reklamasi. Tapi tepat untuk kebijakan dana desa. Maka logika politiknya: Dukung dana desa, kritik reklamasi. Bukan: dana desa salah karena kebijakan itu berasal dari pemerintahan yang sama yang membuat kebijakan reklamasi.

Masyarakat sipil tahu kapan dia mengkritik dan tahu kapan memberikan apresiasi. Terlebih di sebuah negeri yang kebanyakan organisasi pergerakannya beranggota  tak lebih besar dari jumlah murid sekolah SD kelas 1 di sebuah kecamatan di kabupaten Tuban.

Selamat merayakan Natal.


Pancasila

Sekalipun saya kuliah di sebuah fakultas yang paling banyak mengajarkan tentang Pancasila, tapi saya sampai sekarang tidak pernah bisa mengerti untuk apa dan bagaimana Pancasila beroperasi di negeri ini.

Di hampir semua sila, justru terkesan kita menghina mereka. Mencampakkan mereka. Dibaca dan dipelajari tapi tidak dikerjakan. Diseminarkan dan didengungkan tapi tidak menjadi acuan.

Itu jika kita berani jujur. Bukan memoles-moles nilai-nilai di Pancasila.

Ketuhanan yang selalu menjadi ajang perselisihan. Kemanusiaan tak jelas apa ukurannya, penggusuran dan kekerasan terjadi di berbagai tempat dan sektor. Adil apanya? Beradab dari mana? Persatuan yang juga tidak jelas, lha kita bertikai setiap saat. Kerakyatan? Yang ada bukankah keelitan? Berhikmat atas apa kita? Berbijak dari sudut mana? Keadilan sosial? Yakin? Apalagi bagi seluruh rakyat Indonesia. Jelas kita tidak sedang mengarah ke sana.

Sekarang ini kita seperti benar-benar sedang menghina Pancasila sehina-hinanya. Sebab menghina yang paling mursal adalah berpura-pura menyukai, memuliakan, menghayati, tapi sesungguhnya yang kita lakukan adalah mencampakkannya, menguburnya, menendangnya jauh-jauh.

Kita semua tahu bahwa Pancasila tidak menjadi acuan apapun, tidak dijadikan landasan apapun, tidak menjadi pertimbangan apapun.

Lalu buat apa Pancasila? Buat kita hina sebegitu rupa?

Sambal dan Drama

Di meja gelap kecoklatan itu, Komang meletakkan 5 buah cawan. Dua berisi sambal. Tiga berisi cairan kemerahan. Rahung menatap kelima cawan itu dengan muka bingung.

“Dua cawan itu sambal sederhana. Bahan kedua sambal itu sama persis. Hanya cabe merah diulek dengan bawang putih. Warnanya tampak sama. Rasanya juga hampir mirip. Hampir.” Komang menatap Rahung dengan tatapan mata tajam, memberi penekanan pada kata ‘hampir’.

“Sambal yang satu diolah dengan cara berbeda. Salah satu sambal itu dibuat dengan cara mengulek bawang putih dan cabai, lalu diguyur minyak jelantah panas. Sedangkan satunya lagi, bawang putih dan cabe merah digangsa dulu di bersama minyak, baru diulek.”

Muka Rahung mulai pucat. Tidak salah lagi. Jam terbang dan ketrampilan memasaknya sedang diuji oleh salah satu maestro bumbu dari daerah Buleleng Bali.

“Cicipilah…” Komang menyandarkan punggungnya ke kursi. Mengambil sebatang rokok. Menyalakan. Mengisap dalam-dalam sambil tetap memandang tesmak ke arah Rahung.

Pelan, pemuda berusia hampir 27 tahun itu mendulitkan ujung telunjuk kanannya ke cawan. Lalu meletakkan ke lidahnya. Dia memejamkan mata. Mencoba menajamkan indera pengecapannya. Pelan dia memejamkan mata. Lalu telunjuk kirinya mendulit cawan satunya lagi. Meletakkannya di lidah. Dipejamkan matanya.

“Bisa membedakan?”

Rahung hampir mengangguk. Tapi mendadak dia ragu.

“Keraguan menunjukkan ketidakmatangan ketrampilan seseorang…”

Rahung tersentak. Dengan muka pasrah, dia menggelengkan kepala.

Komang mengambil dua cawan berisi sambal. Disisihkan ke arah samping meja, mendekati cangkir kopinya yang masih menguarkan wangi tubruk.

“Tiga cangkir berisi cairan sama-sama air cabe. Air cabe yang satu, dibuat dari cabe yang diiris-iris. Lalu direndam air. Lalu disaring. Satu lagi, cabe digeprek, lalu dikum dengan air. Sedangkan satunya lagi, cabe diulek, diberi air. Sama-sama air cabe. Cicipilah…”

Rahung menarik napas panjang. Bau bunga cengkeh dari kebun yang terletak di belakangnya tercium kuat. Sore masih awet. Suara ayam di pekarangan terdegar kuat.

Dia mencelupkan telunjuknya ke dalam salah satu cawan. Lalu mengulum telunjuknya. Demikian bergantian ke cawan kedua dan ketiga.

Dua ekor anjing melintas di dekat kaki Rahung. Komang memberi isyarak kepada kedua anjing itu untuk pergi. Lalu sepasang mata laki-laki paruh baya itu kembali menatap Rahung. “Bisa membedakan?”

Wajah Rahung memerah. Dia menggelengkan kepala.

“Wijayanto menginap di mana?”

“Di Sanur, Bli.”

“Kamu langsung balik atau mau menginap di sini dulu?”

“Langsung ke Denpasar, Bli.”

“Langsung menemui Wijayanto?”

Rahung mengangguk.

“Sudah tahu apa yang mesti kamu sampaikan kepada gurumu itu?”

Lagi-lagi Rahung mengangguk.

“Apa yang akan kamu sampaikan kepadanya?”

“Saya masih belum bisa memasak.”

Komang mengangguk.

Rahung memanggil sopir yang mengantarnya. Dia berpamitan dengan wajah agak murung.

Sepanjang perjalanan, dia merutuki nasibnya. Dia tidak bisa membayangkan betapa marah gurunya. Dia adalah murid ketiga Wijayanto yang dikirim sepanjang 5 tahun untuk diuji oleh Komang. Gurunya adalah juru masak istana. Punya pengalaman melanglang buana ke berbagai wilayah di luar negeri untuk mempelajari masakan.

Tapi gurunya tak pernah bisa mengalahkan Komang. Laki-laki tukang masak kelas kampung di pelosok Bali itu, sudah tiga kali membanting murid-murid Wijayanto dengan ujian sepele.

Tepat di sebuah kelokan tajam di sekitar danau Tamblingan, kabut tebal menerjang dan mengemuli mobil yang dinaiki Rahung. Sopir memperlambat laju mobil. Tiba-tiba sesuatu melintas di kepala Rahung. Lintasan cepat di pikirannya itu, membuka lembar awal dari kisah panjang ini…

Tentang Kematian

Sehabis ibadah pagi, seorang guru meminta lima murid kinasihnya mendekat. Lalu dia bertanya kepada mereka satu persatu. “Jika kalian kelak meninggal dunia, dalam kondisi seperti apakah yang kalian inginkan?”

Murid pertama menjawab. “Saya ingin sebelum meninggal dunia, menderita sakit yang lama terlebih dahulu. Saya ingin Tuhan membersihkan dosa saya lewat sakit itu terlebih dahulu sebelum saya menghadap kepada-Nya.”

“Kalau saya ingin meninggal dunia di tengah hutan. Tidak ada yang tahu. Tidak membuat banyak orang bersedih.” ujar murid kedua.

Lalu murid ketiga menyambung. “Saya ingin sebelum meninggal dunia berkumpul dengan semua keluarga dan para sahabat. Saya ingin, kematian saya menjadi pelajaran buat semua orang terdekat saya.”

Murid keempat berkata dengan tenang. “Saya ingin jika kelak meninggal dunia dalam kondisi sedang beribadah.”

Giliran semua orang menunggu jawaban murid kelima yang terkenal agak nyentrik. Akhirnya murid kelima bersuara. “Guru, kalau Anda mau meninggal dunia, kini saatnya. Ditunggui oleh murid-murid kinasih Anda.”

Sang Guru tersenyum. Dia lalu memejamkan mata. Meninggal dunia.


Ajakan Menjadi Pegawai Negeri Sipil

Ajakan agar anak muda harus kreatif, tentu ajakan yang baik. Tapi saya tidak setuju jika ajakan itu untuk tidak menjadi PNS.

Saya punya pendapat yang berbeda. Mari kita mulai dari hal yang lazim diungkapkan oleh para motivator.

“Coba ingat teman-teman sekolah dan kuliah Anda. Ingatlah mereka yang rajin dan ber-IP tinggi. Di manakah mereka semua?

“Ya, jadi buruh terampil di perusahaan-perusahaan. Siapakah atasan mereka? Para teman Anda yang yang IP-nya pas-pasan.”

“Sekarang coba ingat teman-teman Anda yang ber-IP pas-pasan. Di manakah mereka semua? Sebagian jadi direktur perusahaan swasta. Mereka kreatif. Punya jiwa kepemimpinan yang tinggi. Sehingga ketika berkarier di perusahaan besar, dengan cepat menyalip teman-teman mereka yang ber-IP tinggi.

“Tapi siapakah pimpinan para direktur itu? Siapakah mereka? Mereka yang tidak sekolah. Atau sekolah dan hampir tidak lulus. Atau dikeluarkan dari sekolah.

“Inilah ironisnya dunia pendidikan. Anak-anak yang dulu di sekolah berada pada level terbawah, justru ketika mengarungi hidup, berada di puncak piramida ekonomi. Mereka merekrut orang-orang pintar dan kreatif. Menyumbang pajak terbesar negaranya. Memberi beasiswa. Menyumbang kampus mereka, mungkin bahkan lebih banyak dibanding yang disumbang oleh 90 persen alumni.”

Begitu bukan biasanya para motivator bekerja? Adakah yang salah? Tidak. Para motivator itu menyatakan fakta dengan gaya mereka yang agitatif dan provokatif.

Tapi pertanyaan saya, kalau semua orang pintar dan kreatif direkrut oleh para pengusaha, dan orang-orang kreatif pula yang membuat usaha atau perusahaan, lalu siapa yang mengelola administrasi negara ini?

Kalau para dosen hanya diisi oleh mereka yang punya gelar doktor tapi miskin imajinasi, apa jadinya negeri ini?

Justru saya menyarankan, sudah saatnya orang-orang kreatif menjadi PNS, menjadi dosen dan pengajar, menjadi birokrat. Agar mesin negeri ini punya pelumas yang baik. Gesit. Lincah. Kaya inovasi. Punya greget. Dan tidak kalah cerdik jika harus berhadapan dengan pengusaha hitam serta politikus culas.

Jadi PNS itu penting. Jangan tinggalkan sektor itu, untuk diisi orang-orang yang mandek. Sebab mereka bakal mudah membebek pada orang-orang cerdik yang punya banyak duit.

Menjadi pengusaha itu penting. Menjadi politikus juga penting. Menjadi petani juga penting. Menjadi intelektual juga penting. Semua penting. Tapi jangan pandang rendah PNS, mereka juga penting.

Yang sial di sebuah negeri adalah punya barisan PNS dengan niat pengen kerja enak, punya dana pensiun, dan ketika masuk harus menyuap.

Jangan terlalu mendengar omongan para motivator. Dengarkan tapi sedikit saja. Sebab kalau semua orang tidak mau mendengarkan mereka, dari mana mereka hidup?

Tiga Pohon

Seorang murid, setelah sekian tahun turun gunung, sowan lagi ke gurunya. Selain bersilaturahmi, juga untuk mendapatkan suntikan kebijaksanaan.

Sang Guru lalu mengajak Si Murid untuk berjalan ke pekarangan, di belakang padepokan. “Lihat pohon buah itu…” ujar Sang Guru, “hampir setiap tahun, pohon itu berbuah. Pohonnya subur. Setiap kemarau panjang, aku siram. Aku rawat. Tapi buahnya tidak terlalu manis…

“Lalu lihat pohon buah satunya lagi…” kata Sang Guru sembari menunjuk ke arah sebuah pohon. “Aku merawatnya. Tapi dengan cara yang berbeda. Kalau musim kemarau kering, tidak pernah kusiram. Berkali-kali pohon itu terlihat hampir mati. Tidak setiap tahun pohon itu berbuah. Tapi kalau berbuah, lebat dan manis buahnya mengalahkan pohon yang kusiram setiap kemarau panjang…”

Si Murid takjub. Bertahun dia di padepokan itu, hampir saban sore dia melihat kedua pohon itu, tapi tak pernah memperhatikan bagaimana gurunya punya cara yang berbeda dalam merawat kedua pohon itu.

“Pohon yang kurawat dengan cara kusiram setiap kemarau, selalu memberi buah lebat. Sehat. Subur. Tak pernah terancam mati…

“Sementara pohon yang kurawat dengan cara yang berbeda, tak pernah kusiram di musim kering panjang, sesekali tampak kerontang, hampir mati. Tapi begitu kena air, dia tumbuh dengan baik. Penderitaan membuatnya tabah. Lalu mempersembahkan buah yang jauh lebih lebat dan lebih manis sekalipun tidak setiap musim.”

Sang Guru kemudian berjalan pelan. Si Murid mengikutinya.

“Kamu lihat pohon itu?” tanya Sang Guru, lagi-lagi menunjuk ke sebuah arah.”

“Mana, Guru?”

“Di sana…”

“Tidak ada pohon di sana…”

“Dulu ada. Tapi sudah mati.”

“Kenapa Guru?”

“Aku tidak tahu. Karena tidak pernah kuperhatikan, apalagi kurawat.”

Si Murid diam. Mereka terus berjalan pelan. Hanya ada suara daun dan ranting kering yang terinjak kaki-kaki mereka.

Lalu terdengar suara bening Sang Guru, “Pohon yang kubiarkan tanpa air itu, mengeluarkan daya hidupnya yang luarbiasa untuk mengatasi penderitaannya. Risikonya, dia mati. Tapi kalau dia bertahan, dia jauh lebih kuat. Memberi buah yang lebih manis dan lebih lebat. Sementara pohon yang selalu kusiram di musim kemarau, dia tumbuh lebih aman. Tidak terancam kematian. Selalu berbuah. Walaupun kalah lebat dan manis.”

“Mana yang lebih baik dalam cara merawat kedua pohon itu, Guru?”

“Semua baik. Semua ada kelebihan dan risikonya. Kita boleh punya cara yang berbeda dalam merawat pohon. Termasuk dalam mendidik manusia. Tapi kesadaran dan perhatian itulah yang paling utama. Yang keliru adalah tidak memperhatikannya. Seperti pohon ketiga.”