Mengenang Seorang Sahabat (9)

Semenjak tulisan serial yang saya tulis dengan spontan ini, saya banyak ditanya oleh orang, apakah peristiwa-peristiwa ini karangan atau kisah nyata? Ini kisah nyata. Selain almarhum sahabat saya yang menjadi tokoh utama, semua pelaku masih hidup dan sesekali ikut berkomentar. Selain itu, banyak orang yang juga menjadi saksi dan sesekali mereka berkomentar.

Setelah saya beritahu, biasanya mereka akan bertanya, kenapa kisahnya bisa ‘sekonyol’ itu? Jujur saja ‘kekonyolan’ yang saya ceritakan sudah saya pilih. Banyak hal yang jauh lebih konyol yang tidak bisa saya ceritakan atau kalau saya ceritakan, mungkin Anda tidak percaya. Saya akan mencoba sedikit dari banyak hal yang saya sengaja sembunyikan kali ini.

Dulu, salah satu hal yang kami sukai adalah mengisap ganja. Kalau kami beli bahkan sampai tidak ada istilah untuk menakar kuantitasnya sehingga kami memakai istilah sendiri: ‘sak bantal’.

Di zaman kisah ini berlangsung, ada istilah ‘sak lin’ atau kependekan dari ‘sak lintingan’, kemudian ‘sak am’ atau ‘sak amplop’, kemudian yang terbanyak ‘sak garis’. Satu linting, satu amplop dan satu garis. Satu garis itu kira-kira ganja yang dibungkus satu lembar koran dibagi 4. Kami biasa membeli ‘sak bantal’ isinya ganja sebesar satu lembar koran ditekuk menjadi dua. Kami namakan ‘sak bantal’ karena bisa untuk bantalan tidur.

Semua ganja kami disimpan di rumah almarhum sahabat saya. Jika ia keluar, ia membawa satu bungkus rokok penuh dengan daun istimewa itu. Saat mengisap ganja, kami juga tidak pernah sembunyi-sembunyi. Paling sering di dalam mobil. Awalnya, kami ketakutan. Sering kami memperingatkan almarhum agar kalau mengisap jangan di jalan raya karena banyak polisi. Tapi yang terjadi, ia malah membuka jendela saat ada polisi dan berteriak, “Pak Polisi, iki lho ganja! Ganjaaaa! Gaaaaaaanjaaaaaa!”

Kami pucat semua. Itu salah satu ketakutan terhebat yang pernah saya rasakan. Tapi anehnya, polisi tersebut tidak memgejar, dan kami memutuskan tidak akan pernah lagi memperingatkan almarhum. Kalimat yang paling sering kami dengar dari almarhum dan selalu diulang-ulang: “Negoro ki ngopo to… Ganja ki marai lucu, damai, nyenengke, kok malah dilarang. Negoro ki ra seneng po nek awake dhewe seneng. Criwis banget je…”

Biasanya kalau sudah seperti itu, salah satu dari kami nyeletuk, “Nek kowe takon ngono ki, njuk kami ki mbok kon takon sapa, je? Piye nek awake dhewe ra sah ngrembug negoro? Ora nyenengke je…”

Lalu kami tahu ia akan menjawab apa, dan kami selalu tertawa terbahak-bahak, “O ngono ya… Baiklah…”

Polisi. Dalam rentang kehidupan kami yang tidak jelas itu, paling sering kami berhadapan dengan polisi lalulintas, terutama almarhum. Ia sejak kuliah semester satu sudah mengendarai mobil ke kampus dan tidak pernah punya SIM. Jangankan SIM, STNK pun kadang ia lupa.

Suatu malam, kami tertangkap cegatan polisi di Malioboro. Kami ditilang. Setelah diberi surat tilang, tanpa kami sadari, almarhum menjalankan mobil, memutar sehingga kami berhadapan dengan cegatan polisi di tempat yang sama. Kami hanya diam dan sudah memaklumi, almarhum sedang melakukan perbuatan iseng yang tidak dapat diganggu gugat.

Ia membuka jendela ketika polisi memberikan hormat.

“Bisa pinjam SIM dan STNK, Pak?”

“Tidak ada, Pak. Yang ada hanya ini…” ujar sahabat saya sambil mengulungkan surat tilang yang barusan didapatnya.

“Lho, apa ini, Pak?” Polisi tersebut bertanya sambil agak bingung.

“Kalau tidak salah itu yang namanya ‘surat tilang’, Pak…” jawab sahabat saya dengan kalem. Perut kami mulai mengencang menahan tawa…

“Lho, Bapak ditilang di mana?”

“Lho, ya di sini, kok di mana?!” ujar sahabat saya.

Polisi tersebut bingung sambil mengulungkan surat tilang. Mobil berjalan pelan, dan sepanjang perjalanan, kami tertawa sambil teriak, “Cah bajingaaaaaan!”

Tapi ada satu kejadian yang masih ada urusannya dengan polisi yang akan kami ingat selamanya. Suatu pagi, sahabat saya sudah nongkrong di Bonbin. Ketika kami datang, kami penasaran. Biasanya ia datang ke Bonbin sudah menjelang siang.

“Kowe ngopo je kok wis njegonggok neng kene?” tanya saya sambil duduk. Teman-teman pun mulai merubung karena pasti ada sesuatu yang besar baru saja terjadi.

“Aku bar nduwe masalah je karo polisi…” jawabnya dengan muka pucat dan menerawang.

“Polisi ngendi? Parani po piye?”

“Ora usah…”

“Lha ngopo je?”

“Aku ki mau esuk tangi merga meh ujian…”

“Kok tumben kowe melu ujian?”

“Sik to, Nyuk… kowe ki takon meh tak jawab kok malah mengintimidasi. Dadi aku ki arep nyritakke, kok malah crewet banget pertanyaanmu…”

Kami mulai tertawa.

“Ngene, Cah Bagus… aku ki mbuh piye mau esuk merasa kudu melu ujian. Njuk budhal. Malah dicegat polisi neng mbunderan.”

Kami mendengarkan dengan serius…

“Terus biasa to, ditakoni nduwe SIM apa ora, ya tak jawab ora duwe. Ditakoni maneh nduwe STNK apa ora… Aku njuk klithih-klithih golek neng dompet. Jebul ra ono. Rak ya bajingan to STNK-ku kuwi… ora tau dibutuhke, begitu aku butuh malah ra ono…”

Kami mulai tersenyum…

“Njuk ditakoni, nduwe KTP apa ora. Tak jawab jujur bahwa nek sing kuwi aku ora nduwe. Ditakoni maneh, aku nduwe kartu mahasiswa apa ora. Aku malah lali nek kudune nduwe kuwi. Aku jujur njawab ora nduwe. Njuk polisine bingung. Akhire aku ngomong nek aku nduwe kartu ujian, tak takoni, “Pak, saya punya kartu ujian, Bapak mau?” Nah, polisine gelem. Kuwi kan positif polisi goblok to… Polisi kok nahan kertu ujian, kuwi positif polisi pekok banget… Aku njuk ngebut ngoyak ujian…”

“Lha kowe kudune rak ujian, njuk ngapa njegonggok neng kene?” kejar saya.

“Lho, kowe ki goblok po piye? Mbasan aku meh mlebu ruang ujian, aku ditakoni ro dosen-e endi kertu ujianku… Lha aku rak ya malah bingung to… iki sing goblok aku apa dosen-e…”

“Maksudmu sing goblok kowe po dosenmu ki piye, je…”

“Lha kan kertu ujianku digawa polisi!”

Kami tertawa tertawa terbahak-bahak…

“Nek kuwi genah sing goblok dudu dosenmu!”

Kisah itu membuat Mbak Ning yang ikut mendengar sampai harus lari ke WC saking tidak kuat menahan tawanya.

***

Mengenang Seorang Sahabat (8)

Sebagai anak muda yang hidup di bumi Mentaram, kami tentu tidak bisa lepas dari gojeg. Kami adalah anak kandung mulai dari almarhum Basiyo sampai Den Baguse Ngarso, dari Marwoto sampai Bambang Rabies. Waktu itu Dewo PLO, Anang Batas, Kelik Pelipur lara dkk sudah mulai meniti karir di dunia cengengesan.

Kata almarhum teman saya, ” Urip ki anane mung 3: nyekikik, nyekikik karo nyekikik.”

Dalam kehidupan sehari-hari, gojeg kere yang konvensional ala Yogya juga kami lakukan.

Bagor biasa menggoda Mbak Ning dengan gojeg lawasan yang hampir semua orang Yogya tahu, kecuali sedikit orang dan dari sedikit orang itu adalah Mbak Ning.

“Mbak Ning, es teh!” kata Bagor sambil duduk dan mengeluarkan ududnya.

“Sepurane, Mas. Es-e entek, je…”

“Yoh, nek ngono es jeruk.”

Mbak Ning lalu kluthak kluthik mulai mempersiapkan minuman. Ia kemudian agak mikir, dan berjalan mendekat ke arah Bagor, “Mas, sing entek ki es-e, je…”

“Lho lha iya…” jawab Bagor tenang seperti tidak ada masalah.

“Lha kok sampeyan pesen es jeruk?”

“Ora. Aku ki mau pesen es teh.”

“Ho’oh. Njuk takjawab nek es-e entek.”

“Nah, njuk aku pesen es jeruk!”

“Lha ya es-e ki entek, Mas!” Mbak Ning mulai ngotot.

“Aku ki pesen es jeruk. Dudu es. Salah-e es jeruk ki apa je kok mung masalah es entek wae njuk dadi korban?”

“Ah embuh, Mas. Angel omongan ro kowe…”

“Lho berarti ora iso to? Nek ora iso ki ra sah dilakoni, Mbak Ning… Urip ki digawe santai wae.”

Biasanya Mbak Ning cuma bisa tertawa ngekek sambil berpikir bahwa ia sedang berhadapan dengan salah satu orang yang reputasi hidupnya hanya dibangun dari satu hal: positif kenthir.

Berhadapan dengan kami artinya berhadapan dengan bahasa dan cara berpikir yang sama sekali… Semua orang harus bersiap dengan itu. Sebagai contoh, suatu saat Denny, salah satu orang yang dikenal punya kepribadian baik dan punya solidaritas tinggi mengingatkan ke masyarakat penghuni Bonbin bagian pojok bahwa ada 3 agenda yang harus dilakukan. “Awake dhewe dina iki nduwe telung agenda, Dab: niliki Ical neng Panti Rapih, kondangan neng manten-e Mas Agus, karo syukuran wisudane Mas Heri. Penake piye alur-e?”

Kami kemudian sibuk diskusi supaya ketiga kegiatan bisa berjalan dengan efektif. Lalu Denny menyimpulkan: “Oke, berarti jam papat sore awake dhewe neng Panti Rapih niliki Ical, bar kuwi dilanjut dolan neng Ndayu: mangan-mangan neng syukurane Mas Heri, njuk lagi neng Wisma Kagama: neng kawinane Mas Agus.”

Semua orang mengangguk setuju. Tiba-tiba almarhum sahabat saya nyeletuk. “Nek menurutku kok ora ngono ya…”

“Ha njuk piye?” tanya Denny dengan gusar karena ia merasa sudah memutuskan lewat jalan musyawarah mufakat.

“Awake dhewe ki lebih baik neng kawinane Mas Agus terakhir wae. Sakdurunge kuwi neng sore jam papat niliki Ical neng Panti Rapih sik. Bar kuwi langsung meluncur neng syukurane Mas Heri.”

Orang-orang mulai mencerna dan pelan-pelan mengernyit. Di saat itu biasanya Bagor dengan tangkas menerobos, “Ora efektif kuwi!”

Orang-orang yang bingung itu kemudian menoleh ke arah Bagor.

“Nek menurutku, agenda pertama ki tetep niliki Ical jam papat neng Panti Rapih, agenda terakhir neng kondangane Mas Mas Agus. Di sela-sela kuwi, awake dhewe neng syukurane Mas Heri.”

Orang-orang kembali terlihat berpikir. Lalu mulai mengernyit. Saya menambahi, “Aku entuk usul ra?”

Mereka menoleh ke saya.

“Ngene, kondangan nikah neng Mas Agus ki mending terakhir wae. Jam papat awake dhewe meluncur neng Panti Rapih niliki Ical, bar kuwi njuk mangan-mangan neng acara syukuran wisudane Mas Heri.”

Orang-orang mulai mengernyit kembali dan kemudian mulai sadar, lalu serempak bilang, “Cah bajingaaaan kabeeeeeeh!”

Kami bertiga tertawa ngikik.

Tapi yang paling kami sukai adalah kalau ada anggota masyarakat bonbin yang patah hati. Biasanya, ketika sudah mulai reda, mereka curhat. Kami biasanya mencoba mendengarkan dengan khusyuk. Mencoba berempati. Setelah selesai curhat, dengan senyumnya yang penuh misi, almarhum teman saya akan bicara, “Kisah cintamu ki betul-betul… tapi kowe ki salah panggonan curhat.”

Orang tersebut biasanya akan bingung.

Sahabat saya melanjutkan, “Lha kami ki nek ana kisah asmara berakhir tragis ki senenge ra umum, je…”

“Kok iso?”

“Lha slogan kami ki: kanca seneng, melu seneng. Kanca susah: tansaya seneng.”

Orang yang curhat biasanya akan tidak datang untuk sementara waktu. Mungkin karena malu. Kalau ada orang yang bertanya kenapa Si Orang Curhat lama tidak nongol, salah satu dari kami pasti nyeletuk, “O cah kae lagi belajar mendewasakan diri, bahwa tragedi bagi dia itu hiburan buat kami.”

Orang-orang lalu tertawa. Kami kembali memainkan kartu di atas meja. Kembali mabuk. Kembali tertawa.

Mengenang Seorang Sahabat (7)

Kali ini, sebelum saya mulai berkisah, ada dua hal yang ingin saya sampaikan. Pertama, kisah kali ini menurut saya punya tantangan teknis untuk menyampaikannya. Dan saya bisa mengukur diri sendiri. Sepertinya saya tidak bisa menyampaikan dengan baik. Jika itu yang terjadi, saya minta maaf yang mendalam kepada almarhum sahabat saya karena salah satu ‘legacy’ penting dalam hidupnya tidak bisa saya sampaikan dengan baik ke hadirin pembaca.

Kedua, bagi Anda yang memiliki rasa kepemilikan agama dan ketuhanan yang besar, kemungkinan Anda akan tersinggung. Saya meminta maaf dari awal, dan mewanti-wanti sebaiknya Anda tidak usah meneruskan membaca kisah ini.

Satu-satunya tempat kami nongkrong di kampus adalah di kantin bonbin. Kantin tersebut terletak di Fakuktas Sastra. Kebanyakan yang jajan dan nongkrong di sana selain anak sastra adalah anak ekonomi, psikologi, sospol dan tentu saja filsafat. Saya tidak tahu kenapa disebut bonbin dan sangat tidak ingin tahu dan tidak berkepentingan untuk tahu.

Meja favorit saya di pojok, dekat meja penjual yang bernama Mbak Ning, dekat kethoprak Heru dan sedikit melangkah saja dekat dengan pos lapak koran dan majalah.

Kami bukan hanya makan, minum dan becanda di sana. Tapi juga mabuk-mabukan dan tentu saja main samgong.

Suatu saat, almarhum bilang, “Aku kok mulai ora seneng ya nek ngerti wong meh mangan ndadak nganggo merem, berdoa, umak-umik…”

Mendengar kalimat itu, feeling saya langsung mengatakan bahwa sahabat saya itu sedang memikirkan suatu hal yang ndrawasi.

Bagor yang aktivis prodem dan pencinta Cak Nun langsung menyahut, “Ha mbok ben to, wong umak-umik nganggo cangkem-cangkeme dhewe, merem nganggo matane dhewe, kowe kok ribut…”

“Mengganggu pemandanganku, je…” ucap sahabat saya dengan lempang.

Keesokan harinya, peristiwa pertama kali terjadi. Seorang perempuan berada persis di depan almarhum. Di piringnya ada nasi, telor dan tempe. Ia berdoa. Saat memejamkan mata, tangan almarhum berkelepat menyahut tempe di piring perempuan tersebut. Lalu memindahkannya ke piring orang lain di meja seberang yang masih bisa di jangkaunya. Kebetulan orang tersebut sedang ngobrol dengan temannya.

Dua adegan bersamaan terjadi. Begitu si perempuan usai berdoa lalu pelan menyendok nasinya, ia mengernyit. Sementara laki-laki di meja seberang yang usai menengok ke arah temannya, lalu kembali menyantap hidangannya, juga mengernyit.

Perut saya sakit menahan tawa. Lalu saya lari ke parkiran sastra dan ngekek kepingkel-pingkel sampai dlosoran. Saya perhatika dari jauh, saat perempuan itu pergi, saya baru kembali ke meja semula. Almarhum teman saya berwajah sok dingin. Blas tidak tertawa.

“Piye mau kabare, Mbake?” ujar saya sambil berbisik lirih karena laki-laki yang dapat ‘bonus’ tempe masih berada di meja seberang.

“Mungkin dikira tempene dijupuk Gusti Allah.” kata teman saya sambil nyekikik. Saya ceritakan hal tersebut ke beberapa teman yang lain. Jadilah sebuah perlombaan keberuntungan: menunggu orang, tidak peduli laki-laki atau perempuan, duduk di depan kami, dan berdoa dengan memejamkan mata sebelum menyantap hidangannya.

Saya termasuk sering dapat korban. Paling sering dan paling mudah didapat adalah tempe. Tapi kadang juga kerupuk, tahu, lumpia, kalau mentok apes ya terpaksa ayam atau telor. Tempe adalah idola. Tidak ‘kotor’ di tangan. Dan mudah memindahkannya. Entah itu ke piring orang atau ke piring teman sendiri.

Sering pula saat almarhum sedang khusyuk makan, saya letakkan tempe hasil ‘kecepatan’ tangan saya ke piringnya. Dia hanya bisa misuh, “Asu. Bajingan kowe. Cah koyo bajingan. Betul-betul kowe ki…”

Kalau kemudian korban sudah pergi, kami baru tertawa ngakak. Biasanya ekspresinya seperti ini, kami menepukkan kedua tangan kami, sambil berteriak, “Tempeku endi?!”

Lalu semua orang akan ikut tertawa. Mbak Ning yang baik dan lembut hatinya itu, juga terkekeh. Tapi hampir tiap hari ia berpesan, “Mas, mbok ojo ngono to… mesakke wonge…”

Almarhum teman saya menjawab ringan, “Santai wae Mbak Ning… wonge wis dimesakke Gusti Allah, soale tempene ilang pas berdoa. Hooh to, Mbak?”

Mbak Ning hanya bisa tertawa sambil menggeleng-gelengkan kepala.

Bagor yang paling tidak suka dengan keisengan itu, adalah target kami. Setiap ia makan, kami berkeliling meja-meja bonbin sambil mata kami menyelidik siapa yang akan berdoa sambil memejamkan mata. Kalau dapat korban, misalnya tempe, kami akan taruh ke piring Bagor. Karena banyak orang yang melakukan, maka piring Bagor bisa berisi banyak lauk-pauk. Tentu saja Bagor tidak bisa bertindak apa-apa.

Karena ada banyak aktivitas di bonbin, bagi orang yang tidak terbiasa, maka akan heran kalau sore hari saat Mbak Ning tutup, kami menghitung totalan. Misalnya almarhum, “Mangan, ayam, endog dadar, tempe lima, es teh pitu, gelas siji.”

Misalnya Bagor, “Mangan, ayam, tempe loro, es nescafe telu, es teh siji, gelas loro.”

Saya, “Mangan, tempe pitu, endog, teh anget lima, kopi siji, gelas siji.”

Sebutan terakhir: gelas siji atau loro, qtau pernah lima, merujuk pada gelas yang kami pecahkan dengan tidak sengaja. Entah mabuk, entah kesempar pas tertawa ngakak, entah kesenggol saat kami main kartu.

Mungkin pedagang gelas langganan Mbak Ning curiga, sebetulnya ia jualan makanan atau jualan gelas..

Mengenang Seorang Sahabat (6)

Salah satu kemampuan almarhum sahabat saya yang selalu membuat teman-teman dekatnya, termasuk saya, merasa takjub adalah kemampuannya membuat istilah. Dan istilah itu kemudian segera ditiru oleh banyak orang. Uniknya, istilah-istilah tersebut susah untuk didefinisikan.

Setidaknya ada tiga istilah yang paling saya ingat: ‘betul-betul’, ‘sama sekali’ dan ‘menjerit’.

Saya harus memberi contoh kalimat untuk mempermudah anda memahaminya, sebab saya tidak sanggup menjelaskannya. Misalnya ada orang yang pelit. Lalu orang tersebut diomongin banyak orang di kantin bonbin. Almarhum teman saya mendengar. Ia kemudian berkomentar, “O jebule cah kae ki betul-betul ya…”

Contoh lain. Suatu saat, ada teman kami yang berangkat kuliah, naik bis, kecopetan, sudah begitu pas mau menyeberang tertabrak sepeda motor. Teman ini lalu tidak jadi masuk kuliah dan menceritakan kisahnya di kantin bonbin. Teman saya mendengarkan, lalu ia mengulungkan uang untuk dipakai berobat dan meminta kawannya yang lain supaya mengantar berobat. Ketika teman tersebut sudah pergi, almarhum berkomentar, “Nasibe cah kuwi ki betul-betul…”

Lanjut ke istilah ‘sama sekali’. Misalnya begini, kami makan ke sebuah restoran, lalu masing-masing pesan menu yang asing. Kemudian jika ia ditanya apakah menunya enak, ia menggeleng sambil menjawab, “Sama sekali…”

Atau ketika ia bermain judi sendiri, karena kami berhalangan, dan ketika kami tanya keesokan harinya apakah menang atau kalah, ia menggeleng, “Sama sekali…”

Sedangkan contoh kalimat dengan istilah ‘menjerit’ itu misalnya, ia melihat ada teman yang memakai sepatu baru. Segera ia berkomentar, “Weh nggleleng, mentang-mentang sepatune menjerit…”

Bisa juga kalau ada cewek yang berbusana agak nyentrik, ia langsung teriak, “Mbake kae kostume menjerit, je…”

Selebihnya ada belasan kata yang keluar khas dari mulut dia yang tidak bisa dijelaskan atau ditempatkan pada kalimat yang tidak pada tempatnya. “Raimu mlotrok ki bar diputus pacarmu po, Bung?” Perhatikan pilihan kata ‘mlotrok’ yang disematkan pada ‘raimu’.

Di antara semua geng judi saya itu, hanya saya satu-satunya yang suka menonton sepakbola. Karena kebanyakan dari mereka tidak suka, maka saya sering tidak menonton. Sekali pernah saya memaksa teman-teman saya ikut menonton sepakbola dan itu untuk pertama sekaligus saya putuskan yang terakhir kali.

Waktu itu di seberang Hotel Cakra Kembang Jalan Kaliurang ada warung indomie yang lumayan ramai dan sering dipakai menonton sepakbola bareng-bareng. Tidak seperti sekarang yang kalau nobar bisa puluhan bahkan ratusan. Saat itu paling hanya belasan orang. Ketika itu yang main derby antara AS Roma vs Lazio.

Kami baru datang, pesan indomie dan minum, saya langsung konsentrasi menonton. Eh, tiba-tiba Bagor nyeletuk, “Zidane dimainke ra, Bung?”

Semua orang menoleh ke arah Bagor. Menjadi bahan perhatian, Bagor langsung diam tanpa tahu apa kesalahannya. Bagor ini pula yang kelak ketika kami pergi ke toko kaset dan beli CD, ia bertanya dengan pede, “Ada album grup rock Manchester United, Mbak?” Dia pikir MU itu grup musik.

Tapi yang paling fenomenal dan selalu saya ceritakan adalah ketika almarhum komentar di pertandingan malam itu. “Kuwi Si Ammonito diwenehi kertu kuning bola-bali kok ra ditokke seka lapangan ki piye to? Wasite kok goblok…”

Mendengar itu, saya langsung meneguk es teh dan pura-pura menunduk karena tahu semua orang di warung itu menoleh ke arah almarhum teman saya. Ketika pulang, di dalam mobil, saya bilang, “Kowe ngerti ra ngopo Si Ammonito kuwi ora ditokke seka lapangan?”

“Ora.”

“Soale ammonito kuwi artine kertu kuning. Kuwi dudu jeneng menungsa, cah bajingan…”

“O ngono… Makasih ya atas informasimu…” ia menjawab begitu dengan muka datar.

Setelah hening sesaat, almarhum nyeletuk, “Aku entuk ra memberi masukan neng kowe?”

“Masukan apa?”

“Mending tok lereni kuwi lehmu seneng nonton bal-balan. Luwih produktif nek awake dhewe judi bal.”

Satu mobil tertawa ngakak kecuali saya.

Mengenang Seorang Sahabat (5)

Kini giliran saya berkisah tentang tokoh pendamping yang lain: Proton. Dari nama julukannya, sebagian Anda mungkin bisa dengan mudah menebak. Ia memang kuliah di Fakultas Teknik, jurusan Teknik Kimia, UGM.

Proton punya banyak hobi yang asing bagi saya saat itu, seperti misalnya mengoleksi koin dan keris, mengumpulkan virus komputer, dan yang paling ganjil menurut saya adalah hobinya bergonta-ganti agama. Jadi kadang-kadang saya dan kawan-kawan harus jeli mencermati, di hari apa dia sedang beragama apa.

Di rumah-rumah judi yang sering kami kunjungi, Proton juga punya perbedaan interes. Saya, Bagor dan Babe, lebih suka judi poker melawan mesin. Almarhum teman saya dan Kunthet lebih suka judi bola. Sementara Proton satu-satunya orang yang suka berjudi mesin dengan permainan kodok-kodokan dan pacuan kuda. Saya bahkan sekarang sudah lupa aturan main mesin kodok-kodokan. Pokoknya di monitor ada banyak kodok. Tidak tahu yang menang yang bagaimana.

Karena pandangannya tentang agama yang agak ganjil, Proton sering membuat masalah di kehidupan Bagor.

Suatu saat, saya dikasih tahu almarhum teman saya bahwa nanti malam akan main judi. Tugas saya memberitahu Bagor. Siang itu juga saya ke wartel, menelepon Bagor. “Tapi aku dipethuk ya, Bung…”

“Lha ngapa?”

“Pit motorku rusak, je.”

“Nek rusak dibengkelke, Bung!”

“Nek kuwi ra sah tok nasehati aku, cah goblok…”

“Ya mengko aku tak nelpon Proton, tak kon njemput kowe.”

“Kuwi ya ora usah tok kandhani! Aku ya iso nelpon dheke dhewe.”

“Lha njuk ngapa kok ra tok telpon dhewe?”

“Sekedar kowe ngerti ya, iki wulan romadon. Proton ki nek dolan neng omahku njuk karo udud klepas-klepus, je.”

“Lha njuk ngapa salahe dheke?”

“Lha ya bapakku ngira nek aku ora pasa to… tur mesthi ngira nek aku mbeling.”

“Hei cah goblok, kowe kan pancen ora pasa. Tur kowe ki ra mung mbeling ning mbeling banget.”

“O asu! Pokmen aku jemput!”

“Ya!”

Telpon saya tutup. Kemudian saya memencet telpon rumah Proton.

“Bung, awake dhewe mengko bar magrib judi neng Mataram. Tulung kowe methuk Bagor ya, soale motore lagi rusak.”

“Jam pira?”

“Ya nek iso saiki. Njuk mengko tok ajak neng omahe Kunthet. Iki aku langsung meluncur neng omahe Kunthet.”

“Woke, beris!”

Telpon saya tutup. Saya meluncur ke rumah Kunthet. Sampai di sana sudah ada almarhum dan Kunthet. Saya ceritakan apa yang barusan saya lakukan. Kami bertiga cekikikan.

Dua jam kemudian terlihat Proton memboncengkan Bagor. Muka Bagor mecucu. Mulutnya umak-umik melafalkan kata ‘asu’ berkali-kali tanpa terdengar. Kami bertiga pura-pura tidak ada masalah.

Setelah mereka berdua masuk kamar Kunthet, saya tanya tanggap, “Eh, aku ki lali, Pakne Bagor dhek kapan kae nakoni kowe je, Ton…”

“Lha iki mau aku pethuk je. Aku pas teka ki Bagor adus we durung. Dadi aku jagongan ro Pakne Bagor rada suwe.”

“Ho’oh. Jare Pakne Bagor kowe ki menyenangkan nek diajak diskusi.”

“Ya lumayan gayeng iki mau. Tapi Pakne Bagor ki mandheg udud po ya? Taktawani udud ra gelem je…”

Kontan tawa kami meledak. Proton dengan muka heran bertanya, “Ngapa je?”

“Takona Bagor…”

Bagor yang mukanya merah langsung bilang, “Ton, bapakku ki Islam tur pengurus Muhammadiyah je…”

“Paklik-ku ki Muhammadiyah tur ya udud je…”

“Woo.. cah bajingan… kowe ngerti ra bahwa saiki ki wulan pasa?”

Proton dengan muka datar menjawab, “O iya ding…” Selanjutnya ia sibuk dengan komputer di kamar Kunthet. Kami semua tertawa terbahak-bahak.

Tokoh pendamping terakhir bernama Babe. Ia anak seorang mayor jenderal. Kami bertemu pertama kali di rumah judi jalan Solo. Ia tampaknya terpikat dengan gaya kami yang senantiasa ceria, lebih tepatnya konyol, lebih tepat lagi tolol. Akhirnya Babe masuk ke lingkaran kami. Ia kuliah di Fakultas Ekonomi UGM tapi hanya kuliah seminggu. Selebihnya ia ‘ngampus’ di rumah-rumah judi.

Sebelum bertemu kami, Babe sudah kalah judi kira-kira habis 5 sepeda motor dan belasan televisi. Setelah kenal kami, ia kalah 2 mobil. Tapi kekalahannya pasti tidak begitu berharga dibanding pengalamannya bisa berteman dengan kami.

Semenjak kenal Babe, gaya berjudi kami agak lain. Kalau kami main judi, kami menginap di hotel. Kalau menang banyak, kami menginap di hotel yang mahal. Kalau kalah, kami menginap di losmen. Semenjak itu kami merasa bahwa kami penjudi profesional. Kami semua sudah sangat yakin bahwa kelak kami akan menjadi penjudi profesional dan akan bisa hidup serta kaya dari bermain judi. Layaknya di film-film seperti misalnya God of Gamblers. Mulai saat itu, jika kami berjudi selalu berpakaian necis dengan menyemprotkan parfum mahal dan rambut kelimis. Kami semua hafal gestur dan gaya Chow Yun Fat.

Orang-orang di rumah-rumah judi makin akrab dengan kami. Hampir semua pemain judi besar kami kenal: Dari mulai para pengusaha tionghoa, para pengacara, pentolan preman, sampai para pemain yang bangkrut. Salah satunya bernama Mbah Ganden.

Mbah Ganden mangkal di rumah judi Mataram. Kerjanya menunggu penjudi yang menang lalu menghibahkan beberapa koinnya ke dia. Kemudian dengan bekal koin itu, ia main judi.

Konon dari cerita yang kami dengar, Mbah Ganden dulu kaya-raya. Ia jatuh miskin karena judi. Suatu saat karena kami penasaran, kami ikuti di mana Mbah Ganden pulang. Ternyata setelah rumah judi ditutup pada pukul 5 pagi, ia berjalan ke stasiun tugu. Ia lalu menggelar tikar di luar tembok stasiun tugu kemudian tidur.

Pernah kami bertanya ke penjudi senior di sana, kenapa tidak ada keluarga Mbah Ganden yang mengurusnya? Orang tersebut menjawab, “Bagaimana mereka mau mengurus Mbah Ganden kalau harta mereka dihabiskan Mbah Ganden?”

Kami tetap menaruh simpati mendalam kepada Mbah Ganden. Kalau tersenyum lucu sekali. Tidak nampak wajah jahat. Kami berjanji suatu saat kalau menjadi penjudi besar, kami akan buatkan rumah untuk Mbah Ganden.

Cita-cita itu kemudian hilang, seturut dengan kebangkrutan kami semua.

Mengenang Seorang Sahabat (4)

Kali ini dengan terpaksa saya akan memperkenalkan tokoh-tokoh pendamping. Tanpa mereka, Anda tidak akan bisa mengenal dengan baik almarhum sahabat saya.

Tokoh pertama bernama Bagor. Tahun 1994, ia diterima di Fakultas Sastra UGM (sekarang kalau tidak salah Fakultas Ilmu Budaya), di jurusan Antropologi, lewat jalur UMPTN. Tapi kemudian ia memilih masuk ke D3 Ekonomi UGM. Tahun berikutnya ia ikut UMPTN lagi dengan mengincar jurusan favoritnya: Ekonomi Manajemen. Tapi tetap tidak tembus.

Ketua Ikatan Pelajar Muhammadiyah di kampungnya ini malah berkenalan dengan gerakan melawan Orde Baru. Ia masuk organisasi Solidaritas Mahasiswa untuk Demokrasi (SMID), dan menjabat sebagai ketua komisiariat UGM. Ketika peristiwa 27 Juli meletus, ia termasuk diburu aparat. Kemudian keluarganya mengirim anak muda yang mengidolakan Soekarno dan Permadi ini ke pesantren Termas, Pacitan.

Namun keluarganya kemudian menarik balik Bagor karena aparat mencarinya terus. Ia pulang ke Yogya. Diinterogasi selama tiga hari berturut-turut, kemudian dibebaskan. Semenjak itu, ia rajin salat, mulai menyukai karya-karya Emha Ainun Nadjib, kalau makan tidak pakai sendok, dan seusai makan ia tidak mau mencuci tangan dan cukup membersihkan kedua tangannya di kedua tulang kering kakinya. Kalau ditanya, jawabannya singkat: biar sakti.

Bagor tidak suka mabuk-mabukan. Ia jarang mau minum alkohol. Jarang juga mau menghisap ganja. Satu-satunya yang paling ia sukai adalah minum lexotan. “Mabuk kok sengsara. Minum alkohol kan tenggorokan panas, rasanya pahit. Ngisap ganja kan hidung dan mulut kering. Ngapain? Kalau nguntal lexotan gak perlu merasakan pahit.” begitu alasannya.

Tapi ia punya ketrampilan verbal yang bagus. Maklum mantan orator. Dan kadang-kadang manuvernya di luar dugaan. Suatu saat, kami berlima naik mobil kijang merah yang legendaris itu. Saya lupa dari mana dan mau ke mana. Di pertigaan Colombo, mobil kami hampir bertabrakan dengan sebuah jip. Spontan kami membuka jendela mobil dan sama-sama berteriak: bajingan!

Mobil jip berhenti. Mobil kami berhenti. Tiga laki-laki gempal memakai kacamata hitam menghampiri mobil kami. Sejenak kami panik. Tidak ada satu pun yang berani turun. Mereka bertiga menggedor mobil kami, meminta turun dan menantang berkelahi. Tidak ada satu pun dari kami yang berani turun. Akhirnya hanya Bagor yang dengan muka pucat, turun. Ia hampir saja dipukul, tapi kemudian berlari sambil berteriak, “Sabar, Mas! Sabar! Kowe nek meh niat gelut ojo karo aku!”

Ketiga orang itu mengepung Bagor. Kami berempat tetap di dalam mobil. Bagor terdengar bicara, “Enteni neng kene dhilit, tak undangke kancaku sing hobine gelut!”

“Kowe cah ngendi?!” terdengar salah satu orang membentak.

“Aku cah Kotagede!”

Entah mukjizat apa, tiba-tiba ketiga orang itu kemudian berjalan pelan ke arah jip mereka lalu meninggalkan kami.

Bagor begitu masuk mobil langsung misuh, “Kalian ki bajingan! Ora ana sing wani medhun.”

Sahabat saya menyahut santai sambil menghidupkan mobilnya, “Lha kowe kan ngerti nek aku ki aktor humoris, mosok mbok kon dadi aktor laga…”

Bagor melihat ke arah Proton dan Kunthet. Proton segera menjawab, “Aku ki wong seneng damai je, Bung. Kok malah mbok kon kerengan.”

“Damai kok misuhi uwong.”

“Lha kan spontan.”

Sebelum Bagor melihat ke arah saya, saya sudah menjawab, “Nek aku sih aktor romantis…”

“O, asu…”

Kami tertawa cekikikan. Selepas lulus dari D3 UGM dengan nilai yang cukup menyedihkan, Bagor melanjutkan S1 di UGM. Ia lulus dengan nilai pas-pasan. Kemudian ia diterima bekerja di salah satu BUMN ternama di negeri ini dan disekolahkan lagi oleh perusahaannya di Boston. Kalau almarhum teman saya masih hidup, ia tidak akan percaya Bagor bisa punya otak secemerlang itu. Kini ia sering memberikan analisis ekonomi di beberapa komunitas dan lembaga ternama.

Ada satu yang berubah drastis dari alumnus ponpes Termas itu. Kini ia hobi makan babi. Salah satu hal yang paling ia khawatirkan dalam hidupnya adalah jika saya kumat iseng, mengirim foto dia yang sedang makan babi ke orangtuanya.

Dan hal itu sangat mungkin saya lakukan.

Tokoh pendamping kedua bernama Kunthet. Seperti julukannya, orangnya pendek. Dia satu-satunya orang di kelompok ini yang otaknya lumayan cemerlang. Kunthet kuliah di jurusan Geofisika UGM. Ia penjudi yang sangat tangguh dan satu-satunya orang yang pernah beberapa kali mengeluarkan teori judi. Dan tidak ada satu pun teori judinya yang membuat kami menang.

Teori terakhir yang ia keluarkan dan semenjak itu kami melarangnya mengeluarkan teori judi adalah ‘teori bola salju’. Teori ini untuk permainan judi bola.

Begini teorinya. Kami pasang pertama kali dengan nominal terkecil untuk bisa judo bola yakni 50 ribu rupiah. Kami pasang warna hitam. Kalau yang keluar merah, maka kami dua kali lipatnya yakni 100 ribu rupiah. Kalau kalah demikian seterusnya: 200 ribu, 400 ribu, 800 ribu, 1,6 juta dan 3,6 juta. Menurut analisis dia, sangat kecil kemungkinan warna yang muncul sama selama 7 kali berturut-turut. Kami semua setuju. Berangkatlah malam itu kami ke rumah judi Mataram dengan semangat kemenangan.

Kami mulai pasang hitam, 50 ribu. Bola keluar merah. Kami pasang lagi 100 ribu. Bola keluat merah. Pasang 200 ribu. Merah lagi. Pasang 400 ribu. Merah lagi. Pasang 800 ribu, dan merah juga yang keluar. Kami mulai deg-degan. Kami pasang 1,6 juta. Pelan bejana tranaparan itu berputar…. Bola keluar… Merah! Kami makin pucat dan panik. Kami pasang 3,6 juta. Keringat mulai keluar… dan bola keluar hitam. Kami hampir melompat dan teriak. Tapi bola hitam tersumbat. Macet. Bejana berputar lagi. Bola keluar merah…

Kami benar-benar terpukul. Almarhum teman saya hampir pasang dua kali lipatnya: 7,2 juta. Tapi peraturan judi bola hanya memperbolehkan kami pasang maksimal 4 juta, kecuali manajer judi memperbolehkan dengan klausul tertentu. Namun uang kami ternyata tinggal sekian ratus ribu. Akhirnya, almarhum teman saya negosiasi dengan seseorang. Ia menggadaikan mobilnya di tempat itu. Kami pasang 4 juta tetap dengan memasang hitam. Dan yang keluar tetap saja merah.

Akhirnya kami berlima pulang ke rumah Kunthet dengan naik taksi. Sesampai di rumah Kunthet tidak ada yg bicara. Semua diam.

Akhirnya almarhum teman saya bilang ke Kunthet, “Kowe mulai saiki ora entuk nggawe teori judi! Teori liyane wae sing berguna kanggo kehidupan manusia!”

Mendengar ucapan itu, kami mulai bisa tertawa lagi.

Kunthet sekarang bekerja di sebuah perusahaan consumer goods di Surabaya dengan pangkat yang mentereng: district supervisor. Naluri judinya tidak pernah mati. Kini ia menyalurkan hasrat judinya dengan cara bermain saham dan sering mengeluarkan teori tentang saham.

Dan sampai sekarang, ia tetap sering kalah dalam bermain saham.

Mengenang Seorang Sahabat (3)

Sebelum melanjutkan kisah ini, ada baiknya jika saya beri perbandingan harga untuk mempermudah menempatkan kisah ini di situasi saat itu. Judi memakai uang. Dan nilai uang berbeda antara dulu dengan sekarang.

Sebagai perbandingan, ketika cerita ini terjadi, harga seporsi kepala tongkol warung padang Untuang di Terban adalah 3.000 rupiah. Harga seporsi pecel lele di tenda kaki lima: 1.500 rupiah. Harga rokok Gudang Garam Internasional dan Djarum Super kurang-lebih 2.000an rupiah.

Di rumah-rumah judi yang kami datangi, sama dengan rumah-rumah judi yang kami lihat di film-film Barat. Begitu datang kami menukar uang kami dengan koin. Ada 4 jenis koin: pecahan 5 ribuan, 10 ribuan, 20 ribuan dan 50 ribuan. Koin 5 ribuan jarang dipakai. Kecuali diberi kasir saat kami menang. Koin-koin tersebut kami pakai untuk berjudi.

Rumah judi andalan kami yang pertama kali ada di jalan Magelang. Di sana, kami punya sahabat baik. Nama lengkap dan aslinya tidak ingin kami ketahui. Kami memanggilnya dengan nama: Mas Mul. Karena mirip almarhum Mulyana W Kusuma yang saat itu sering nongol di teve. Ia tidak keberatan dipanggil Mas Mul. Orangnya baik sekali. Saking menghayati judi, ia sering tertidur tertelungkup di depan mesin judi.

Ia hampir bisa menebak semua bukaan kartu di mesin. Kami sampai takjub. Akhirnya kami tanya, “Nek ngerti ngono berarti njenengan menangan, Mas?”

“Ora. Aku kalahan.”

“Lho kok iso, Mas?”

“Lha bukaan kertu terakhir ki sing ngerti mung loro.”

“Sapa kuwi, Mas?”

“Gusti Allah karo sing nggawe mesin.”

Kami cekakakan. Pernah ia kami tanya, “Mas, njenengan wis pirang tahun main judi mesin?”

“Ya kira-kira pas kalian isih latihan ngocok.”

Kami tergelak. “Kira-kira wis entek duit pira, Mas?”

“Ya mungkin iso kanggo tuku alun-alun sepuluh.”

Alun-alun? Almarhum teman saya ngakak. Ketika kami memisahkan diri dengan Mas Mul, lalu main judi di meja-meja yang saling berdekatan, Kunthet menegur almarhum teman saya. “Bung, kowe ki nek ana wong kesusahan mbok aja digeguyu.”

Almarhum membantah, “Cah goblok, penjudi ki seneng nek pamer kekalahane.”

“Ya tapi kan kalahe akeh.”

“Tansaya akeh, tansaya bangga.”

Kami akhirnya berdebat. Apakah penjudi bangga dengan kekalahan atau kemenangan. Semua orang setuju dengan Kunthet. Merasa terdesak, almarhum berteriak kencang sekali, “Mas Muuuuuul!”

Mas Mul menoleh ke arah kami. Tentu saja kami kaget.

“Kowe selama iki kalah judi akeh to, Mas?” ucap almarhum dengan keras sekali karena jarak kami dengan meja Mas Mul agak jauh. Orang-orang di seluruh ruangan menoleh ke kami. Saya dan ketiga teman yang lain pucat. Sementara almarhum masih tenang.

“Kowe, ra masalah to Mas nek kalah?”

Mas Mul teriak, “Oraaaaa!”

Almarhum langsung menoleh ke kami semua. “Percaya ra?!”

Kami terdiam. Bukan percaya tapi takjub atas solusi almarhum yang ‘betul-betul…’

Hari ketika sahabat saya bertanya dengan cara ganjil adalah hari kemenangan kami. Kartu apapun yang kami pencet keluar full house, siki dan sekali goki. Kami menang sekitar 15 juta. Mas Mul kami tinggali poin berkisar 1 juta. Kami keluar dari rumah judi di jakan Magelang dengan sumringah.

Almarhum teman saya punya cara yang nyentrik untuk merayakan kemenangan. Kami pergi ke mal Ramai di Malioboro. Kami bersepakat bahwa begitu masuk ke pintu mal tersebut, setiap orang diputar tiga kali lalu menuding sesuatu. Apapun yang kami tuding, harus kami beli.

Saya mendapatkan giliran pertama. Mata saya merem lalu berputar tiga kali. Lalu saya menuding. Begitu saya melek, tudingan saya pas menunjuk ke gerai kacamata. Saya kemudian melangkah ke gerai tersebut, lalu membeli kacamata yang harganya masih bisa saya ingat: 350 ribu.

Lalu saya balik ke keempat teman saya yang lain. Waktu itu masih kami berlima, Babe belum kami kenal.

Orang-orang di mal mulai memperhatikan kami.

Tiba giliran Kunthet. Ia lega ketika telunjuknya mengarah ke gerai baju.

Almarhum mendapat giliran ketiga. Ketika membuka matanya, ia menunjuk ke arah luar, pas ke arah penjual martabak. Orang-orang tertawa. Semakin banyak orang mengelilingi kami.

Kini giliran Bagor. Ia membuat orang-orang di mal yang makin ramai mengelilingi kami tertawa. Telunjuknya pas ke arah BH. Sambil misuh-misuh Bagor menuju ke gerai pakaian dalam wanita.

“Tuku sing akeh, Gor!” goda teman saya.

“Lha kanggo apa?”

“Ya terserah kowe to, kok malah takon aku!”

Kami semua ngakak melihat muka Bagor yang memerah.

Terakhir, giliran Proton. Dari matanya, saya menduga ia mengincar gerai sepatu. Ketika matanya terbuka, telunjuknya pas ke arah satpam.

“Wis gek ndang…”

“Ndang dikapakke?”

“Ya dituku to!”

“Lha piye carane nuku satpam?”

“Lha embuh kok malah takon kami!”

Proton pucat. Orang-orang tertawa. Karena banyak orang yang tertawa, satpam yang posisinya agak jauh dari kami menoleh ke arah kami. Proton makin pucat. Ia akhirnya lari ke arah parkiran. Kami mengikutinya sambil tertawa.

Kalau menang, begitulah tingkah kami. Kalau kalah, basanya kami mencoba peruntungan ke rumah-rumah judi lain di jalan Solo dan di dekat kompleks gedung bioskop Mataram.

Begitu masuk mobil kijang merah, kami meneriakkan slogan pertama kami: “Nek menang mbagusi, nek kalah nggawe teori!”

Mobil bergerak melaju. Isinya penuh tawa. Tidak ada kegembiraan yang melebihi para penjudi yang menang. Dunia rasanya berisi dua hal: tiga As dan dua Joker.

Mengenang Seorang Sahabat (2)

Almarhum teman saya memang berasal dari keluarga yang kaya. Bahkan kakeknya dikenal sebagai salahsatu orang yang gemar menyumbang pembangunan masjid. Pernah saya bertanya ke almarhum kenapa bisa begitu? Ia menjawab ringan, “Mungkin eyangku pengen nduwe tanah kaplingan sing akeh neng suwarga.”

Kegemaran eyangnya itu juga dikenal luas oleh teman-teman sahabat saya, terutama saat KKN tiba. Seperti yang Anda ketahui, salah satu ciri khas, untuk tidak menyebut kebuntuan kreatif mahasiswa yang KKN, selain plangisasi, neonisasi dan melatih Pramuka, adalah ikut membangun masjid atau musala. Pada saat seperti itulah, sahabat saya ditemui banyak temannya di kampus sambil membawa proposal pembangunan masjid. Tentu saja proposal untuk eyangnya.

Dengan senang hati teman saya membantu teman-temannya. Dan ia tidak pernah mengutip atau mengkorupsi sumbangan eyangnya. Cuma kadang ‘dipinjam sebentar’. Apa maksudnya? Misalnya begini, eyangnya menyumbang pembangunan masjid sejumlah 3 juta. Kepada si pemberi proposal, teman saya bilang kalau uang sudah dititipkan ke dia, hanya ia minta waktu untuk meminjam sehari. Untuk apa? Terang saja untuk berjudi. Menang atau kalah, uang itu akan diberikan utuh.

Pernah suatu saat saya tanyakan kenapa harus begitu? Toh tidak ada bedanya, uang ya uang. Ia menjawab: beda, uang untuk menyumbang masjid itu uang yang diniatkan untuk kebaikan.

“Njur apa hubungane nek dienggo judi?” kejar saya.

“Lho piye to kowe ki? Ya awake dhewe judi karo duit barokah!”

“Barokah kok tetep akeh kalahe…”

“Sing penting kan berusaha!”

“Berusaha apa?”

“Ya berusaha judi!”

Mendengar jawaban seperti itu saya hanya bisa kukur-kukur gundul.

Ada dua judi kegemaran kami. Judi utama kami adalah judi mesin dan judi bola. Judi mesin itu kita bermain kartu melawan mesin. Sementara judi bola bukan judi taruhan sepakbola, melainkan judi dengan alat bola-bola ber-angka serta berwarna merah dan hitam. Bola-bola itu ditaruh di tabung transparan, lalu diputar dan akan memuntahkan satu bola. Warna dan angka bola itulah yang akan menentukan pemenang.

Tim inti judi kami adalah sahabat saya, saya, Bagor, Kunthet, Proton dan Babe. Sahabat saya dan babe adalah pendonor utama tim ini. Maklum mereka berdua memang anak orang kaya.

Biasanya begitu masuk ke tempat judi, kami pemanasan dengan main kartu melawan mesin. Setelah mulai panas, kami masuk ke ruang judi bola. Ada tiga tempat judi yang jadi langganan kami. Di ketiga tempat tersebut kami cukup tenar: masih muda, berani pasang, humoris dan cenderung tolol.

Suatu saat ketika kami asyik main judi mesin, sahabat saya ragu untuk memasang poin pada bukaan terakhir di permainannya. Ia menyetop kami semua. Lalu meminta kami ‘menggantung kursi’ yakni kursi disandarkan ke meja judi sebagai pertanda bahwa meja tersebut dipakai. Tentu kami bingung. Ke mana?

“Golek dukun!”

“Neng ngendi?”

“Prambanan!”

“Takon apa?”

“Ora sah padha crewet, ayo mangkat!”

Semua berangkat kecuali saya. Saya diminta memastikan agar kursi-kursi yang kami gantung aman. Kira-kira sejam kemudian, kawan-kawan saya datang dengan muka riang.

“Piye?”

“Wani.” begitu katanya, sambil memencet tombol pasang. Dua kartu terbuka. Semua diam. Kalah. Teman saya cuma ndomblong sambil berujar, “Dukun asu!”

Keesokan sorenya, saat kami mau main judi lagi, mobil bergerak ke Prambanan.

“Meh neng ngendi iki?” tanya Bagor.

“Neng dukun-e wingi…”

“Mbok uwis ra sah emosi. Wong wis kadung. Ora usah gegeran…”

“Sing meh gegeran ki sapa?”

“Lha njuk ngapa?”

“Takon meja judi sing hoki dina iki nomer pira.”

Kami semua saling berpandangan. Singkat cerita Si Dukun memberi nomor 68. Bergegas kami ke tempat judi. Mata kami jelalatan, mencari nomor meja yang dimaksud. Sampai kami capek mencari gak ketemu juga. Ternyata setelah kami periksa dengan teliti, meja judi hanya ada 40 buah. Kami semua melihat mata sahabat kami…

Ia kelihatan putus asa dan berujar, “Dukun asu!”

Selain judi utama, kami juga melakukan judi sampingan yakni main samgong di kantin sastra. Kantin itu dikenal dengan nama Bonbin. Supaya tidak terlihat bahwa itu judi betulan, kami main dengan memakai hitungan kertas. Tidak ada uang di atas meja. Biasanya sampai jam 8 malam. Sampai kami harus memakai lilin. Karena terbiasa bermain judi mesin dengan nominal besar, judi samgong ini kami anggap sebagai judi senang-senang. Kalah senang, menang makin senang.

Kalau kami menang judi mesin dan judi bola, tentu saja suasana riang. Lalu masing-masing mengeluarkan teori. Biasanya sahabat saya langsung berujar dengan muka datar, “Nek menang mbagusi, nek kalah nggawe teori. Kalian ki penjudi apa doktor?”

Kalau kami kalah besar, kami punya cara untuk menghibur diri. Kami membeli ganja lalu mengisap sambil mendengarkan rekaman dagelan Basiyo di rumah salah satu kawan yang koleksi Basiyonya lengkap. Biasanya kami tertawa cekikikan sampai subuh, sampai perut sakit, sampai capek tertawa.

Sampai sahabat saya itu sambat, “Ya Allaaaah, aku kok ngguyu terus to ya Allaaaah… Padhahal aku kan bar kalah judi akeeeeh…”

Mendengar kalimat itu, perut kami makin sakit karena makin tertawa ngikik…

Mengenang Seorang Sahabat (1)

Sampai detik ini, saya tidak tahu apakah saya bisa menuntaskan kisah kecil ini. Saya memulai menulis dengan berdoa, hal yang jarang sekali saya lakukan. Catatan ini sekalipun nanti sangat singkat, adalah sesuatu yang tidak pernah sanggup saya tulis selama belasan tahun.

Saya punya seorang sahabat. Bahkan saya tidak sanggup menulis namanya di sini. Ia salahsatu sahabat terbaik saya. Kini ia sudah almarhum. Dan saking melankolisnya persahabatan kami, sampai sekarang saya tidak berani mendatangi kuburannya. Namun setiap kali saya mengingatnya, saya kirim Alfatihah. Di sana, entah di bagian mana, saya percaya ia sedang tertawa bersama Tuhan.

Kami dipertemukan oleh satu hobi: bermain judi. Ia gabungan antara sifat konyol, jenius, naif, dan kekanak-kanakan. Salah satu slogan kami dulu: kami tidak ingin dewasa.

Ia mengajari saya banyak hal. Dari hal yang paling konyol sampai soal adab. Suatu saat, kami harus mendatangi kondangan salah seorang teman yang menikah. Seumur-umur saya datang ke pernikahan orang setelah akil balig adalah pernikahan Bang Nezar Patria dan Mbak Titik. Terang saja saya datang karena yang satu senior saya di pergerakan dan yang satu dosen saya. Kala itu, saya mengenakan kaos oblong, celana jins dan sandal gunung. Bahkan saya tidak tahu kalau adab ke pernikahan itu harus menyalami mempelai. Kalau tidak diajak teman menyalami mempelai, pasti tidak saya lakukan. Demikian juga saat kami mau ke kondangan kali itu. Kalau tidak salah kami berangkat ber-enam. Lokasi kondangan di luar kota. Saya datang pertama kali ke rumah sahabat saya karena di sana tempat ngumpulnya. Begitu ia membuka pagar, dahinya mengernyit, sepasang matanya menyipit…

“Kowe meh kondangan to, Nyuk?”

“Lha ho’oh. Ning nek meh judi sik ya rapapa.” jawab saya rileks sambil duduk di teras rumahnya.

Ia tidak menjawab lalu masuk ke rumah kembali. Tak lama pembantunya keluar menyuguh kopi hitam. Saya klepas-klepus udud. Tidak lama kemudian sahabat saya keluar dengan muka seperti habis mandi. Ia melemparkan kemeja ke pangkuan saya.

“Apa je iki?”

“Rupamu, ya klambi, mosok monas?”

“Nggo apa?”

“Hei cah bagus tak kandhani, kowe ki meh kondangan neng omahe wong nikahan, ora arep samgong. Nek kondangan ki ya nganggo klambi, cah pekok…”

Saya diam. Ini pengetahuan baru buat saya. Lalu saya melihat ke arahnya. Kostumnya sungguh menjerit. Paduan antara kemeja dengan celana pendek olahraga.

“Lha gene kostummu ya malah remuk?”

“Aku kan nyetir. Mengko nek tekan nggone, aku ganti celana dawa.”

Tidak lama kemudian, satu per satu teman saya datang. Kami pun berangkat menuju lokasi pernikahan, di Temanggung. Sesampai di lokasi, acara sudah dimulai. Oleh panitia pernikahan, mobil tang kami tumpangi di parkir persis di dekat mempelai. Kami langsung keluar mobil kecuali sahabat saya. Terdengar dari dalam mobil suara, “Hei cah bajingan kabeh, aku aja mbok tinggal.”

Saya mendekati bagian setir, lantas bertanya: “Ngapa je?”

“Aku durung nganggo celana!”

“Ya dienggo wae to…”

“Lha piye carane?”

“Ora iso. Wis takcoba ket mau!”

Postur teman saya memang agak tinggi dengan ukuran kaki yang panjang. Sehingga sulit sekali ia memakai celana di dalam mobil. Akhirnya ia keluar dari mobil dengan masih memakai celana pendek dan mencangking celana panjang lalu meminta izin ke kamar mandi. Jadilah ia bahan tontonan di kondangan tersebut. Sepanjang perjalanan ia jadi bahan tertawaan seluruh mobil.

Sahabat saya ini tidak suka membaca buku. Suatu kali saya dijemput untuk pergi ke kampus bareng. Kampus kami berdekatan. Ia di Fakultas Ekonomi, saya di Fakultas Filsafat. Saya heran, karena di dasbor mobilnya ada buku ‘Sang Nabi’ karya Kahlil Gibran.

“Iku duweke sapa je?”

“Duweke Pak Maryoto Galgendu.”

“Aku ki takon serius.”

“Mulai kapan je kowe serius? Nek serius awake dhewe ra sah kekancan wae.”

“Woo cah bajingan…”

“Lha yo duwekku!”

“Kok tumben kowe nduwe buku?”

“Mosok ra entuk?”

“Wis mbok waca?”

“Piye to pertanyaanmu ki? Lha ya cetha durung. Aku ki penjudi je, kok malah kon maca buku. Hei cah goblok tak kandhani, buku ki gunane ora mung kanggo diwaca. Iso juga kanggo hiasan neng dasbor. Tur sisan ben mripatku ora blereng nek sinar mataharine terlalu panas. Paham ra kowe?”

Kalau sudah seperti itu saya hanya bisa tertawa ngekek.

Kadang kalau di dalam mobil berdua, tidak selamanya kami bicara. Terutama saya. Maklum, saya kan agak pemikir. Jadi kadang-kadang saya diam memikirkan sesuatu. Ia biasanya lantas menegur: “Awake dhewe nek sak mobil njuk meneng-menengan ki kaya wong pacaran, je. Kaya sing siji konangan selingkuh. Ngomong, Nyuk!”

Kalau sudah seperti itu kami ngobrol dan cekikikan. Ini salah satu penjelasan kenapa saya tidak masuk dalam kategori pemikir yang luarbiasa di jagat intelektual Indonesia, karena saat belajar merenung sering kali diinterupsi oleh almarhum sahabat saya.