Ajakan Menjadi Pegawai Negeri Sipil

Ajakan agar anak muda harus kreatif, tentu ajakan yang baik. Tapi saya tidak setuju jika ajakan itu untuk tidak menjadi PNS.

Saya punya pendapat yang berbeda. Mari kita mulai dari hal yang lazim diungkapkan oleh para motivator.

“Coba ingat teman-teman sekolah dan kuliah Anda. Ingatlah mereka yang rajin dan ber-IP tinggi. Di manakah mereka semua?

“Ya, jadi buruh terampil di perusahaan-perusahaan. Siapakah atasan mereka? Para teman Anda yang yang IP-nya pas-pasan.”

“Sekarang coba ingat teman-teman Anda yang ber-IP pas-pasan. Di manakah mereka semua? Sebagian jadi direktur perusahaan swasta. Mereka kreatif. Punya jiwa kepemimpinan yang tinggi. Sehingga ketika berkarier di perusahaan besar, dengan cepat menyalip teman-teman mereka yang ber-IP tinggi.

“Tapi siapakah pimpinan para direktur itu? Siapakah mereka? Mereka yang tidak sekolah. Atau sekolah dan hampir tidak lulus. Atau dikeluarkan dari sekolah.

“Inilah ironisnya dunia pendidikan. Anak-anak yang dulu di sekolah berada pada level terbawah, justru ketika mengarungi hidup, berada di puncak piramida ekonomi. Mereka merekrut orang-orang pintar dan kreatif. Menyumbang pajak terbesar negaranya. Memberi beasiswa. Menyumbang kampus mereka, mungkin bahkan lebih banyak dibanding yang disumbang oleh 90 persen alumni.”

Begitu bukan biasanya para motivator bekerja? Adakah yang salah? Tidak. Para motivator itu menyatakan fakta dengan gaya mereka yang agitatif dan provokatif.

Tapi pertanyaan saya, kalau semua orang pintar dan kreatif direkrut oleh para pengusaha, dan orang-orang kreatif pula yang membuat usaha atau perusahaan, lalu siapa yang mengelola administrasi negara ini?

Kalau para dosen hanya diisi oleh mereka yang punya gelar doktor tapi miskin imajinasi, apa jadinya negeri ini?

Justru saya menyarankan, sudah saatnya orang-orang kreatif menjadi PNS, menjadi dosen dan pengajar, menjadi birokrat. Agar mesin negeri ini punya pelumas yang baik. Gesit. Lincah. Kaya inovasi. Punya greget. Dan tidak kalah cerdik jika harus berhadapan dengan pengusaha hitam serta politikus culas.

Jadi PNS itu penting. Jangan tinggalkan sektor itu, untuk diisi orang-orang yang mandek. Sebab mereka bakal mudah membebek pada orang-orang cerdik yang punya banyak duit.

Menjadi pengusaha itu penting. Menjadi politikus juga penting. Menjadi petani juga penting. Menjadi intelektual juga penting. Semua penting. Tapi jangan pandang rendah PNS, mereka juga penting.

Yang sial di sebuah negeri adalah punya barisan PNS dengan niat pengen kerja enak, punya dana pensiun, dan ketika masuk harus menyuap.

Jangan terlalu mendengar omongan para motivator. Dengarkan tapi sedikit saja. Sebab kalau semua orang tidak mau mendengarkan mereka, dari mana mereka hidup?

Tiga Pohon

Seorang murid, setelah sekian tahun turun gunung, sowan lagi ke gurunya. Selain bersilaturahmi, juga untuk mendapatkan suntikan kebijaksanaan.

Sang Guru lalu mengajak Si Murid untuk berjalan ke pekarangan, di belakang padepokan. “Lihat pohon buah itu…” ujar Sang Guru, “hampir setiap tahun, pohon itu berbuah. Pohonnya subur. Setiap kemarau panjang, aku siram. Aku rawat. Tapi buahnya tidak terlalu manis…

“Lalu lihat pohon buah satunya lagi…” kata Sang Guru sembari menunjuk ke arah sebuah pohon. “Aku merawatnya. Tapi dengan cara yang berbeda. Kalau musim kemarau kering, tidak pernah kusiram. Berkali-kali pohon itu terlihat hampir mati. Tidak setiap tahun pohon itu berbuah. Tapi kalau berbuah, lebat dan manis buahnya mengalahkan pohon yang kusiram setiap kemarau panjang…”

Si Murid takjub. Bertahun dia di padepokan itu, hampir saban sore dia melihat kedua pohon itu, tapi tak pernah memperhatikan bagaimana gurunya punya cara yang berbeda dalam merawat kedua pohon itu.

“Pohon yang kurawat dengan cara kusiram setiap kemarau, selalu memberi buah lebat. Sehat. Subur. Tak pernah terancam mati…

“Sementara pohon yang kurawat dengan cara yang berbeda, tak pernah kusiram di musim kering panjang, sesekali tampak kerontang, hampir mati. Tapi begitu kena air, dia tumbuh dengan baik. Penderitaan membuatnya tabah. Lalu mempersembahkan buah yang jauh lebih lebat dan lebih manis sekalipun tidak setiap musim.”

Sang Guru kemudian berjalan pelan. Si Murid mengikutinya.

“Kamu lihat pohon itu?” tanya Sang Guru, lagi-lagi menunjuk ke sebuah arah.”

“Mana, Guru?”

“Di sana…”

“Tidak ada pohon di sana…”

“Dulu ada. Tapi sudah mati.”

“Kenapa Guru?”

“Aku tidak tahu. Karena tidak pernah kuperhatikan, apalagi kurawat.”

Si Murid diam. Mereka terus berjalan pelan. Hanya ada suara daun dan ranting kering yang terinjak kaki-kaki mereka.

Lalu terdengar suara bening Sang Guru, “Pohon yang kubiarkan tanpa air itu, mengeluarkan daya hidupnya yang luarbiasa untuk mengatasi penderitaannya. Risikonya, dia mati. Tapi kalau dia bertahan, dia jauh lebih kuat. Memberi buah yang lebih manis dan lebih lebat. Sementara pohon yang selalu kusiram di musim kemarau, dia tumbuh lebih aman. Tidak terancam kematian. Selalu berbuah. Walaupun kalah lebat dan manis.”

“Mana yang lebih baik dalam cara merawat kedua pohon itu, Guru?”

“Semua baik. Semua ada kelebihan dan risikonya. Kita boleh punya cara yang berbeda dalam merawat pohon. Termasuk dalam mendidik manusia. Tapi kesadaran dan perhatian itulah yang paling utama. Yang keliru adalah tidak memperhatikannya. Seperti pohon ketiga.”