Tiga Jenis Orang

Ki Lembah Manah menatap ketujuh muridnya. Gerimis turun. Pagi ini, di pinggir sebuah sungai, laki-laki tua yang amat disegani dalam dunia persilatan sekaligus ahli membaca lontar, memberi wejangan kepada tujuh orang muridnya yang akan dilepas ke kotapraja.

“Di sana tidak seperti di sini” ujar Ki Lembah Manah sambil menuding ufuk yang jauh, “orang lebih suka berlomba dibanding bekerjasama. Maka pegang teguhlah hal ini: mulailah dengan kekuatan kerjasama. Sebab pada dasarnya manusia bisa bertahan hidup karena bisa bekerjasama. Bukan berlomba. Apalagi bermusuhan.”

Angin dingin bertiup. Suara aliran sungai terdengar jelas.

“Tapi seandainya kalian mesti berlomba, berkompetisi, bermusuhan, ingatlah: jangan salah menentukan musuh. Perhatikan baik-baik hal ini. Ada tiga jenis orang yang tak mungkin kalian kalahkan…

“Pertama, mereka yang melakukan sesuatu bukan karena uang dan imbalan lainnya. Mereka melakukan karena suka dan ikhlas melakukannya. Kedua, orang-orang yang pernah menderita dan tidak takut untuk menderita lagi. Penderitaan membuat mereka kuat. Tapi tidak takut menderita lagi, membuat mereka punya daya hidup yang tak tertandingi. Dan yang ketiga, ini jenis orang paling tak terkalahkan: orang yang tidak memiliki rasa memiliki. Jangankan merasa memiliki harta, kekuasaan, kecerdasan atau kehebatan lain, rasa memiliki pun dia tidak memiliki. Mustahil kalian mengalahkan orang jenis ini. Dia memegang inti rahasia sehingga didukung dan disayangi semesta. Memusuhi orang jenis ini, akan membuat segalanya sia-sia.”

Tujuh orang murid itu merasakan hal yang hampir sama. Tercekat di kerongkongan mereka. Lalu mereka sadar sepenuhnya bahwa mereka sedang menghadap orang yang sekaligus memiliki tiga ciri orang tak terkalahkan itu. Ketujuh murid itu pun segera berlutut dan menundukkan kepala.

Gerimis turun makin deras. Gemericik aliran air sungai terdengar makin jelas.

Pasangan Makmur

Pagi tadi, sehabis bangun tidur lalu salat Subuh berjamaah, pasangan Mulyadi dan Mardiasih merasa bahagia sekali. Di pekarangan belakang rumah mereka yang sempit, dua pohon cabe berbuah. Juga satu-satunya pohon pisang yang tumbuh pun berbuah. Mereka lalu berbincang di depan kolam kecil, sambil minum teh.

Lima tahun lagi, Mulyadi pensiun sebagai pegawai sebuah perusahaan swasta dengan level menengah. Lebih banyak punya bawahan daripada punya atasan. Mardiasih bekerja sebagai penerjemah dan penyunting di sebuah penerbitan besar. Karena dianggap pegawai senior, ketika anak kedua pasangan ini lahir, Mardiasih diperkenankan bekerja di rumah.

Mulyadi menikah dengan Mardiasih 25 tahun lalu. Mereka berdua anak petani dari desa. Lima tahun setelah menikah, mereka membeli rumah. Cicilan tentu saja. Baru kurang dari setahun lalu rumah yang mereka tinggali lunas.

Mulyadi punya warisan sawah lumayan luas, tapi dijual ketika anak pertama mereka masuk TK. Tidak ada TK murah di kota. Sisa uangnya dibelikan mobil seken.

Mardiasih juga punya warisan. Sawah dan rumah. Sawah dijual ketika anak keduanya masuk TK. Sisa uangnya dipakai untuk membeli mobil baru setelah mobil lama juga dijual. Warisan rumah juga dijual ketika anak pertama mereka masuk kuliah. Sisanya untuk membeli mobil.

Total aset mereka, sebuah rumah dengan dua buah mobil, dan dua buah sepeda motor. Anak pertama mereka sudah bekerja di bank, anak kedua hampir tamat kuliah. Tahun depan, si anak pertama berencana menikah. Tentu saja tabungannya selama bekerja belum cukup. Mulyadi berencana menjual sebuah mobil mereka untuk menghelat acara pernikahan anaknya.

Ketika nanti Mulyadi pensiun, dan anak keduanya menikah, entah aset apa yang tertinggal di pasangan ini.

Di kampungnya dulu, Mulyadi tak perlu butuh waktu lama untuk membeli rumah. Apalagi jika dia mau tinggal di kampung Mardiasih karena si istri punya rumah warisan. Kalau di kampung dulu, Mulyadi bisa memanen pisang semampu tenaganya. Pisang di kebun bapaknya puluhan batang. Kalau di kampung, bukan hanya dua batang pohon cabe dan kolam kecil yang dimiliki oleh mereka berdua.

Secara ekonomis, apakah pasangan Mulyadi dan Mardiasih menjadi lebih makmur dibanding kedua orangtua mereka? Lebih terdidik jelas iya. Lebih makmur? Saya tidak tahu. Yang jelas begitu mereka menua, aset mereka mulai surut. Begitu mereka pensiun, tunjangan pensiun mereka tak akan cukup untuk hidup lima tahun.

Jadi selama mereka nanti bekerja 30 tahun, yang terjadi adalah siklus: memulai dari tidak punya apa-apa, kemudiaan punya, lalu menuju tidak punya. Dan ingat, aset di kampung habis.

Ada banyak pasangan seperti Mulyadi dan Mardiasih di kota-kota besar di Indonesia. Sebuah fenomena sosial yang belum banyak dikaji.


Tuhan Maha Adil

Lebaran belum tentu saling memaafkan. Di sebuah keluarga besar yang sedang berkumpul, seorang keponakan yang baru menyelesaikan gelar doktornya, bertanya kepada pamannya, seorang wartawan. “Menurut Paman, apakah kita semua nanti masuk surga?”

Sang Paman berusaha menjawab dengan hati-hati. “Saya tidak tahu. Karena yang berhak atas surga itu Tuhan.”

“Iya. Itu sih saya tahu. Tapi menurut pemikiran Paman bagaimana?” Desak Si Keponakan.

“Mmm… Saya berprasangka baik kepada Tuhan. Dan saya percaya Tuhan penuh welas asih. Saya kira Tuhan akan memasukkan kita semua ke dalam surga.

“Lah, kok bisa begitu? Jadi saya yang sudah salat 5 waktu, pagi-pagi harus bangun untuk salat Subuh, menderita lapar dan haus ketika puasa, menyisihkan harta untuk zakat, masak disamakan dengan mereka yang tidak melakukan itu semua? Tidak dibedakan. Enak saja…”

Sang Paman yang sedang mengiris ketupat menghentikan tangannya. Lalu dia memandang kepada keponakannya. “Nak, kenapa bisa orang yang rajin beribadah seperti kamu, bisa punya rasa rela ada orang yang tersiksa di neraka?”

“Kan kita dikasih waktu dan kesempatan sama untuk beribadah. Saya berusaha keras melakukannya dan orang lain tidak. Kenapa bisa sama-sama masuk surga? Di mana letak keadilan Tuhan? Kalau begitu saya tidak beribadah saja.”

“Lha memang Tuhan butuh ibadahmu? Kalau kamu merasa Tuhan tidak adil, ya lakukan saja keinginanmu untuk tidak beribadah. Lagipula kan Tuhan yang punya surga. Kenapa kamu harus atur Dia. Terserah Tuhan.”

“Tuhan Maha Adil, kan?”

“Sebentar, kamu kok ingin betul sih memasukkan orang lain ke neraka?”

Pertikaian makin keras. Lalu Sang Nenek terdengar setengah berteriak, “Keluarga ini ada apa sih? Lebaran yang dulu, semua ribut antara yang dukung Ahok dan anti-Ahok. Sebelumnya, pendukung Jokowi musuh Prabowo. Sekarang berdebat soal surga dan Tuhan. Kasihan Bung Karno dkk. Pasti sedih melihat anak bangsa ribut terus!”

Seorang cucu perempuan yang baru setahun kuliah, yang sedang asyik main Facebook langsung menyahut, “Nenek gitu deh, dikit-dikit bawa Bung Karno. Nenek dulu naksir dia ya?”

Regol Padepokan

Regol padepokan yang terbuat dari bambu itu dibuka. Satu persatu para alumni padepakan kecil itu masuk.

Padepokan itu memang sepi di saat Lebaran. Beberapa hari sebelum Lebaran tiba, Sang Guru meminta para cantrik untuk pulang ke rumah masing-masing. Paling yang tersisa hanya beberapa puthut (siswa yang sudah hampir lulus), dan beberapa cantrik yang memang tidak pulang karena piket.

Pagi sampai sore, padepokan sepi. Regol ditutup. Sang Guru tidak menerima tamu baik warga sekitar maupun para alumni. Alasannya, Lebaran paling afdol dipakai untuk acara keluarga dan tetangga. Baru di sore hari, sepembakaran jagung seusai salat Ashar, regol padepokan dari pring gading yang ditata sederhana itu dibuka.

Di pendapa padepokan yang juga sederhana, Sang Guru-lah yang menyalami berkeliling para alumni padepokan itu. Lalu dia duduk bersila di depan para muridnya yang sudah turun gunung tersebut, untuk menanyakan kabar masing-masing orang, dan kemudian saling bawarasa tentang berbagai persoalan kehidupan.

Terakhir, sebelum buyar–karena di luar padepokan sudah mengantre para warga–Sang Guru memberi tausiah ringkas dan padat.

“Salah satu persoalan terbesar kita sebagai manusia itu tentu saja kesombongan. Terutama kita yang merasa punya ilmu ini, orang-orang yang bergelut dengan kewaskitaan, orang-orang yang senantiasa merasa dekat dengan persoalan spiritual…

“Salah satu jenis belenggu yang berbahaya itu adalah salah meletakkan maqam. Keliru menyematkan derajat religiusitas dan tingkat kedekatan kita kepada Tuhan…

“Misalnya kita tahu bahwa puncak puasa adalah amalan tentang “makan ketika lapar, dan berhenti makan sebelum kenyang”, juga “tidak diperkenankan makan sebelum yakin tidak ada yang lapar di sekitar kita”. Kita merasa di level maqam itu. Di puncak tertingginya. Tapi dalam kenyataannya, para tetangganya tidak dicek apakah benar-benar sedang kelaparan atau tidak… Masih makan karena sedang menyukai jenis makanan tertentu. Karena kareman. Bukan karena lapar…

“Dan karena merasa berada di maqam itu maka kita sinis terhadap mereka yang melakukan puasa Senin-Kamis, menyepelekan orang-orang yang melakukan puasa Daud, dan nyinyir terhadap orang-orang yang sedang mutih, ngrowot, patigeni dll… Seakan mereka itu segerombolan pemula yang tuna-waskita…

“Belenggu keilmuan yang sok tahu, dan suasana spiritual yang sok dekat dengan Tuhan inilah yang memerangkap kita dalam jeratan kesombongan paling berbahaya. Orang alim yang sombong, lebih berbahaya dari harimau yang lapar di kandang kambing.”

Sang Guru kemudian mengangkat tangannya. Berdoa. Doa yang juga ringkas. Lalu dia berdiri. Keluar dari pendapa. Kemudian satu persatu muridnya keluar dari pendapa. Menyalami guru mereka. Lalu mereka meninggakan padepokan, kembali ke kampung masing-masing.

Sang Guru kemudian bersiap menyambut para warga sekitar padepokan yang sudah mengular.

Ibadah sebagai Selingan

Seorang guru memanggil murid kinasihnya yang baru saja lulus, untuk memberi wejangan terakhir.

“Muridku, di luar sana, di dunia yang pikuk, menjalankan salat 5 waktu dan ibadah lain, kadang tidak ada hubungannya dengan tabiat orang…

“Padahal mestinya, makin rajin beribadah, makin lembut perasaannya, makin teduh mukanya, makin jembar hatinya…

“Kamu tahu kenapa?”

Sang Murid sedikit menegakkan kepalanya, lalu dengan hati-hati dia menjawab, “Kurang ilmu dan kurang khusyuk, Guru…”

“Benar. Tapi bisakah kamu memberiku penjelasan yang lebih gamblang?”

Sang Murid terdiam. Karena dibiasakan untuk berterus terang, akhirnya dia memilih menggelengkan kepala.

“Karena beribadah dianggap sebagai selingan, Nak. Orang-orang bekerja, lalu saat Dhuhur tiba, dia salat. Lima menit. Ingat Tuhan. Kerja lagi. Saat Ashar tiba, dia salat lagi. Ingat Tuhan lagi. Lima menit lagi. Sesaat sesudah tiba di rumah, bedug Magrib mengalun, dia salat lagi. Ingat Tuhan lagi. Lima menit lagi. Begitu seterusnya…”

Sang Murid tercenung.

“Sementara di sini, kita dibiasakan menghabiskan waktu untuk menunggu dari waktu salat satu ke waktu salat yang lain. Di sini kita terbiasa menahan rindu untuk bersujud. Sehingga waktu antara itu semua, kita pakai untuk bekerja sebagai bagian tak terpisahkan dari kerinduan kita akan sujud. Kita bertani di pagi hari karena kita rindu sujud di kala Dhuhur. Kita mengaji di sore hari karena kita rindu sujud di saat Magrib. Bekerja itulah selingan kita. Bukan beribadah. Mencari rezeki itulah selingan kita. Sebab intinya adalah sujud dan syukur…”

Guru…” air mata Sang Murid mulai menggenang. “Bolehkah saya tinggal di sini lebih lama?”

“Tidak, muridku… Sebab Muhammad pun kembali ke bumi. Bima pun keluar dari diri Bima Ruci. Hidup harus dihadapi.”

Sang Murid kemudian pamit undur diri. “Ingat, muridku… Kegiatan yang lain hanyalah selingan belaka. Jangan ikut yang terbolak-balik. Ibadah dijadikan selingan. Ini berat. Tapi begitulah adanya.”

Sang Murid mengangguk.

Para Pembual

Ketika jenazah anaknya yang masih belia hendak diberangkatkan ke kuburan, Sang Ibu mendekati kotak sumbangan yang berisi penuh uang. Dengan suara parau, dan airmata yang sudah hampir asat, dia bicara kepada orang-orang yang datang: para tetangga dan kerabat.

“Bapak-bapak dan ibu-ibu, uang ini banyak sekali bagi saya. Seandainya saja uang ini ada ketika anak saya masih di rumahsakit, mungkin akan menyelamatkan nyawa anak saya. Kini, uang ini tidak ada gunanya buat saya…”

Ibu itu terpaksa membawa pulang anaknya karena tidak lagi punya biaya. Tidak lama kemudian, Si Anak meninggal dunia.

Cuplikan kisah di atas, bukan rekaan saya. Sekalipun lebih dari 10 tahun lalu, saya masih bisa mengingat dengan baik kisah yang diceritakan oleh seorang peneliti kesehatan masyarakat di sebuah diskusi terbatas hasil penelitian tentang kesehatan dan daya dukung masyarakat. Kisah itu, malam ini, bangkit lagi di kepala saya.

Saya, juga mungkin Anda, terkadang lupa sesuatu kehilangan nilai pentingnya karena lewatnya momentum. Di kehidupan sehari-hari, sekalipun tidak sedramatis kisah di atas, sering kita jumpai hal seperti ini. Sialnya, lebih sering kita ini, sudah tak melakukan apa-apa tapi kerap memberi beban pascakejadian.

Usaha teman sedang bangkrut, dia mau menjual asetnya, kita tidak bisa menolong, begitu asetnya terjual dengan harga murah, kita datang lalu bilang, “Asetmu terlalu murah kamu jual.”

Kawan yang sedang butuh uang untuk biaya sekolah anaknya, dia mau menjual sepeda motornya, kita tidak mau membeli, tapi ketika motor tersebut laku, kita berkata, “Sayang sekali, harga motormu sebetulnya di atas itu.”

Saya kira para pembual lebih mulia dibanding para pengobral kata-kata semacam itu: ada liur cuka di mulut mereka yang gemar mengucuri luka

Kisah Rio

Sambil metengkrang, salah satu laki-laki yang paling menyebalkan di bumi Mentaram ini ndudut udud saya di atas meja. Dan tanpa minta izin, dia menyeruput kopi saya.

“Jadi gini, Mas… saya mampir ke sini ini bukan tanpa alasan. Saya merasa diperintah oleh Gusti Allah untuk mengunjungi Sampeyan…” Tanpa saya tanya, Rio langsung ngecuprus, bahkan tanpa melepas topinya yang itu-itu saja.

“Di tengah jalan, saya mampir Alfamart untuk beli rokok. Di sana, saya menyaksikan seorang ibu sedang membujuk anak perempuannya yang merajuk…”

Di luar hujan turun. Azan Isya terdengar.

“Perempuan kecil itu mungkin usianya baru 5 tahun.” Saya langsung teringat Kali, anak laki-laki saya yang berusia 4,5 tahun.

“Anak itu menangis minta dibelikan es krim. Sementara ibunya bilang kalau dia tak punya uang. Si Ibu hanya punya uang untuk membeli mi instan 3 biji, untuk makan malam keluarga mereka. Saya penasaran. Kasihan kan, Mas? Saya mendekati mereka berdua sambil mencuri dengar. Dari sana saya tahu kalau bapak si anak ini adalah kuli bangunan…”

Hujan di luar makin menderas. Saya mulai mendengarkan kisah itu dengan khusyuk.

“Akhirnya saya putuskan untuk mendekati mereka berdua. Lalu saya tanya, es krim mana yang mau dibeli? Si Anak kemudian menunjukkan es krim di sebuah kotak penyimpanan. Saya mengambil satu, sambil bilang kepadanya akan saya bayar dulu di kasir. Ibu anak itu terharu. Sampai menitikkan airmata…

“Balik dari kasir, saya jongkok. Saya buka bungkus es krim itu. Begitu Si Anak siap menerima es krim itu… Hap! Langsung es krim itu saya makan! Saya makan dengan lahap!”

Saya tertegun mendengar cerita itu.

“Mas tahu wajah mereka berdua? Lucuuuu! Sumpah lucu. Saya habiskan es krim itu, dan saya pergi. Semua orang melihat ke arah saya. Tapi saya cuek.”

Saya tercekat mendengar kisah itu.

“Mereka harus tahu bahwa di dunia ini, banyak orang kejam sepertiku. Bahkan lebih kejam lagi juga banyak!” Dia tertawa terbahak-bahak.

Saya tersenyum kecut. Kemudian pergi ke dapur, mengambil air minum. Setelah kembali duduk, laki-laki yang dikenal sebagai dosen universitas terbesar di Yogya ini masih cekikikan.

Hujan reda. Tidak lama kemudian dia pamitan pulang.

“Kok cepat pulang?” tanya saya dengan nada ampang.

“Saya ingin membagikan kisah lucu ini kepada teman-teman sambil gitaran.” Lalu dia pergi, balik sebentar, mengambil kotak rokok saya. “Ini untukku ya, Mas.” ujarnya sambil memasukkan bungkus rokok saya ke dalam saku jaketnya.

Saya mengantarnya ke pagar. Tiba-tiba dia kaget. “Wah, ban motorku gembos…”

Saya melihat ke arah ban sepeda motornya. Roda bagian belakangnya kempes. “Di dekat sini ada tukang tambal ban.” Lalu saya menunjukkan arah tukang tambal ban.

Rio menuntun sepeda motornya, mengikuti petunjuk yang saya berikan. Saya masuk ke dalam rumah. Hujan turun lebat. Saya pergi ke dapur, menutup pintu samping, sambil melirik pisau yang tadi saya pakai untuk menusuk ban sepeda motor Rio ketika saya pamit mengambil air minum.

Saya kembali ke ruang depan. Hape saya berdering terus. Telepon dari Rio. Saya biarkan. Saya membatin, dia cari seminggu pun tukang tambal ban yang sesuai arahan saya tak ada. Jalan yang kutunjukkan adalah jalan menuju makam desa.

Saya menyeruput kopi sambil membayangkan Rio ndepipis kehujanan di dekat kuburan, saat hujan turun deras, hampir jam sembilan malam.

Biduan

Usai menunaikan ibadah salat Magrib di perjalanan, Kiai Markaban yang didampingi seorang santrinya dan seorang sopir, melanjutkan perjalanan. Baru sekira 3 kilometer, mobil mereka dicegat oleh dua orang perempuan dan seorang laki-laki yang tampaknya mobil mereka tengah mengalami kerusakan.

Kiai Markaban meminta santrinya untuk turun dan menanyakan keperluan rombongan kecil itu. Ketika balik lagi ke mobil, Si Santri berkata kalau yang mencegat adalah seorang biduan dangdut yang hendak pentas. Mobil mereka macet. Mereka minta tumpangan.

Kiai Markaban mempersilakan. Dua perempuan itu masuk ke mobil, sementara mobil dan sopir biduan itu ditinggal. Setelah setengah jam menembus hutan jati, sampailah mobil itu ke sebuah pertigaan. Ternyata Sang Biduan hendak pentas di sebuah desa yang arahnya ke kiri. Sementara Kiai Markaban mesti ceramah di desa yang arahnya ke sebelah kanan. Kedua orang itu sebetulnya sudah memutuskan untuk naik ojek menuju ke lokasi pentas. Tapi mendadak hujan turun. Akhirnya Kiai Markaban memutuskan, mobil berbelok ke kiri dulu, mengantarkan Sang Biduan. Setelah usai mengantarkan Sang Biduan, rombongan Kiai Markaban putar haluan menuju ke tempat ceramah.

Setelah sampai lokasi pengajian, duduk sebentar, Kiai Markaban langsung diminta untuk naik di atas mimbar. Di dalam ceramah yang agak panjang dan mengesankan, Kiai Markaban diberi pesan dari panitia bahwa masjid desa mereka belum selesai dibangun, sehingga masih memerlukan biaya. Panitia menghimbau warga agar makin banyak membantu pembiayaan supaya pembangunan masjid tersebut cepat selesai.

Usai memberikan ceramah, seperti biasa, Kiai Markaban diantar beristiahat sejenak di salah satu rumah seorang tokoh desa. Di tengah suasana yang cukup ramai di rumah tersebut, tiba-tiba orang-orang yang berkumpul di sana, dikagetkan dengan kedatangan Sang Biduan. Perempuan itu menyalami Kiai Markaban untuk mengucapkan terimakasih sekali lagi. Lalu dia meletakkan amplop tebal di atas meja. “Tadi sempat saya dengar, masjid ini masih perlu uang untuk menyelesaikan pembangunan. Kalau diperkenankan, saya ikut menyumbang.” Usai mengatakan seperti itu, biduan itu langsung pamit pulang.

Begitu Biduan tersebut pergi, di luar dugaan Kiai Markaban, beberapa orang saling berbisik. Kemudian salah satu di antaranya berkata, “Pak Kiai dan para sesepuh, barusan beberapa teman mengungkapkan pemikiran mereka…”

Sang Tuan Rumah yang merupakan salah satu sesepuh desa kemudian mempersilakan mereka untuk bicara.

“Menurut kami, sumbangan dari penyanyi dangdut itu sebaiknya tidak diterima.”

Kiai Markaban agak kaget. Tapi dia berusaha mendengarkan.

“Uang itu tentu saja didapat dari bayaran dia menyanyi, dan dari saweran orang. Itu uang yang datang dari tempat maksiat sehingga tidak layak untuk dipakai kebaikan seperti membangun masjid desa kita.”

Orang-orang mengangguk. Banyak yang setuju.

Setelah agak lama, Kiai Markaban mengeluarkan suara. “Boleh saya ikut bicara?”

“O, tentu boleh, Pak Yai…” jawab Sang Tuan Rumah.

“Begini para sedulur semua… Tentu hak Anda semua untuk menerima dan menolak sumbangan. Karena masjid ini berada di desa Anda. Tapi saya punya sedikit ganjalan. Dan saya ingin bertanya…”

Suasana hening. Semua mendengarkan Kiai Markaban.

“Coba saya ingin tahu, siapa di antara Anda yang berkumpul di sini, yang merasa bahwa uang yang Anda dapat lebih halal dibanding biduan itu. Coba angkat tangan…”

Orang-orang menahan nafas. Mereka saling celingukan. Berharap ada orang yang mengangkat tangan. Beberapa orang terlihat saling menyenggol lengan orang lain, seperti memberi dukungan agar orang yang disenggol mengangkat tangannya. Tapi sampai beberapa saat tetap tak ada yang mengangkat tangan.

“Baiklah kalau tidak ada yang mengangkat tangan.” ujar Kiai Markaban. “Kedua, anggaplah ini uang tidak baik ya… Menurut sedulur-sedulur, uang tidak baik berarti tidak boleh untuk kebaikan. Bukan begitu?”

“Betul, Pak Yai!” jawab mereka serempak.

“Berarti kalau begitu hanya boleh untuk ketidakbaikan. Jadi saya minta tolong agar uang ini dibelanjakan arak saja. Lalu dibagi-bagikan kepada mereka yang suka mabuk-mabukan. Atau, ditombokkan togel saja…”

Mendengar itu, seseorang nyeletuk, “Wah, ya jangan gitu, Pak Yai. Kok malah menganjurkan yang tidak baik…”

“Lha kalau uang ini tidak boleh dipakai untuk kebaikan, apa pilihan yang lain? Atau mau dibuang ke sungai? Atau mau dirobek-robek?”

“Ya enggak, Pak Yai…”

“Mau dikembalikan ke biduan tersebut?”

“Mmmm… ya enggak mungkin, Pak Yai…”

“Lha terus uang ini mau diapakan? Ditaruh di atas meja itu selamanya?”

Orang-orang saling berbagi pandang. Tampak kebingungan. Menyaksikan hal itu, Kiai Markaban langsung pamitan pulang.

Amplop tebal dari biduan itu masih tergeletak di atas meja. Puluhan orang yang berkumpul di rumah itu cuma bisa kukur-kukur gundul. Bingung. Tak tahu mau melakukan apa.

Sampai Subuh tiba.

Santri Google, Murid Youtube

Seorang kiai yang dikenal telah melahirkan santri-santri cemerlang, tidak bisa menyimpan rasa resah yang ditahannya selama hampir dua tahun ini. Akhirnya dia memanggil salah satu santri seniornya yang sudah malang melintang di jagat intelektual, dan dikenal sebagai salah satu intelektual muda Islam yang cukup terkenal karena kedalaman ilmunya, dan keluasan cakrawala pengetahuannya.

Begitu Sang Santri menghadap, setelah saling berbagi kabar karena cukup lama tak bertemu, sambil makan lumpia dengan minuman teh nasgitel, Sang Kiai bertanya, “Nak, kenapa kamu dan kawan-kawanmu sering menyebut orang lain yang berbeda pandangan dengan kalian, dengan memberi sebutan mereka sebagai “Santri Google” atau “Murid Youtube”?”

Awalnya, Sang Santri cukup terkejut ditanya seperti itu. Tapi akhirnya dengan gamblang dia menjelaskan, “Pak Yai, mereka itu jenis orang yang ngajinya hanya lewat internet. Cukup menggoogling, atau menonton Youtube. Ilmu mereka tidak bisa dipertanggungjawabkan. Ngaji seminggu lewat internet saja kemlinthinya minta ampun…”

“Lho, apa yang salah dengan mencari ilmu lewat internet?” tanya Sang Kiai dengan nada sabar.

“Internet itu kan sumbernya gak jelas. Susah dipertanggungjawabkan.” jawab Sang Santri.

“Kan di internet ada juga sumber-sumber yang jelas. Banyak kiai-kiai besar yang ceramah mereka diunggah di Youtube. Ada kitab-kitab bagus yang tersimpan di dunia maya…”

“Ya, tapi kan mereka mengaji tidak sistematis. Tidak dari dasar. Tidak terstruktur. Tidak seperti kita di pondok pesantren yang butuh waktu sangat lama untuk belajar ilmu agama.”

“Siapa yang mengharuskan seperti itu?”

“Maksud Pak Yai?”

“Siapa yang mengharuskan orang mencari ilmu, harus di pesantren, dan lama?”

“Lho bukannya memang begitu, Pak Yai?”

“Ilmu bisa datang dari mana saja. Pelajaran bisa muncul dari mana saja. Bahkan bisa dari pepohonan, hewan, alam, termasuk internet.”

“Tapi mereka gemar mengkafir-kafirkan orang lain, dan kalau diajak berdebat maunya menang sendiri. Dalil-dalil yang dipakai juga tidak jelas.”

“Apakah semua begitu?”

“Ya tidak, Pak Yai…”

“Kalau tidak, kenapa kamu menyebut mereka semua seakan sama? Seakan kalau belajar lewat internet itu keliru, lewat Youtube itu salah?”

Si Santri diam sejenak. Sedang berusaha memikirkan jawaban. Tapi Sang Kiai melanjutkan omongannya. “Dan sejak kapan seorang santri diajari untuk merasa begitu tinggi ilmunya hanya karena belajar lebih lama? Kalau Tuhan mau, beliau bisa turunkan ilmu apa saja kepada siapa saja, dalam waktu yang sangat singkat. Bahkan kalau perlu tidak perlu belajar. Suka-suka Tuhan.”

“Tapi mereka sombong sekali, Pak Yai…” suara Si Santri agak lirih.

“Bukankah kamu diam-diam juga sombong dengan memberi cap seperti itu kepada mereka?”

Si Santri diam lagi. Kemudian di berkata, “Jumlah mereka makin banyak dan suka mengkafir-kafirkan orang lain, Pak Yai.”

“Bukankah orang yang suka mengkafir-kafirkan orang lain juga banyak yang dari pondok pesantren, bahkan kemudian kuliah di universitas-universitas Islam yang sangat terkenal di penjuru dunia?”

“Iya juga sih, Pak Yai…”

“Terus kalau google, Youtube, dan medsos tidak boleh dipakai sebagai media mencari ilmu, bukankah isinya malah makin banyak hal buruk?”

Si Santri diam. Sebetulnya dia masih ingin membantah. Tapi dia mulai kehabisan kata-kata.

“Nak, orang seperti aku ini juga selalu butuh mencari ilmu. Karena merasa kurang terus. Merasa bodoh terus….

“Kadang aku sowan ke kiai-kiai yang lebih sepuh dan senior untuk mengaji. Kadang aku bertanya ke pedagang dan petani. Kadang juga aku bertanya ke santri-santriku sendiri. Tidak semua hal aku dalami dan aku mengerti…

“Dan aku sering bertanya juga ke Google, termasuk sering mengaji lewat Youtube. Mengaji lewat Youtube itu ada bagusnya. Bisa diulang berkali-kali sampai kita paham. Satu tema bisa kita cari dari berbagai versi para ulama…

“Jadi berhentilah menyalahkan alat dan cara mencari ilmu. Kalau ada hal yang kurang baik di diri mereka, persoalannya bukan karena Google, Youtube, atau media sosial. Persoalannya ada pada mental mereka.”

Si Santri tambah diam. Kali ini dia mulai kehabisan argumen.

“Setelah kamu tahu aku juga sering ngaji lewat internet, kamu terus mau memanggil aku: Kiai Google?” tanya Sang Kiai sambil mengulum senyum.

“Ya tidak, Pak Yai…”

“Ya sudah. Sekarang kita makan dulu. Aku masak sayur ikan kepala manyung dengan sambal terasi kesukaanmu…”

Mereka kemudian makan lahap sekali. Usai makan, Si Santri mengunggah foto dirinya yang sedang makan bersama Sang Kiai di dinding Facebooknya.

Sang Kiai hanya tersenyum.

Mudah

Kiai Pantura yang makin sepuh wajahnya makin bersinar dan teduh itu agak heran. Sudah beberapa hari ini, di depan rumahnya, di luar pagar, ada sosok tua yang celingukan. Namun setiap kali Kiai Pantura itu berusaha mendekati, orang tersebut dengan cepat pergi.

Sore ini, Sang Kiai tak mau kalah gesit. Dia menyelinap terlebih dahulu keluar dari dalam rumahnya, amping-amping dekat pagar, dan begitu orang yang ditunggunya tiba, langsung dicilukba.

Sosok yang terpergok itu langsung gedandapan. Kaget bukan kepalang. Sadar hal itu tidak baik, segera tangan Sang Kiai menggamit lengan laki-laki itu. “Mari masuk rumah saya, Kisanak…”

Walaupun dengan agak ragu, sosok itu masuk. Lalu mereka duduk berhadap-hadapan di atas tikar, di dalam rumah Sang Kiai yang adem. Setelah menawari minum, Sang Kiai bertanya dengan suara yang sareh. Sabar dan ramah. “Kisanak ini sebetulnya ada apa? Kok sudah berhari-hari gelibetan di depan rumah saya, kalau saya datangi, malah pergi…”

Orang yang ditanya, dari wajahnya mungkin seumuran dengan Sang Kiai: 70 tahun lewat sedikit. Dengan ragu, orang itu berkata, “Pak Yai, saya itu sebetulnya mau belajar salat…”

Mendengar itu, Sang Kiai hendak langsung menjawab. Tapi diurungkan. Sebab terlihat kalimat sosok sepuh di hadapannya belum rampung bicara.

“Saya datang ke beberapa orang, minta diajari salat… Tapi kok susah sekali. Umur saya ini sudah 70 tahun lebih. Baru mau belajar salat. Jangankan mengapal bacaan, urut-urutan wudu saja saya sering lupa…

“Belum lagi gerakan-gerakan salat. Membunguk harus begini, sujud harus begitu, duduk di antara dua sujud harus begini, duduk tahiyat awal dan tahiyat akhir harus begitu, dan seterusnya…

“Kalau harus menghapalkan doa sepanjang dan sebanyak itu ya berat, Pak Yai. Belum lagi gerakan-gerakannya untuk balung tua kayak saya ini…”

Sang Kiai diam. Tapi tetap dengan wajahnya yang sumeh. Selalu tersungging senyum di bibirnya. “Lha maksud Kisanak, bagaimana?”

“Anu Pak Yai, kalau saya belajar sama mereka salah terus. Saya makin tegang, makin takut salah, malah tambah sering salah…”

“Terus?”

“Mmm… Bisa gak Pak Yai mengajari saya salat yang mudah?”

“Bisa.”

“Bagaimana itu, Pak Yai? Saya hanya hapal Alfatihah saja…”

“Lha itu sudah cukup.”

“Bacaan-bacaan yang lain?”

“Sampeyan bisa gak?”

“Tidak bisa, Pak Yai.”

“Ya kalau tidak bisa, tidak usah.”

“Boleh begitu?”

“Boleh.”

“Masak sih, Pak Yai?”

“Lho Sampeyan ini memanggil saya Pak Yai, bertanya kepada saya, saya jawab, kok malah masih tanya: Masak Pak Yai. Gimana sih…”

Sosok di depan Sang Kiai tersenyum malu. Lalu dia berkata, “Kok mudah ya, Pak Yai…”

“Mau lebih mudah lagi dan lebih baik?”

“Ada yang lebih mudah tapi sekaligus lebih baik?”

“Ada.”

“Bagaimana itu, Pak Yai?”

“Setiap kali tiba waktu salat, Sampeyan datang saja ke masjid. Sampeyan tinggal datang, berdiri di belakang imam, ikuti semua gerakannya. Beres.”

“Wah kok mudah, Pak Yai…”

“Ya memang mudah.”

“Kalau belajar di tempat lain kok bisa jauh lebih susah?”

“Sudah, tidak perlu membicarakan orang lain. Yang paling penting sekarang sudah tahu cara salat yang mudah kan?”

Laki-laki tua itu mengangguk. Mereka bersalaman. Sebelum laki-laki tua itu mencium tangan Pak Kiai, Pak Kiai mendahului mencium tangan tamunya.